Empat Liga Top Eropa Bersikap, FIFA Didesak Lakukan Reformasi Fundamental

Empat liga top Eropa mengambil sikap dan mendorong FIFA melakukan reformasi.

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 25 September 2026, 20:00 WIB
Presiden FIFA, Gianni Infantino (kiri), berpose dengan Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, setelah menyampaikan pidato di Kongres Biasa UEFA ke-50 di Brussels pada 12 Februari 2026. (Pau BARRENA/AFP)

Bola.com, Jakarta - Empat liga sepak bola top Eropa, Premier League, Bundesliga, Serie A, dan LaLiga, secara bersama-sama mendesak adanya reformasi besar-besaran di tubuh FIFA.

Keempat kompetisi tersebut menyampaikan tuntutannya melalui pernyataan bersama pada Jumat (25/9/2026). Mereka menilai FIFA membutuhkan sistem checks and balances yang lebih kuat dalam proses pengambilan keputusan.

Advertisement

Selain itu, Premier League, Bundesliga, Serie A, dan LaLiga meminta adanya batasan konstitusional yang jelas serta pemisahan yang lebih tegas antara fungsi regulasi dan komersial FIFA.

Langkah tersebut menjadi respons terkoordinasi dari empat liga setelah Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya membatalkan rencana yang berkaitan dengan investasi eksternal terhadap operasi komersial FIFA.

"Fondasi sepak bola selama bertahun-tahun telah terancam oleh masalah tata kelola yang mendasar," demikian salah satu bagian pernyataan bersama keempat liga tersebut.


Soroti Tata Kelola FIFA

Logo FIFA terlihat di kantor regional Afrika organisasi tersebut di Sale pada 5 Agustus 2026. Presiden Gianni Infantino mengadakan pembicaraan darurat dengan para direktur FIFA lainnya di Maroko pada 5 Agustus—menurut keterangan seorang sumber kepada AFP, di tengah gelombang kritik terkait rencananya yang kini telah dibatalkan untuk membuka Piala Dunia bagi investasi swasta. (Abdelmajid BZIOUAT AFP)

Hubungan antara FIFA dan sejumlah liga top Eropa memang mengalami ketegangan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah semakin banyaknya kompetisi internasional yang dinilai menambah beban pemain.

Klub dan liga domestik Eropa sebelumnya telah beberapa kali menyampaikan kekhawatiran mengenai padatnya kalender pertandingan akibat berbagai kompetisi yang digelar FIFA.

Di tengah situasi tersebut, Infantino mengusulkan peninjauan eksternal terhadap kerangka tata kelola FIFA. Dalam surat kepada Dewan FIFA dan presiden 211 asosiasi anggota, ia mengusulkan agar dilakukan kajian independen mengenai tata kelola FIFA untuk berbagai inisiatif strategis.

Infantino juga mengusulkan konsultasi dengan konfederasi, asosiasi, dan pemangku kepentingan lainnya terkait penguatan proses pengambilan keputusan.

Namun, empat liga top Eropa menilai langkah tersebut belum cukup.

Mereka meminta reformasi tata kelola yang lebih mendasar, termasuk memperjelas batas kewenangan dalam FIFA serta memastikan urusan regulasi tidak dipengaruhi kepentingan komersial.


Minta Keterlibatan Stakeholder

(Kiri ke kanan) (Baris pertama) Presiden Federasi Sepak Bola Prancis (FFF), Philippe Diallo, Presiden FIFA, Gianni Infantino, Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol, Rafael Louzan; (Baris kedua) Mantan pemain Timnas Spanyol, Xavi Hernandez, Iker Casillas, dan Sergio Ramos menghadiri pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Spanyol di Stadion Dallas, Arlington, pada 14 Juli 2026. (FRANCK FIFE/AFP)

Premier League, Bundesliga, Serie A, dan LaLiga juga menginginkan adanya badan permanen yang mewakili berbagai pemangku kepentingan sepak bola.

Badan tersebut diharapkan melibatkan asosiasi nasional, liga, klub, serta pemain dari sepak bola putra dan putri.

Mereka juga menyerukan agar setiap keputusan FIFA didasarkan pada bukti serta mempertimbangkan pihak-pihak yang terdampak.

"Perubahan tata kelola FIFA penting bagi semua orang yang peduli terhadap sepak bola. Olahraga ini tidak dapat berkembang secara global jika fondasinya dirusak," tulis pernyataan tersebut.

Persoalan tata kelola FIFA mencuat lebih kuat setelah rencana investasi eksternal terhadap hak komersial FIFA mendapat penolakan dari sejumlah pihak.

Rencana tersebut, yang disebut mencakup kemungkinan penjualan hingga 20 persen saham atas hak komersial FIFA, termasuk yang berkaitan dengan Piala Dunia, akhirnya dibatalkan pada Juli 2026 setelah mendapat penolakan dari UEFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), dan CONCACAF.

Di tengah sorotan tersebut, FIFA belum memberikan tanggapan terkait pernyataan bersama empat liga top Eropa tersebut.

Sumber: Sky

Berita Terkait