Real Madrid Punya Masalah Besar di Segi Intensitas Permainan

Real Madrid menghadapi masalah serius dalam lari dan pressing. Statistik La Liga menunjukkan intensitas mereka masih menjadi yang terendah di Spanyol.

BolaCom | Gia Yuda PradanaDiterbitkan 23 September 2026, 07:03 WIB
Penyerang Atletico Madrid Kanada #15, Jonathan David (kanan), mencetak gol kedua timnya melewati kiper Real Madrid Belgia #01, Thibaut Courtois, selama pertandingan liga Spanyol antara Club Atletico de Madrid dan Real Madrid CF di stadion Metropolitano di Madrid pada 20 September 2026. (Thomas COEX/AFP)

Bola.com, Jakarta - Real Madrid belum mampu memperlihatkan perubahan besar sejak Jose Mourinho kembali menangani tim. Selain tertinggal enam poin dari Barcelona di Liga Spanyol, Los Blancos juga masih kesulitan menjaga performa dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya.

Masalah tersebut terlihat dari permainan yang tidak konsisten. Dalam beberapa laga, Real Madrid mampu tampil baik selama satu babak tetapi menurun drastis setelah jeda, sementara pertandingan lainnya justru memperlihatkan minimnya kontribusi di kedua sisi lapangan.

Advertisement

Kondisi itu membuat persoalan fisik dan intensitas menjadi semakin penting. Statistik yang tersedia bahkan memperlihatkan bahwa tim asal ibu kota Spanyol tersebut masih berada di posisi terbawah dalam aspek lari dan pressing.


Statistik Lari Menjadi Alarm

Bek Real Madrid Dean Huijsen melanggar gelandang Atletico Madrid Giuliano Simeone sehingga mendapat kartu merah pada laga Liga Spanyol 2026/2027 di Estadio Metropolitano, Minggu (20/9/2026) malam WIB. (AP Photo/Bernat Armangue)

La Liga TV mencatat Real Madrid sebagai klub dengan aktivitas lari dan pressing paling rendah di kasta teratas Spanyol. Sementara itu, data yang dikutip Madrid Zone menempatkan mereka di posisi terbawah dalam jarak tempuh per pertandingan di antara klub dari lima liga top Eropa.

Angka tersebut menjadi masalah tersendiri bagi tim yang sedang berusaha kembali meraih trofi. Ketika sebuah tim tidak mampu mengimbangi lawan dalam intensitas, kontrol pertandingan dapat menjadi semakin sulit didapatkan.

Real Madrid memang bukan klub yang secara tradisional selalu unggul dalam statistik lari. Namun, persoalannya adalah kemampuan untuk meningkatkan intensitas ketika pertandingan membutuhkan kerja ekstra kini belum terlihat secara konsisten.


Dulu, Kualitas Individu Menutupi Kekurangan

Kesuksesan Zinedine Zidane di awal kariernya menjadi pelatih Real Madrid tak lepas dari peran seorang Cristiano Ronaldo. Selama di Bernabeu, duet Zizou dan CR7 telah tampil sebanyak 114 pertandingan sebelum sang bintang hengkang ke Juventus. (AFP/Franck Fife)

Situasi tersebut pernah terjadi pada era Zinedine Zidane. Tim Real Madrid saat itu juga tidak selalu berada di posisi tinggi dalam statistik lari dan pressing, tetapi mereka memiliki banyak pemain yang mampu mengubah jalannya pertandingan secara individu.

Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, Gareth Bale, Luka Modric dan Sergio Ramos merupakan beberapa nama yang mampu meningkatkan level permainan ketika tim berada dalam kesulitan. Kualitas tersebut membuat Real Madrid tetap memiliki cara untuk keluar dari situasi sulit.

Perbedaannya, skuad saat ini belum memperlihatkan kemampuan yang sama secara konsisten. Ketika kualitas individu tidak cukup untuk menentukan pertandingan, kerja kolektif seharusnya menjadi solusi, termasuk melalui pressing dan pergerakan tanpa bola.


Mourinho Menghadapi Pekerjaan Berat

Pelatih Real Madrid asal Portugal, Jose Mourinho (kanan), berbicara dengan bek Real Madrid, Trent Alexander-Arnold, selama pertandingan persahabatan pramusim antara Real Madrid dan ACF Fiorentina di Klagenfurt, Austria pada 1 Agustus 2026. (WOLFGANG JANNACH/APA/AFP)

Mourinho memang baru beberapa bulan kembali menangani Real Madrid. Waktu tersebut belum cukup untuk mengharapkan perubahan menyeluruh, tetapi peningkatan kecil tetap diperlukan mengingat target besar yang harus dicapai klub.

Salah satu pekerjaan Mourinho adalah membuat tim mampu meningkatkan intensitas pada momen tertentu. Real Madrid pada era Zidane pernah menunjukkan bahwa mereka bisa meninggalkan pendekatan berbasis penguasaan bola dan bermain lebih agresif ketika pertandingan membutuhkan pendekatan tersebut.

Kemampuan seperti itu belum terlihat secara stabil pada tim sekarang. Jika Mourinho mampu mengubah kebiasaan tersebut, Real Madrid setidaknya memiliki fondasi kolektif yang lebih kuat untuk mengejar ketertinggalan dari Barcelona dan kembali bersaing dalam perebutan trofi.

Sumber: The Real Champs


Klasemen

Berita Terkait