Bola.com, Jakarta - Arsenal mengirimkan sinyal kuat dalam perburuan gelar juara Premier League musim ini setelah bangkit dari ketertinggalan dan menang 2-1 atas Chelsea di Emirates Stadium, Minggu (6/9/2026).
The Gunners sempat dikejutkan gol cepat Morgan Rogers pada menit kedua. Namun, Kai Havertz menyamakan kedudukan sebelum Martin Odegaard mencetak gol kemenangan pada babak kedua.
Hasil itu membuat Arsenal mengoleksi sembilan poin dari tiga pertandingan. Menariknya, Arsenal mampu tampil meyakinkan meski pilihan Mikel Arteta di posisi penyerang tengah masih menjadi bahan perdebatan.
Havertz Jadi Pilihan Utama Arteta
Salah satu keputusan menarik Arteta pada awal musim ini adalah memilih antara Havertz dan Viktor Gyokeres sebagai ujung tombak.
Gyokeres sebenarnya lebih sering menjadi starter pada musim lalu, terutama ketika Havertz mengalami sejumlah masalah kebugaran. Namun, situasinya berubah musim ini.
Penyerang asal Swedia itu baru mendapatkan sekitar 12 menit bermain di Premier League.
Arteta tampaknya lebih percaya kepada Havertz untuk menjadi starter sekaligus bermain dalam sebagian besar pertandingan.
Kepercayaan itu bukan tanpa alasan. Arteta memang sudah lama menjadi pengagum pemain asal Jerman itu.
Arsenal bahkan sempat merasakan kehilangan besar ketika Havertz dan Bukayo Saka absen karena cedera musim lalu.
Kini Havertz kembali menjadi pilihan nomor satu. Performa awal musim pun semakin memperkuat keputusan sang manajer.
Arteta mengakui Havertz terlihat jauh lebih nyaman dan percaya diri.
"Dia terlihat bahagia. Dia terlihat nyaman. Dia merasa bugar, berlatih setiap hari, memiliki rutinitas, dan sekarang dia mencetak gol. Bukan hanya itu, dia juga melakukan pekerjaan luar biasa untuk tim," kata Arteta.
Arsenal Tidak Harus Punya Striker Elite untuk Juara
Perdebatan mengenai kualitas striker memang selalu muncul ketika sebuah tim ingin memenangkan Premier League.
Manchester City, misalnya, pernah sangat bergantung kepada Sergio Aguero dan kini memiliki Erling Haaland.
Namun, ada pengecualian. Liverpool berhasil menjadi juara pada 2025 tanpa memiliki penyerang nomor sembilan yang secara umum dianggap sebagai striker elite.
Arsenal pun berpotensi mengikuti pola itu.
Havertz memang sulit dikategorikan sebagai penyerang tengah murni. Sepanjang kariernya, ia juga pernah bermain sebagai gelandang serang dan penyerang.
Namun, Arteta kini menempatkannya sebagai ujung tombak dalam sistem Arsenal.
Kualitas Havertz tidak perlu diragukan. Ia merupakan pemain cerdas, memiliki teknik bagus, mampu menghubungkan permainan, dan bekerja keras tanpa bola.
Meski demikian, jika ukurannya murni kemampuan mencetak gol, Havertz masih berada di bawah sejumlah striker Premier League lainnya.
Haaland hingga Gyokeres Masih di Atas Havertz
Erling Haaland masih menjadi standar tertinggi di antara penyerang Premier League. Striker Manchester City itu telah mencetak 115 gol dalam 135 penampilan di kompetisi kasta tertinggi Inggris.
Di bawah Haaland, persaingannya jauh lebih menarik. Joao Pedro menjadi salah satu pemain yang berkembang pesat bersama Chelsea.
Ia telah mencetak 25 gol dalam 57 penampilan untuk The Blues.
Liverpool juga memiliki dua penyerang yang dinilai lebih tajam dibandingkan Havertz, yakni Alexander Isak dan Hugo Ekitike.
Isak langsung menunjukkan ketajamannya setelah menjalani pramusim penuh. Ia telah mencetak tiga gol dalam tiga pertandingan Premier League musim ini.
Catatan itu melanjutkan performanya bersama Newcastle, ketika ia mencetak 44 gol dalam 64 pertandingan Premier League terakhirnya sebelum pindah ke Liverpool.
Ekitike juga tampil luar biasa pada musim pertamanya di Premier League sebelum mengalami cedera ACL.
Liverpool berharap penyerang Prancis itu bisa kembali dengan ketajaman yang sama setelah mencetak 11 gol dalam 28 pertandingan liga pada musim debutnya.
Bahkan, Viktor Gyokeres masih dianggap memiliki keunggulan sebagai penyerang tengah secara keseluruhan dibandingkan Havertz.
Musim lalu, Gyokeres mencetak 14 gol dalam 36 penampilan Premier League, sebuah catatan yang cukup bagus untuk musim pertamanya di kompetisi Inggris.
Jika mendapat menit bermain lebih banyak, penyerang Swedia itu berpeluang meningkatkan catatan itu.
Kekuatan Arsenal Bukan Hanya di Posisi Striker
Jika Havertz bukan striker terbaik di Premier League, hal itu tidak otomatis menghalangi Arsenal untuk kembali menjadi juara.
Kekuatan utama The Gunners justru terletak pada keseimbangan seluruh tim. Setelah tiga pertandingan, Arsenal baru kebobolan satu gol dan telah mengumpulkan sembilan poin.
Mereka juga mampu menunjukkan karakter berbeda dalam setiap pertandingan.
Arsenal mengawali musim dengan kemenangan meyakinkan atas Coventry City, kemudian meraih kemenangan penting atas Aston Villa sebelum bangkit dari ketertinggalan melawan Chelsea.
Bersama Manchester City, Arsenal menjadi satu-satunya tim yang meraih sembilan poin dari sembilan angka maksimal sejauh ini.
Arteta juga masih memiliki Gyokeres sebagai opsi alternatif apabila membutuhkan karakter penyerang yang berbeda.
Sementara itu, keberadaan pemain seperti Bukayo Saka, Odegaard, dan para gelandang kreatif lainnya membuat Arsenal tidak sepenuhnya bergantung kepada seorang striker untuk mencetak gol.
Dengan pertahanan yang solid, kedalaman skuad, serta Havertz yang sedang berada dalam kondisi terbaiknya, Arsenal memiliki alasan kuat untuk percaya diri.
Haaland mungkin masih menjadi striker terbaik Premier League, sementara Havertz bahkan belum masuk lima besar.
Namun, Arsenal tidak membutuhkan striker terbaik liga untuk kembali menjadi juara, mereka hanya membutuhkan Havertz berada dalam performa terbaiknya dan seluruh sistem Arteta terus bekerja.
Sumber: Give Me Sports