Joshua Kushner Sesali Keterlibatannya dalam Rencana Penjualan Saham Piala Dunia yang Jadi Kontroversi

Joshua Kushner mengakui bahwa dirinya “gagal memahami dinamika politik sepak bola global” ketika mendukung rencana kontroversial Presiden FIFA, Gianni Infantino.

BolaCom | Fauzi Ananta DharmawanDiterbitkan 02 September 2026, 18:30 WIB
Josh Kushner, pendiri dan CEO Thrive Capital Management, bersama istrinya yang juga mantan model Angel Victoria Secret, Karlie Kloss, menghadiri konferensi tahunan Allen & Co Sun Valley di Sun Valley, Idaho pada 10 Juli 2024. (KEVORK DJANSEZIAN / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Bola.com, Jakarta - Joshua Kushner, saudara Jared Kushner, yang merupakan menantu Donald Trump, mengungkapkan penyesalannya setelah terlibat dalam rencana kontroversial Presiden FIFAGianni Infantino, untuk menjual sebagian kepemilikan komersial Piala Dunia kepada investor swasta.

Kushner mengakui bahwa dirinya "gagal memahami dinamika politik sepak bola global" ketika mendukung rencana Infantino tersebut.

Advertisement

Ia menyampaikan penyesalan itu untuk pertama kalinya sejak rencana kontroversial tersebut dibatalkan.

Kushner merupakan pendiri sekaligus CEO perusahaan modal ventura Thrive Capital.

Ia sebelumnya melakukan pembicaraan dengan Infantino untuk memimpin investasi senilai 4,2 miliar dolar AS (sekitar Rp74,45 triliun) dalam pembelian 20 persen saham anak perusahaan komersial baru yang diusulkan FIFA, FIFA Forward Enterprise (FFE).

Namun, gagasan tersebut dibatalkan hanya beberapa hari setelah terungkap ke publik dan memicu penolakan besar.


Sesali Keterlibatan

Joshua Kushner, pengusaha dan investor, menghadiri sesi pagi di Konferensi Allen & Company Sun Valley pada 10 Juli 2025 di Sun Valley, Idaho. (Kevin Dietsch/Getty Images melalui AFP)

UEFA kini bahkan bersiap mengajukan pengaduan pidana terhadap Infantino di Swiss atas dugaan "manajemen kriminal".

Rencana penjualan saham yang digagas Infantino runtuh dalam hitungan hari pada bulan lalu setelah UEFA mengancam memboikot Piala Dunia dan kompetisi FIFA lainnya.

Namun, badan sepak bola Eropa itu baru-baru ini membatalkan ancaman boikot setelah menyatakan telah menerima "jaminan" bahwa FIFA tidak akan kembali mencoba menjual sebagian kepemilikan dalam kompetisinya.

Berbicara untuk pertama kalinya sejak situasi tersebut mencuat, Kushner tetap membela gagasan dasar FFE.

Namun, ia mengakui bahwa jika mengetahui sejak awal krisis yang akan ditimbulkan oleh gagasan tersebut, dirinya akan memilih untuk menjauh dari rencana itu.


Penjelasan Kushner

Ilustrasi FIFA. (AFP/Sebastien Bozon)

Dalam sebuah pernyataan, Kushner mengatakan bahwa uang dalam sepak bola secara historis terkonsentrasi di antara sekelompok kecil negara.

"Gagasan di balik FFE adalah menyalurkan lebih banyak modal dan ekuitas secara merata kepada 211 negara anggota sehingga memberikan investasi yang jauh lebih besar kepada negara-negara berkembang untuk mengembangkan talenta lokal, mendukung sepak bola akar rumput, meningkatkan pengalaman penggemar, dan pada akhirnya mengembangkan sepak bola global di seluruh dunia," ujar Kushner.

Kushner menjelaskan, FFE merupakan sebuah gagasan yang akan diputuskan melalui pemungutan suara oleh setiap Asosiasi Anggota, bukan sebuah kewajiban atau keputusan yang bersifat mutlak.

"Meski kami tetap mendukung tujuan FFE, kami gagal memahami dinamika politik sepak bola global dan sejauh mana beberapa pihak akan bertindak," katanya.

"Thrive memiliki rekam jejak panjang sebagai mitra bagi seluruh pihak. Seandainya kami mengetahui bagaimana situasi ini akan berkembang, kami tidak akan terlibat," ujar Kushner.


UEFA Siapkan Langkah Hukum

Foto ini menunjukkan logo UEFA yang ditampilkan pada UEFA Conference League menjelang pengundian babak 16 besar, perempat final, dan semifinal UEFA Conference League 2025/2026 di Gedung Sepak Bola Eropa di Nyon, Swiss bagian barat pada 27 Februari 2026. (Harold CUNNINGHAM/AFP)

Menjelang kemungkinan pengajuan pengaduan pidana terhadap Infantino, UEFA telah meminta pengadilan di New York untuk menyetujui subpoena, yakni surat panggilan hukum untuk memperoleh kesaksian dan dokumen dari Kushner serta Thrive.

Sesaat sebelum membatalkan rencana kontroversial tersebut, FIFA menyatakan bahwa Thrive "diperkirakan akan memimpin kelompok investor yang diusulkan untuk FFE".

FIFA juga mengklaim rencana tersebut akan meningkatkan pendanaan yang didistribusikan kepada setiap asosiasi sepak bola nasional untuk periode 2027-2030, dari 5,9 juta paun menjadi 14,7 juta paun.

Kendati kini mengungkapkan penyesalan atas rencana tersebut, Kushner masih memiliki keterlibatan besar di dunia olahraga.

Ia baru-baru ini menyepakati kesepakatan senilai 12,5 miliar dolar AS (sekitar Rp221,9 triliun) untuk membeli klub NBA nan ikonik, Los Angeles Lakers.

 

Sumber: Independent