5 Pemain Top dengan Kelakuan Tak Profesional, dari Mangkir Latihan hingga Main Judi

Berikut lima pemain yang terkenal dengan sikap tak profesional selama berkarier.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 29 Agustus 2026, 08:00 WIB
Ilustrasi Paul Gascoigne, Eden Hazard. (Bola.com/AI)

Bola.com, Jakarta - Para pesepak bola dan pelatih kerap menempatkan profesionalisme sebagai satu di antara aspek penting dalam olahraga ini.

Seorang pemain tidak cukup hanya memiliki bakat yang membedakannya dari kebanyakan pesaing, tetapi juga harus mempunyai sikap yang tepat, serta persiapan mental dan fisik agar selalu siap tampil maksimal.

Advertisement

Pola pikir tersebut sangat penting bagi atlet yang berkompetisi di level tertinggi.

Namun, sepanjang sejarah sepak bola, banyak pemain yang justru gagal menunjukkan sikap profesional dalam menjalani karier mereka. Beberapa di antaranya bahkan dikenal sebagai kebalikan dari sosok pesepak bola profesional.

Berikut lima pemain yang dianggap paling tidak profesional dalam sejarah sepak bola versi Give Me Sport.


5. Ross McCormack (Skotlandia)

Pemain depan Leeds United dari Skotlandia, Ross McCormack, merayakan setelah mencetak gol dalam pertandingan Piala FA antara Leeds United dan Tottenham Hotspur di stadion Elland road di Leeds, Inggris utara pada 27 Januari 2013. Leeds menang 2-1. (FOTO AFP/ANDREW YATES)

Ross McCormack pernah mencetak total 100 gol bersama Leeds United dan Fulham. Catatan tersebut membuat Aston Villa bersedia mengeluarkan 12 juta paun untuk memboyong striker asal Skotlandia itu pada 2016.

Sebelum bergabung dengan Aston Villa, McCormack mencetak 21 gol untuk Fulham di Championship.

Namun, performanya setelah kembali ke Villa jauh dari mengesankan. Ia hanya mampu membukukan tiga gol dalam 20 penampilan di liga.

Bukan catatan gol tersebut yang kemudian paling diingat dari McCormack selama berada di Villa Park.

Ia pernah absen dalam sesi latihan karena gerbang listrik di rumahnya mengalami kerusakan sehingga tidak bisa keluar.

McCormack kemudian menceritakan kejadian tersebut.

"Saya menelepon dan berkata, 'Dengar, saya akan datang, tetapi saya mungkin sedikit lebih terlambat dari biasanya.' Dia hanya meminta saya terus memberi kabar. Saya mengira seseorang akan datang dan membukakan jalan keluar dengan cepat, tetapi mereka terlambat datang. Akhirnya, sekitar pukul 10.20, saya menyadari tidak akan bisa tiba tepat waktu. Manajer benar-benar murka."


4. Paul Gascoigne (Inggris)

Foto gelandang Timnas Inggris Paul Gascoigne di Piala Dunia 1990. Inggris pernah gagal tampil di Piala Dunia 1994. (AFP / STAFF)

Paul Gascoigne dikenal sebagai pemain yang mampu menghibur ketika berada dalam kondisi bugar dan tampil dalam performa terbaik.

Pada awal 1990-an, ia bahkan sempat terlihat sulit dihentikan dan menjadi satu di antara pemain paling kreatif dalam sepak bola Inggris.

Namun, perilakunya juga kerap dianggap tidak profesional.

Salah satu contoh yang relatif ringan terjadi ketika Gascoigne ketahuan bermain tenis pada pukul 01.00, tepat pada hari ketika Inggris akan menghadapi Jerman di semifinal Piala Dunia.

Bagi Gascoigne, periode tersebut tetap menjadi satu di antara masa yang paling berkesan dalam hidupnya.

"Ketika melihat cuplikan Italia 90, saya merasa senang, lalu langsung sedih. Itu adalah masa terbaik dalam hidup saya. Saya menyukainya, saya menyukainya sejak pertama kali naik pesawat. Tidak ada yang membuat saya gentar. Saya ingin berada di Piala Dunia, impian setiap pemain. Tetapi, rasanya seperti sedang pergi berlibur, saya bermain tenis, tenis meja. Saya menikmati setiap menitnya."


3. Eden Hazard (Belgia)

Eden Hazard. Pemain sayap Real Madrid berusia 31 tahun yang telah 3 musim memperkuat Los Blancos sejak 2019/2020 ini belum tampil sesuai ekspektasi karena sering dilanda cedera. Chelsea sebagai klub lamanya kabarnya bersedia menampung sebagai pemain pinjaman musim depan. (AFP/Pierre-Philippe Marcou)

Eden Hazard tampil luar biasa selama membela Chelsea. Performa yang ditunjukkannya di Stamford Bridge bahkan membuatnya dinilai sebagai satu di antara penggiring bola terbaik sepanjang masa.

Kepindahan Hazard ke Real Madrid kemudian tidak berjalan sesuai harapan. Ia hanya mencetak tujuh gol dalam 76 pertandingan dan pada akhirnya gagal memenuhi ekspektasi di Santiago Bernabeu.

Jose Mourinho pernah menyoroti sisi profesionalisme Hazard ketika masih menjadi pemain Chelsea. Mantan manajer Hazard itu menggambarkannya dengan singkat:

"Pemain luar biasa dengan latihan yang buruk."

Mourinho menilai Hazard sebenarnya masih bisa mencapai level yang lebih tinggi jika memberikan usaha yang lebih besar dalam sesi latihan.


2. Amr Zaki (Mesir)

2. Amr Zaki, pada enam laga pertamanya bersama Wigan, striker Mesir ini berhasil mencetak lima gol, termasuk sebuah gol indah ke gawang Liverpool di Anfield. Tapi perlahan penampilannya menurun dan gagal mendapatkan tempat utama. (AFP/Paul Ellis)

Amr Zaki memperkuat Wigan Athletic dengan status pinjaman ketika klub tersebut masih berkompetisi di Premier League. Steve Bruce yang saat itu menjadi manajer Wigan mengharapkan gol dari striker Mesir tersebut.

Zaki mampu memenuhi sebagian harapan itu dengan mencetak 11 gol dalam 32 penampilan. Namun, Bruce tetap tidak puas dengan sikap profesional sang striker.

"Saya merasa sudah waktunya kami mengungkapkan kepada publik betapa sulitnya menghadapi dia. Saya benar-benar bisa mengatakan bahwa sepanjang karier saya di sepak bola, saya belum pernah bekerja dengan seseorang yang tidak profesional seperti dia."

Pernyataan tersebut disampaikan Bruce setelah Zaki untuk keempat kalinya kembali terlambat dari tugas bersama timnas.

Meski begitu, Zaki tidak menyimpan kemarahan kepada mantan manajernya. Ia mengatakan akan memeluk Bruce jika keduanya kembali bertemu.


1. Stan Bowles (Inggris)

Stan Bowles, penyerang asal Inggris pernah main di Manchester City, Queen Park Rangers, Nottingham Forest, hingga Brentford pada akhir 60an-awal 80an. Bowles meninggal dunia pada 24 Febuari 2024. (Dok.mancity.com)

Stan Bowles tetap dikenang sebagai pemain terbaik sepanjang sejarah Queens Park Rangers. Ia juga dikenal sebagai sosok yang memiliki karakter berbeda dari kebanyakan pemain.

Hanya beberapa hari setelah QPR menjuarai FA Cup 1973, Bowles tampil dalam pertandingan tandang melawan Sunderland. Trofi Piala FA saat itu dipajang di atas meja di sisi lapangan agar bisa dilihat para suporter.

Saat pemanasan, Bowles bertaruh dengan seorang rekan setim bahwa dirinya mampu mengenai trofi tersebut menggunakan bola.

"Saya langsung berlari melintasi lapangan dan kemudian, bang! Trofi Piala Fa itu melayang ke udara. Saya yakin trofinya sampai penyok."

Bowles juga memiliki kebiasaan tersendiri ketika bermain di Loftus Road. Ia akan berada di tempat taruhan hingga lewat pukul 14.30 sebelum menuju ruang ganti untuk bersiap menghadapi pertandingan yang dimulai pukul 15.00.

Kebiasaannya itu jelas bukan gambaran seorang pemain yang dikenal sangat profesional. Namun, Bowles tetap merupakan pesepak bola yang luar biasa.

Bowles telah berpulang selamanya pada 24 Februari 2024 dalam usia 75 tahun.

 

Sumber: Give Me Sport

Penulis: Fauzi Ananta Dharmawan

Berita Terkait