Proses Hukum Kasus 115 Dakwaan Man City Bisa Berlarut-larut hingga Bertahun-tahun

Kasus dugaan pelanggaran finansial Man City berpotensi berlarut hingga bertahun-tahun.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 28 September 2026, 15:15 WIB
Setelah sempat lolos dari sanksi UEFA pada tahun 2020 akibat pelanggaran aturan finansial, Manchester City kembali tersandung masalah yang sama yang kali ini didakwakan oleh Premier League selaku operator Liga Inggris. Klub Manchester Biru itu terindikasi telah melakukan manipulasi laporan keuangan dalam waktu 9 tahun mulai 2009 hingga 2018. Jika pada 2020 Man City hanya lolos dari dakwaan UEFA berupa larangan bertanding di kompetisi UEFA setelah memenangi banding lewat Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), maka kali ini sanksi yang menunggu klub milik Sheikh Mansour ini tergolong berat. Berikut deretan sanksi yang bisa dijatuhkan Premier League kepada Man City jika terbukti bersalah. (AFP/Oli Scarff)

Bola.com, Jakarta - Kasus dugaan pelanggaran aturan keuangan (FFP) Premier League yang menjerat Manchester City masih berpotensi berlangsung panjang.

Man City telah terlibat dalam sengketa hukum dengan UEFA dan Premier League selama 12 tahun, dan besarnya perkara 115 dakwaan membuat prosesnya masih berpotensi berlangsung lama.

Advertisement

Pekan lalu muncul laporan, tribunal independen telah mengambil keputusan dalam perkara tersebut.

Namun, Sky Sports News memahami prosesnya kini bergerak ke tahap banding.

Man City memiliki pengalaman panjang menghadapi perkara serupa. Pada 2014, The Citizens didenda 49 juta paun karena melanggar aturan financial fair play UEFA.

Enam tahun berselang, UEFA kembali menjatuhkan hukuman berupa larangan tampil di kompetisi Eropa selama dua tahun serta denda 30 juta euro.

Sanksi larangan bermain di kompetisi Eropa itu kemudian dibatalkan oleh Court of Arbitration for Sport (CAS).

Dalam proses tersebut, Man City dinyatakan tidak terbukti menyamarkan dana dari pemilik klub sebagai pendapatan sponsorship.


Perjuangkan Nama Baik

Manchester City. Serupa dengan Real Madrid, Manchester City sepanjang tahun 2022 juga berhasil mencetak 37 kemenangan dari total 54 laga di semua ajang domestik maupun Eropa. Klub asuhan Pep Guardiola tersebut hanya berhasil meraih satu trofi sepanjang tahun 2022, yaitu juara Premier League 2021/2022. (AFP/Oli Scarff)

Hasil tersebut dapat menjadi modal keyakinan bagi pendukung Man City ketika klub menjalani banding dalam perkara FFP Premier League. Proses itu akan ditangani panel baru yang beranggotakan tiga orang.

Namun, jika keputusan banding tidak berpihak kepada mereka, Man City tidak bisa membawa perkara tersebut ke CAS.

Meski begitu, masih terbuka kemungkinan pemilik klub menempuh jalur Pengadilan Tinggi (High Court) untuk terus memperjuangkan nama baik mereka.

Sikap tersebut sejalan dengan pernyataan Chairman Man City, Khaldoon Al Mubarak, sejak 2014.

Ketika itu, ia pernah mengatakan siap mengeluarkan 30 juta paun (Rp715,3 miliar) untuk menyewa 50 pengacara terbaik di dunia dan menggugat UEFA selama 10 tahun ketimbang kalah dalam perkara financial fair play.

12 tahun kemudian, sikap Al Mubarak belum berubah. Dalam surat terbuka kepada suporter pada Sabtu kemarin, ia memberikan penegasan.

"Proses Premier League masih panjang dan keyakinan serta tekad kami untuk membuktikan bahwa klub tidak bersalah tetap sekuat ketika semua ini dimulai," kata Al Mubarak.


Pokok Persoalan

Manchester City berhasil memetik kemenangan 3-1 atas tamunya West Ham United di Etihad Stadium pada pekan terakhir Liga Inggris 2023/2024 yang digelar serentak pada Minggu (19/5/2023). Tiga gol kemenangan The Citizens dicetak lewat brace Phil Foden ditambah satu gol dari Rodri, sementara sang tamu hanya mampu mencetak satu gol lewat Mohammed Kudus. Kemenangan ini memastikan Manchester City merebut gelar juara Liga Inggris 2023/2024 dengan raihan 91 poin di klasemen akhir, unggul 2 poin dari Arsenal sebagai runner-up. Gelar ini sekaligus menjadi yang keempat berturut-turut sejak 2020/2021, sebuah torehan yang belum pernah dilakukan klub Inggris mana pun sepanjang sejarah. (AP Photo/Dave Thompson)

Banyak hal dipertaruhkan dalam perkara ini. Karena itu, Man City diyakini akan terus menempuh berbagai jalur hukum untuk membersihkan nama mereka.

Sementara itu, sejumlah pengacara olahraga terkemuka memilih belum memberikan pandangan sampai putusan lengkap dipublikasikan.

Sky Sports News melaporkan, kebocoran informasi pada Jumat waktu setempat, yang kemudian memunculkan laporan bahwa Man City kalah dalam 114 dari 115 dakwaan juga berpotensi menjadi bagian dari upaya hukum klub.

"Dari sudut pandang Man City, informasi tersebut dapat digunakan untuk memperdebatkan apakah seluruh proses berlangsung secara adil dan tidak memihak," tulis Sky Sports News.

Pokok persoalan dalam berbagai sengketa hukum Man City berkaitan dengan cara klub berkembang begitu cepat hingga menjadi satu di antara kekuatan besar.

Pemilik klub dituduh menggelontorkan dana dalam jumlah besar dan menyamarkannya sebagai pemasukan sponsorship.

Man City selama ini membantahnya dan menyatakan memiliki bukti yang tidak terbantahkan bahwa mereka tidak melanggar aturan.


Berdampak ke Hubungan Dua Negara

Pemilik Manchester City, Sheikh Mansour. (AFP/Andrew Yates)

Apabila gagal membersihkan nama mereka, Man City menghadapi kemungkinan sanksi serius. Selama proses tersebut belum selesai, perkara ini juga akan terus membayangi Enzo Maresca dan para pemainnya.

Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan reputasi Man City dan para pemiliknya. Putusan akhir juga berpotensi memengaruhi hubungan antara Abu Dhabi dan Inggris.

Kedua negara memiliki hubungan dekat serta kepentingan perdagangan dan diplomatik yang sama, tetapi putusan definitif terkait pelanggaran aturan oleh Man City disebut dapat menguji kekuatan hubungan tersebut.

Sengketa Man City dengan Premier League bermula dari dokumen internal klub yang diperoleh secara ilegal oleh Rui Pinto, peretas asal Portugal yang telah dinyatakan bersalah.

Man City menyebut dokumen-dokumen yang bocor itu sebagai materi yang telah diretas atau dicuri dan disajikan di luar konteks. Klub juga menilai penggunaannya merupakan bagian dari upaya terorganisasi untuk merusak reputasi mereka.

 

Sumber: Sky Sports

Berita Terkait