Brian Madjo Pecahkan Dua Rekor di Final Piala Super Eropa 2026, Sempat Beraksi di GBK

Aston Villa kalah 1-2 dari PSG di Piala Super Eropa 2026, tapi striker 17 tahun Brian Madjo memecah dua rekor dan mencetak gol pada debut resmi.

BolaCom | ThomasDiterbitkan 13 Agustus 2026, 06:05 WIB
Brian Madjo merayakan gol saat Aston Villa melawan PSG di Piala Super Eropa 2026 (AFP)

Bola.com, Jakarta - Piala Super Eropa 2026 berakhir pahit untuk Aston Villa. Anak asuh Unai Emery kalah 1-2 dari Paris Saint-Germain pada Kamis (13/8/2026) dini hari WIB, tetapi sorotan besar jatuh pada penyerang 17 tahun mereka, Brian Madjo.

Di Salzburg, Jerman, Madjo tampil berani pada laga yang juga menandai debut resminya bersama Villa. Bukan sekadar tampil, pemuda 17 tahun itu menorehkan dua rekor sekaligus di partai kontra PSG.

Advertisement

Diturunkan sebagai starter, Madjo menjadi pemain termuda yang main sejak menit pertama di final Piala Super Eropa. Ia bahkan sempat memiliki tiga peluang sebelum benar-benar menjebol gawang PSG di penghujung babak pertama untuk menyamakan skor 1-1.

Berpostur 193 cm, Madjo memperdaya kiper PSG Matvéi Safónov melalui tendangan voli first time usai menerima umpan dari kapten Villa, John McGinn. Sentuhan klinis pada momen itu mengantar namanya ke buku rekor.


Rekor Termuda di Final Piala Super Eropa 2026

Gol ke gawang PSG menjadikan Brian Madjo sebagai pencetak gol termuda di final Piala Super Eropa. Penyerang berdarah Kamerun tersebut berusia 17 tahun dan 212 hari saat melakukannya.

Catatan tersebut mematahkan rekor Jimmy Greaves yang bertahan selama 68 tahun. Greaves sebelumnya mencetak gol pada usia 18 tahun 13 hari saat Piala Super Eropa masih bernama Piala Fairs di tahun 1958.

Selain status top scorer termuda di laga puncak ajang ini, Madjo juga mengunci predikat sebagai pemain termuda yang tampil sebagai starter di final Piala Super Eropa. Dua capaian hadir tepat pada kesempatan pertamanya turun di pertandingan resmi bersama Aston Villa.


Jejak dari GBK dan Peran di Skuad Aston Villa

Pemain Aston Villa, Brian Madjo (kiri), berebut bola dengan pemain PSG, Willian Pacho, dalam pertandingan UEFA Super Cup di Salzburg, Austria, Kamis (13/8/2026). (AP Photo/Heinz-Peter Bader)

Nama Brian Madjo mulai mencuat pada akhir Juli lalu di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK). Saat itu, ia mencetak gol ketiga Aston Villa ke gawang Indonesia All-Stars dalam rangkaian tur pramusim klub.

Unai Emery menyiapkan Madjo sebagai pelapis bagi Tammy Abraham. Eks pemain Chelsea itu masih belum terlalu bugar dan bahkan absen saat Villa tampil di GBK pada tur pramusim tersebut.

Di final Piala Super Eropa 2026, Abraham baru dimainkan pada paruh kedua untuk menggantikan Madjo. Keputusan itu menegaskan peran sang remaja sebagai opsi lini depan yang siap menjawab kebutuhan tim ketika Abraham belum sepenuhnya siap.


Respons dan Apresiasi untuk Brian Madjo

Pujian untuk Brian Madjo langsung mengalir setelah penampilannya menghadapi PSG. Legenda Aston Villa, Gabriel Agbonlahor, menyoroti kemunculan sang penyerang muda di panggung besar Eropa.

"Orang-orang akan mengingat gol itu. Itu wajar. Seorang pemain berusia 17 tahun mencetak gol di final Piala Super dan menjadi pencetak gol termuda sepanjang sejarah—tentu saja hal itu menjadi sorotan utama. Namun, jika Anda benar-benar mencermati jalannya pertandingan selama 90 menit dari sudut pandang taktis, topik yang lebih menarik untuk dibahas adalah penempatannya sebagai penyerang tunggal. Penyelesaian akhir pada gol tersebut menunjukkan ketenangan," tutur Agbonlahor.

Pernyataan Agbonlahor menegaskan bahwa kontribusi Madjo tidak berhenti pada gol. Cara ia mengisi pos penyerang tunggal sejak menit awal menjadi bagian penting dari cerita debut resminya bersama Aston Villa di final melawan kampiun Liga Champions tersebut.

Berita Terkait