4 Pesepak Bola yang Berani Berdiri Teguh pada Prinsip: Paul Breitner Boikot Piala Dunia 1978, Robbie Fowler Dukung Pekerja Liverpool

Sejumlah pesepak bola pernah menggunakan popularitas dan posisi mereka untuk menyuarakan prinsip yang diyakini, bahkan ketika keputusan tersebut mendapat konsekuensi.

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 29 September 2026, 09:00 WIB
Robbie Fowler yang kini menjabat pelatih klub Arab Saudi, Al Qadsiah FC, tercatat sebagai salah satu pemain termuda yang pernah mencetak hattrick di Premier League. Momen itu terjadi pada pekan ke-13 Premier League musim 1993/1994 saat Liverpool menang 4-2 atas sang tamu Southampton (30/10/1993). Robbie Fowler yang total mencetak 9 hattrick selama 15 musim berkarier di Premier League, masih berusia 18 tahun 174 hari saat mencetak hattrick pertamanya tersebut. (AFP/Gerry Penny)

Bola.com, Jakarta - Sepak bola tidak selalu hanya berbicara mengenai pertandingan dan prestasi di lapangan. Dalam sejumlah kesempatan, para pemain juga pernah mengambil sikap terhadap persoalan sosial, kemanusiaan, hingga isu yang berkaitan dengan lingkungan mereka.

Planet Football merangkum sejumlah pemain yang pernah menggunakan posisi mereka untuk menyuarakan prinsip masing-masing. Beberapa di antaranya bahkan harus menghadapi kritik, hukuman, hingga konsekuensi terhadap karier.

Advertisement

Paul Breitner, James McClean, kevin-Prince Boateng, dan Robbie Fowler termasuk di antara pemain yang memiliki kisah tersebut.

Berikut empat pesepak bola yang pernah mengambil sikap berdasarkan keyakinan masing-masing.


Paul Breitner Boikot Piala Dunia 1978

Pemain Jerman Barat Paul Breitner mencetak skor 1-1 melalui adu penalti selama final sepak bola Piala Dunia "Jerman Barat - Belanda" di Stadion Olimpiade di Munich pada 7 Juli 1974. Paul Breitner mencetak gol pertama ke gawang Chile dan berakhir dengan kemenangan Jerman Barat 1-0. (AFP/STAF)

Paul Breitner merupakan salah satu pemain penting Timnas Jerman Barat yang menjuarai Piala Dunia 1974. Empat tahun kemudian, ia memilih tidak tampil pada Piala Dunia 1978 di Argentina.

Berbeda dengan anggapan yang pernah muncul mengenai Johan Cruyff, keputusan Breitner memang disebut Planet Football sebagai bentuk boikot karena alasan moral. Ia menjadi satu-satunya pemain Jerman Barat yang mengambil sikap tersebut.

Breitner dikenal sebagai sosok yang memiliki pendirian kuat. Dalam wawancara dengan Bayern Munchen pada 2026, ia menggambarkan prinsip hidupnya dengan sederhana.

“Kepada setiap orang dengan caranya masing-masing, tetapi saya akan melakukannya dengan cara saya sendiri,” ujar Breitner.


James McClean Tolak Mengenakan Poppy

James McClean (tengah) rayakan gol ke gawang Wales dan antar Republik Irlandia ke babak playoff Piala Dunia (Geoff CADDICK / AFP)

James McClean memiliki alasan pribadi ketika memilih tidak mengenakan simbol poppy dalam periode Remembrance Day di Inggris.

McClean lahir dan besar di Derry, wilayah yang memiliki sejarah panjang konflik di Irlandia Utara. Ia mengaitkan keputusannya dengan Bloody Sunday 1972, ketika warga sipil di Derry ditembakkan oleh tentara Inggris.

Sikap tersebut kemudian menjadi bagian yang terus melekat dalam perjalanan kariernya, McClean juga pernah membelakangi lapangan ketika lagu kebangsaan Inggris diputar sebelum laga persahabatan West Bromwich Albion melawan Charleston Battery pada 2015.


Kevin-Prince Boateng Tinggalkan Lapangan karena Rasisme

Kevin-Prince Boateng (fcbarcelona.com)

Kevin-Prince Boateng mengambil sikap tegas ketika mendapat pelecehan rasial saat AC Milan menghadapi Pro Patria dalam laga persahabatan pada Januari 2013.

Boateng mengambil bola dan menendangnya ke arah sumber suara sebelum meninggalkan lapangan. Kapten Milan saat itu, Massimo Ambrosini, kemudian memimpin pemain lainnya keluar lapangan sehingga pertandingan dihentikan.

Setelah pertandingan, Boateng menyampaikan sikapnya melalui media sosial.

“Memalukan bahwa hal-hal seperti ini masih terjadi…#StopRacismforever,” tulis pemain internasional Ghana itu di Twitter setelah kejadian tersebut.


Robbie Fowler Dukung Pekerja Liverpool

Robbie Fowler. Striker Liverpool ini mencetak gol ke-100 di Liga Inggris saat berusia 23 tahun dan 283 hari. Kala itu Liverpool menang 7-1 atas Southampton, 16 Januari 1999 dan Fowler mencetak 3 gol di antaranya. Hingga pensiun ia mencetak total 162 gol di Liga Inggris. (AFP/Odd Andersen)

Robbie Fowler juga pernah menggunakan panggung sepak bola untuk menunjukkan dukungannya kepada pekerja pelabuhan Liverpool.

Dalam laga Liverpool melawan Brann pada Piala Winners 1997, Fowler mengangkat jerseynya dan memperlihatkan kaus dalam yang berisi pesan dukungan kepada 500 pekerja pelabuhan Liverpool yang terkenal pemutusan hubungan kerja.

Aksi tersebut dilakukan ketika perselisihan antara pekerja pelabuhan dengan perusahaan telah berlangsung selama lebih dari dua tahun.

Fowler kemudian didenda 2.000 franc Swiss karena UEFA melarang pemain menampilkan pesan politik dalam pertandingan.

Fowler menjadi salah satu contoh pemain yang menggunakan popularitasnya untuk membawa persoalan di luar lapangan ke dalam perhatian publik.

Sumber: Planet Football

Penulis: Merisa Amanda

Berita Terkait