Bagaimana Como Menjelma Jadi Klub Liga Champions: Model Unik, Kekuatan Pemilik Asal Indonesia, dan Sentuhan Fabregas

Como 1907 menjadi salah satu proyek sepak bola paling menarik di Eropa dalam beberapa tahun terakhir

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 15 September 2026, 14:45 WIB
Para pemain Como merayakan gol kedua Como 1907 yang dicetak striker asal Yunani, Anastasios Douvikas, saat menghadapi RB Leipzig pada matchday pertama fase liga Liga Champions 2026/2027 di Stadion Giuseppe Sinigaglia, Como, 10 September 2026. (Piero Cruciatti/AFP)

Bola.com, Jakarta - Como 1907 menjadi salah satu proyek sepak bola paling menarik di Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Klub Italia itu bukan sekadar tim yang kebetulan lolos ke Liga Champions setelah menjalani satu musim luar biasa.

Como sedang membangun fondasi agar bisa menjadi kekuatan yang bertahan lama di panggung sepak bola Eropa.

Advertisement

Dukungan finansial pemilik asal Indonesia, model bisnis yang tidak biasa, visi Presiden Mirwan Suwarso, serta tangan dingin mantan gelandang Arsenal dan Barcelona, Cesc Fabregas, menjadi bagian penting dari kebangkitan Como.

Pada Kamis (10/9/2026), Como menjalani debut resminya di fase liga Liga Champions dengan menjamu RB Leipzig di Stadio Sinigaglia. Mereka sama sekali tidak demam panggung. 

Como tampil percaya diri dan ciamik, dengan melumat RB Leipzig 4-1. Debut yang luar biasa. 

Seperti dikutip CBS Sport, ada satu cerita menarik yang menggambarkan bagaimana klub ini ingin berkembang.

Menjelang pertandingan bersejarah tersebut, Suwarso bersama sejumlah petinggi Como memilih memberikan tiket mereka kepada suporter lanjut usia agar bisa menyaksikan langsung debut klub kesayangannya di Liga Champions.

Dengan kapasitas stadion yang terbatas dan jumlah tiket yang tidak mencukupi, mereka memprioritaskan penggemar yang sudah mengikuti perjalanan Como sejak lama.

"Beberapa eksekutif klub dan saya memutuskan untuk memberikan kursi kami untuk pertandingan ini. Kami ingin kursi tersebut diberikan kepada suporter yang sudah menunggu paling lama, yakni mereka yang lahir pada 1950 atau sebelumnya dan telah mengikuti Como melewati setiap divisi dan era," tulis Suwarso.

Keputusan tersebut menjadi gambaran kecil mengenai identitas Como yang sedang dibangun.

 


Didukung Kekuatan Djarum Group

Pemandangan sunset di markas Como 1907, Stadion Giuseppe Sinigaglia. (Dok X @Como_1907)

Como dimiliki Djarum Group, konglomerasi asal Indonesia yang didirikan Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono. Melalui perusahaan berbasis London, SENT Entertainment, keluarga Hartono mengambil alih Como pada 2019.

Michael Hartono meninggal dunia pada awal 2026. Menurut Forbes, kekayaan gabungan kedua bersaudara tersebut sebelumnya mencapai sekitar 48 miliar dolar AS.

Di Como, Mirwan Suwarso menjadi sosok yang mewakili kepemilikan sekaligus menjalankan klub.

Dalam waktu kurang dari lima tahun setelah akuisisi, Como berhasil promosi ke Serie A. Hanya dua musim setelah naik kasta, mereka sudah mampu mengamankan tiket ke Liga Champions. Perjalanan tersebut tentu tidak datang secara instan.

Como menggelontorkan investasi besar untuk mendatangkan pemain sekaligus melakukan pembenahan Stadio Sinigaglia agar memenuhi standar UEFA.

Namun, kekuatan Como bukan hanya terletak pada besarnya dana yang dimiliki. Mereka juga mempunyai pendekatan bisnis yang berbeda.

 


Model Disney Como

Presiden Como, Mirwan Suwarso. (Como)

Como memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak klub Italia. Kota tersebut berada kurang dari satu jam perjalanan dari Milan dan dikenal berkat keindahan Danau Como. Kawasan ini menjadi salah satu destinasi wisata paling populer di Italia dan kerap dikunjungi selebritas dunia.

George Clooney diketahui memiliki rumah di kawasan tersebut. Jose Mourinho juga pernah tinggal di Como ketika menangani Inter Milan.

Sejak era kepemilikan baru, sejumlah selebritas Hollywood seperti Keira Knightley, Michael Fassbender, Adrien Brody, Hugh Grant, dan Andrew Garfield juga pernah terlihat menyaksikan pertandingan Como di Stadio Sinigaglia.

Namun, daya tarik selebritas tersebut bukan inti dari model bisnis Como. Suwarso menyebut klubnya ingin membangun bisnis seperti Disney.

"Como adalah kota yang sangat kecil. Bagaimana klub dengan stadion hanya berkapasitas 12.000 penonton bisa mempertahankan tim sepak bola yang kompetitif?" kata Suwarso kepada BBC.

"Kami harus mengembangkan sumber pendapatan lain, mulai hospitality, merchandise, hingga retail, sehingga tidak hanya bergantung pada hak siar televisi."

Menurut Suwarso, istilah "Disney" hanyalah sebuah metafora.

Danau Como menjadi semacam "taman hiburan" tempat orang mengenal produk dan merek mereka. Setelah itu, Como mengembangkan berbagai lini bisnis, mulai fashion, retail, merchandise, hingga produk yang berkaitan dengan gaya hidup di sekitar Danau Como.

Model tersebut menjadi semakin masuk akal karena musim terbaik untuk mengunjungi Danau Como justru terjadi pada musim panas, ketika kompetisi sepak bola Italia sedang libur.

Artinya, Como memiliki peluang memperbesar nilai klub di luar pertandingan sepak bola.

 


Cesc Fabregas, Otak di Balik Lapangan

Como 1907 dan Cesc Fabregas setelah memastikant tiket ke Liga Champions 2026/2027. (Dok. X @Como_1907)

Di lapangan, Como juga berkembang pesat. Cesc Fabregas dan Thierry Henry merupakan bagian dari proyek Como sebagai pemegang saham minoritas.

Fabregas bahkan mengakhiri karier bermainnya di klub tersebut setelah memperkuat klub-klub besar seperti Arsenal, Barcelona, dan Chelsea.

Pada musim 2022/2023, mantan pemain Timnas Spanyol itu bergabung dengan Como. Setelah pensiun sebagai pemain profesional, Fabregas menangani tim U-23 sebelum dipercaya memimpin tim utama.

Pada musim pertamanya sebagai caretaker, Fabregas membawa Como promosi ke Serie A. Musim penuh pertamanya sebagai pelatih kemudian berakhir dengan posisi ke-10 Serie A.

Musim keduanya jauh lebih impresif. Fabregas membawa Como finis di posisi keempat dan mengantarkan klub tersebut ke Liga Champions.

Prestasinya tentu membuat sejumlah klub Eropa tertarik. Inter Milan bahkan sempat mencoba merekrutnya pada musim panas 2025 setelah berpisah dengan Simone Inzaghi.

Namun, Fabregas dan Suwarso memilih melanjutkan proyek mereka bersama.

Suwarso sadar suatu saat Fabregas akan meninggalkan Como. Namun, ia yakin warisan sang pelatih akan tetap bertahan.

"Barcelona tetap ada tanpa Cruyff, Milan tanpa Sacchi, Inter tanpa Herrera. Siapa yang bertahan selamanya di sebuah klub? Hanya Ferguson yang mendekati hal itu," ujar Suwarso kepada La Repubblica.

"Cesc membangun sesuatu untuk klub, bukan untuk dirinya sendiri. Jejaknya akan bertahan selamanya."

Menurut Suwarso, ketika waktunya tiba bagi Fabregas untuk pergi, sang pelatih juga harus membantu klub menemukan penerusnya.

Metode dan pemain yang dibawa Fabregas ke Como harus tetap menjadi bagian dari proyek jangka panjang klub.

 


Cara Como Mempertahankan Nico Paz

Selebrasi Nico Paz dalam laga Liga Italia 2025/2026 antara Como vs Inter Milan, Senin (13/4/2026). (Alessio Morgese/LaPresse via AP)

Salah satu contoh paling menarik dari strategi Como terlihat dalam kasus Nico Paz.

Como mendatangkan Paz dari Real Madrid pada 2024 dengan nilai transfer sekitar 6 juta dolar AS. Namun, Madrid tetap mempertahankan sejumlah kendali terhadap pemain Argentina tersebut.

Los Blancos memiliki klausul 50 persen dari penjualan Paz berikutnya. Madrid juga memiliki hak untuk menyamai tawaran klub lain serta hak membeli kembali sang pemain dengan harga yang telah ditentukan.

Pada musim panas 2025, Tottenham datang dengan tawaran sekitar 70 juta euro untuk Paz. Namun, Real Madrid dan Como sepakat menolak proposal tersebut.

Setahun kemudian, Paz seharusnya kembali ke Madrid dan bekerja di bawah asuhan Jose Mourinho.

Namun, sang pemain justru ingin bertahan di Como. Ia ingin melanjutkan perkembangannya sekaligus menjalani debut di Liga Champions bersama klub Italia tersebut.

Setelah melalui sejumlah pembicaraan, Como akhirnya mempermanenkan Paz dengan nilai sekitar 60 juta euro. Real Madrid tetap memiliki hak untuk membelinya kembali pada musim panas 2027 dengan banderol 80 juta euro.

 


Baru Awal dari Proyek Besar

Como 1907 setelah memastikant tiket ke Liga Champions 2026/2027. (Dok. X @Como_1907)

Kisah Nico Paz hanyalah salah satu bagian dari proyek besar Como. Dalam beberapa tahun terakhir, klub tersebut berani mengeluarkan ratusan juta euro untuk mendatangkan talenta-talenta terbaik dari berbagai penjuru dunia.

Penyerang Italia, Moise Kean, menjadi salah satu rekrutan terbaru. Ia didatangkan dari Fiorentina dengan nilai sekitar 45 juta dolar AS dan diproyeksikan menjadi andalan lini depan Como di Serie A maupun Liga Champions.

Namun, yang membuat Como menarik bukan semata-mata uang yang mereka keluarkan.

Mereka memiliki model bisnis berbeda, pendekatan transfer yang unik, stadion dengan daya tarik tersendiri, serta proyek sepak bola yang dibangun untuk jangka panjang.

Dukungan Djarum Group memberikan fondasi finansial. Suwarso membawa visi bisnis. Fabregas membangun identitas sepak bola.

Dan kini, Como sudah berada di Liga Champions. Ini bukan akhir dari perjalanan Como. Justru, semuanya baru dimulai.

Sumber: CBS Sport 

Berita Terkait