Dijuluki The Translator Sejak di Barcelona, Jose Mourinho: Omong Kosong Besar!

Julukan The Translator membuntuti Jose Mourinho, begini bantahannya.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 27 September 2026, 15:15 WIB
Pelatih Real Madrid, Jose Mourinho. (Oscar Del Pozo / AFP)

Bola.com, Jakarta - Jose Mourinho dan Barcelona memiliki hubungan yang panjang sekaligus penuh rivalitas.

Mourinho pernah menghabiskan empat tahun di Camp Nou pada akhir 1990-an. Setelah itu, ia bahkan pernah menyatakan Barcelona akan selalu berada di hatinya.

Advertisement

Namun, Mourinho kemudian menjadi satu di antara rival terbesar klub Katalonia tersebut.

Pada 2008, ia sempat menjadi kandidat pengganti Frank Rijkaard, tetapi Joan Laporta memilih Pep Guardiola setelah mendapat saran dari Johan Cruyff.

Perseteruan pun berkembang ketika Mourinho menghadapi Barcelona bersama Chelsea, Inter Milan, hingga Real Madrid.

Dalam periode tersebut, pendukung Barcelona kerap menggunakan satu julukan untuk menyindirnya: "the translator" alias sang penerjemah.


Bukan Sekadar Penerjemah

Aksi Jose Mourinho pada laga Real Madrid lawan Espanyol pada pekan ke-2 La Liga 2026/2027 di RCDE Stadium - AP Photo/Joan Monfort

Julukan itu memang berawal dari pekerjaan Mourinho saat pertama kali bergabung dengan Barcelona pada 1996. Ia datang bersama Bobby Robson, yang sebelumnya pernah bekerja dengannya di Sporting dan Porto.

Robson tidak bisa berbahasa Spanyol atau Katalan, sementara Mourinho menguasai keduanya.

Ia kemudian membantu Robson berkomunikasi dengan media sekaligus menyampaikan instruksi sang pelatih.

Namun, tugas Mourinho jauh lebih luas. Ia membantu Robson dalam urusan taktik dan analisis, menyusun sesi latihan, mengerjakan analisis video, serta menjadi penghubung bagi anggota klub yang berbahasa Portugis.

Ketika Louis van Gaal menggantikan Robson pada 1997, peran Mourinho makin berkembang.

Ia melakukan pemantauan pertandingan di Eropa, memberikan laporan saat jeda pertandingan, menangani Barcelona B, hingga dipercaya memimpin tim utama pada Copa Catalunya 2000.

Barcelona memenangi turnamen tersebut dengan Mourinho sebagai pelatih kepala dan Van Gaal sebagai asistennya.

Hristo Stoichkov juga pernah menegaskan Mourinho bukan sekadar penerjemah.

"Seseorang menciptakan anggapan bahwa dia seorang penerjemah, tetapi itu sebuah kesalahan. Dia bekerja di lapangan dan mengetahui semuanya," ujar Stoichkov, dikutip dari GMS.


Julukan Itu Menjadi Senjata

Jose Mourinho. Pelatih asal Portugal berusia 59 tahun yang baru semusim menukangi AS Roma sejak didatangkan dari Tottenham Hotspur pada awal musim 2021/2022 ini mampu membawa FC Porto dan Inter Milan berlaga di final Liga Champions. Bersama FC Porto ia melakukannya satu kali pada musim 2003/2004 dan berbuah gelar juara usai menang 3-0 atas AS Monaco. Sementara Inter Milan juga dibawanya 1 kali ke final pada musim 2009/2010 dan kembali berujung trofi usai menang 2-0 atas Bayern Munchen. (AFP/Christophe Simon)

Sebutan tersebut berubah menjadi ejekan ketika Mourinho membawa Inter Milan menghadapi Barcelona pada semifinal Liga Champions 2010. Inter datang ke Camp Nou dengan keunggulan 3-1 dari leg pertama.

Pendukung Barcelona membentangkan spanduk bertuliskan "the translator". Namun, Inter tetap lolos, meski bermain dengan 10 pemain.

Mourinho kemudian merayakan keberhasilan itu dengan berlari di lapangan Camp Nou, melewati percikan air dari sprinkler yang dinyalakan staf stadion.

Ia tak peduli dan menyambut guyuran air tersebut, yang membuat momen itu terasa makin epik. Itu adalah salah satu perayaan paling bersejarah sepanjang masa.

Mourinho kembali membantah anggapan dirinya hanya seorang penerjemah dalam dokumenter Netflix, "MOURINHO", yang dirilis pada Agustus 2026.

"Saya bekerja bersama Mr Robson. Pekerjaan sebagai penerjemah itu omong kosong besar. Omong kosong besar, omong kosong besar," ujar Mourinho, keras.

Ia kemudian menjelaskan tanggung jawabnya di Barcelona jauh lebih luas.

"Saya adalah pelatih kiper, saya analis, saya pencari bakat," katanya.


Balasan Ejekan

Inter Milan. Jose Mourinho mulai menangani Inter Milan pada awal musim 2008/2009 usai meninggalkan Chelsea di periode keduanya. Selama 2 musim membesut Inter, ia langsung memberi gelar juara Liga Italia pada musim debutnya di 2008/2009. Pada musim berikutnya ia meraih treble winners dengan meraih gelar Liga Italia, Coppa Italia dan Liga Champions. Terakhir kali Inter Milan meraih gelar Liga Champions adalah pada musim 1964/1965 alias berjarak 45 tahun. (AFP/Christophe Simon)

Mourinho juga menyebut dirinya terlibat dalam pekerjaan di pusat kebugaran berkat latar belakang ilmu olahraga.

Menurutnya, kemampuan berbahasa Inggris membantunya masuk ke lingkungan kepelatihan pada level akademis yang lebih tinggi.

Ia menegaskan posisi yang dijalankannya ketika bekerja bersama Robson adalah "asisten pelatih Mr Bobby Robson"

Sindiran tersebut terus mengikutinya karena Mourinho tidak pernah bermain profesional pada level serius.

Namun, ia kemudian meraih dua gelar Liga Champions, gelar liga di empat negara, serta membawa Inter menyingkirkan Barcelona asuhan Guardiola dari kompetisi Eropa.

Bagi Mourinho, perjalanan tersebut menjadi jawaban atas julukan yang pernah digunakan untuk meremehkannya.

 

Sumber: Give Me Sport

Berita Terkait