Liga Inggris dan Masalah VAR yang Tak Kunjung Selesai

Kesalahan VAR kembali mencuat setelah gol Erling Haaland dalam derby Manchester tetap disahkan meski Enzo Fernandez dinilai memengaruhi permainan dari posisi offside.

BolaCom | Fauzi Ananta DharmawanDiterbitkan 16 September 2026, 05:15 WIB
VAR (Video Assistant Referee) memeriksa kemungkinan adanya handball dalam proses terjadinya gol yang dicetak striker Brasil Manchester United, Matheus Cunha, pada pertandingan Liga Inggris antara Manchester United melawan Nottingham Forest di Old Trafford, Manchester, Inggris barat laut, Minggu (17/5/2026). (Darren Staples / AFP)

Bola.com, Jakarta - Liga Inggris kembali menghadapi persoalan VAR setelah keputusan kontroversial dalam derby Manchester antara Manchester United dan Manchester City. Gol Erling Haaland yang menjadi penentu kemenangan City tetap disahkan meski Enzo Fernandez berada dalam posisi offside saat mencoba menyambut umpan silang Josko Gvardiol.

Fernandez memang tidak menyentuh bola dalam situasi tersebut. Namun, posisinya dinilai berpotensi memengaruhi lawan sehingga seharusnya menjadi pertimbangan dalam menentukan pelanggaran offside. VAR justru tidak merekomendasikan wasit untuk melakukan peninjauan langsung di lapangan.

Advertisement

Keputusan tersebut membuat legenda Manchester United, Gary Neville, ikut kebingungan. Ia bahkan mempertanyakan bagaimana insiden tersebut bisa dinyatakan bukan sebagai pelanggaran offside.

"Saya perlu penjelasan soal aturan offside," ujar Neville.

Beberapa jam setelah pertandingan, Pro Ref mengakui adanya kesalahan penilaian. Mereka menyatakan VAR tidak mengenali kemungkinan dampak posisi Fernandez dan seharusnya merekomendasikan peninjauan langsung kepada wasit.


Kesalahan VAR Terus Berulang

Wasit memberikan penalti lagi kepada FC Twente setelah pemeriksaan VAR (video assistant referee) selama pertandingan Liga Europa UEFA antara Malmoe FF dan FC Twente di Malmoe, pada 23 Januari 2025. (Johan NILSSON/KANTOR BERITA TT/AFP)

Pengakuan tersebut kembali membuka perdebatan mengenai efektivitas VAR di Liga Inggris. Berdasarkan laporan BBC Sport, terdapat 25 kesalahan VAR pada musim lalu menurut penilaian Key Match Incidents (KMI) Panel Liga Inggris.

Jumlah tersebut meningkat dari 18 kesalahan pada musim sebelumnya. Arsenal dan Chelsea menjadi dua klub yang paling banyak mendapatkan keuntungan dari keputusan yang keliru, masing-masing sebanyak tujuh dan delapan kali.

Enam kesalahan lainnya berkaitan dengan kegagalan memberikan kartu merah ketika hukuman tersebut seharusnya diberikan. Perdebatan mengenai keputusan wasit juga muncul dalam derby Manchester ketika Bruno Fernandes dinilai layak mendapat kartu merah setelah terlibat dalam insiden dengan Phil Foden.


Perubahan Belum Menyelesaikan Masalah

Gelandang Manchester City asal Argentina #17, Enzo Fernandezm menembak tetapi gagal mencetak gol selama pertandingan Liga Inggris antara Manchester United dan Manchester City di Old Trafford di Manchester, barat laut Inggris, pada 13 September 2026. (Paul ELLIS/AFP)

Liga Inggris sebenarnya telah beberapa kali melakukan perubahan untuk meningkatkan penggunaan VAR. Teknologi offside semi-otomatis mulai diterapkan pada 2025, sedangkan musim ini keputusan awal wasit di lapangan kembali mendapatkan penekanan lebih besar.

Selain itu, cakupan insiden yang dapat ditinjau VAR juga diperluas. Kartu kuning kedua kini dapat menjadi salah satu situasi yang diperiksa. Namun, berbagai perubahan tersebut belum mampu menghilangkan kesalahan mendasar dalam proses pengambilan keputusan.

Padahal, VAR dibuat untuk membantu wasit menghindari kesalahan besar yang dapat mengubah jalannya pertandingan. Ketika keputusan keliru masih terjadi setelah sebuah insiden ditinjau melalui tayangan ulang, keberadaan teknologi tersebut justru kembali dipertanyakan.

Tekanan terhadap wasit pun semakin besar karena setiap keputusan kontroversial dapat menjadi sorotan utama. Mikel Arteta merasakan hal tersebut ketika Arsenal menang atas Sunderland. Ia tetap mengecam keputusan pemberian penalti kepada Sunderland meski David Raya berhasil menggagalkannya.

"Saya sangat kesal. Ini tidak dapat diterima di level seperti ini. Tidak dapat diterima. Ini bisa mengubah jalannya sebuah musim, bahkan perebutan gelar juara," katanya.

Kesalahan seperti ini bukan perkara kecil karena keputusan wasit dapat memengaruhi perebutan gelar hingga posisi seorang pelatih. Bagi Manchester United, misalnya, hasil tinjauan Pro Ref tidak akan mengubah kenyataan bahwa mereka kehilangan poin dalam derby Manchester.

Kekalahan tersebut membuat MU hanya mengoleksi empat poin dari empat pertandingan dan mulai menimbulkan pertanyaan mengenai posisi Michael Carrick. Sementara itu, insiden Haaland menjadi contoh terbaru bahwa masalah VAR di Liga Inggris masih jauh dari kata selesai.

Manchester United menjadi korban terbaru dari kontroversi tersebut. Namun, dengan melihat banyaknya kesalahan yang terjadi dalam beberapa musim terakhir, mereka kemungkinan bukan klub terakhir yang harus merasakan dampak dari persoalan VAR.

Sumber: Yahoo Sports

Berita Terkait