Taktik Pemain Timnas Indonesia Atur Stamina Saat Kalahkan Singapura Dapat Pujian: Tidak Mudah Menjaga Fitnes di Jadwal Padat FIFA ASEAN Cup

Pemain harus dalam kondisi siap tempur melawan Malaysia pada 28 September dan Bangladesh di 1 Oktober mendatang.

BolaCom | Gatot SumitroDiterbitkan 27 September 2026, 20:00 WIB
Striker Timnas Indonesia, Ole Romeny berselebrasi setelah menjebol gawang Singapura pada laga Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (25/9/2026). (Bola.com/Budy Santoso)

Bola.com, Kediri - Pertandingan sistem kompetisi dan turnamen punya karakter berbeda. FIFA ASEAN Cup 2026 yang memakai sistem turnamen dengan jadwal sangat padat tak mudah dijalani bagi semua peserta.

Tugas pelatih untuk pintar mengatur bioritmik anak asuhnya agar mampu tampil stabil pada tiap pertandingan.

Advertisement

Termasuk bagaimana John Herdman menata kebugaran Kevin Diks dkk. tetap prima meladeni Singapura yang telah dikalahkan dengan skor 2-0.

Pemain harus dalam kondisi siap tempur melawan Malaysia pada 28 September dan Bangladesh di 1 Oktober mendatang. Banyak kritik mengalir saat Tim Garuda mengalahkan The Lions.

Sorotan utama pada materi pemain yang full diaspora dan fisik yang dinilai kedodoran di lapangan.

Soal stamina, Thom Haye yang masuk menggantikan Ragnar Oratmangoen pada menit ke-64 mengungkapkan kesiapan fisik seluruh pemain menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan Timnas Indonesia di turnamen ini.

“Kondisi fisik sejauh ini bagus. Jadwal pertandingan sangat padat dengan jeda singkat. Jadi pelatih harus memastikan seluruh pemain berada dalam kondisi bugar. Ada kemungkinan rotasi pemain di pertandingan-pertandingan berikutnya untuk menjaga kebugaran dan kesehatan tim,” ujar Haye via FIFA, Sabtu (26/9/2026).

 

Tidak Mudah Menjaga Kondisi saat Jadwal Padat

Starting XI Timnas Indonesia saat menghadapi Singapura dalam laga pertama Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (25/9/2026). (KLY/Budy Santoso)

Gusnul Yakin mendukung pernyataan pemain Timnas Indonesia yang dijuluki Sang Profesor ini.

"Siapa pun yang pernah berkecimpung di sepak bola pasti paham cara mempersiapkan fisik pemain dan ajang yang akan diikuti. Turnamen lebih sulit, karena tiap pemain harus siap tampil dengan jadwal mepet. Jadi ucapan Thom Haye itu benar," katanya.

Pengamat sepak bola senior asal Malang tak setuju dengan pendapat banyak kalangan yang mengkritik fisik pemain Timnas Indonesia yang berkaliber Liga Eropa kepayahan menghadapi Singapura.

"Mereka pemain profesional dan main di Eropa. Jadi mereka lebih tahu bagaimana main di lapangan. Bagaimana mengatur energi agar tetap maksimal dan punya tenaga di pertandingan berikutnya," jelasnya.


Masih Ada Laga Kontra Malaysia dan Bangladesh

Gusnul Yakin malah menilai para pemain pintar. Mereka tidak memforsir diri lawan Singapura, karena masih ada partai kontra Malaysia dan Bangladesh.

"Kalau di pertandingan awal tenaga dikuras, partai berikutnya pasti turunnya lebih drastis lagi. Jika Timnas Indonesia masuk final tenaga mereka tinggal ampas," jelasnya.

Mantan pelatih Arema ini pun menjelaskan faktor kelelahan pemain abroad akibat jetlag penerbangan jauh dari Eropa ke Jakarta.

"Sejak naturalisasi era Shin Tae-yong hingga sekarang, saya sering bahas soal jetlag ini. Dengan jadwal padat pasti kebugaran jadi kendala pemain dari Liga Eropa," ujar Gusnul Yakin.

"Mereka sudah tampil terbaik lawan Singapura. Saya anggap pemain pintar tak main ngotot. Karena misi utama bagaimana meraih kemenangan, meski penampilan mereka dinilai jelek oleh banyak orang," lanjutnya.

Berita Terkait