Timnas Indonesia Masih Punya PR di FIFA ASEAN Cup, Pengamat Soroti Taktik John Herdman

Taktik yang diterapkan John Herdman di Timnas Indonesia selama FIFA ASEAN Cup 2026 jadi sorotan pengamat sepak bola nasional satu ini.

BolaCom | Ana DewiDiterbitkan 30 September 2026, 14:30 WIB
Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, saat melawan Mozambik pada FIFA Matchday di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, pada Selasa (9/6/2026). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Bola.com, Jakarta - Timnas Indonesia masih punya satu pertandingan tersisa untuk menentukan nasib di Grup A FIFA ASEAN Cup 2026.

Hasil imbang 0-0 melawan Malaysia membuat persaingan menuju tiket final tetap terbuka.

Advertisement

Timnas Indonesia mengukir empat poin dari dua laga dan menempati posisi kedua klasemen sementara Grup A. Skuad Garuda memiliki poin sama dengan Malaysia, tetapi kalah selisih gol.

Hasil itu jadi bahan evaluasi bagi pelatih John Herdman. Pada duel kontra Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin (28-9-2026), Herdman menurunkan komposisi pemain naturalisasi.

Namun, performa Timnas Indonesia belum mampu berkembang maksimal. Tim Garuda kesulitan menciptakan peluang dan harus puas bermain tanpa gol hingga pertandingan rampung.

"Masalahnya bukan karena pemain naturalisasi atau lokal. Sepak bola tidak ditentukan oleh paspor pemain, tetapi oleh struktur, chemistry, peran dan cara tim bermain sebagai satu kesatuan," ujar Luciano Leandro, pengamat sepak bola nasional, kepada Bola.com, Selasa (29-9-2026).

"Herdman memilih sistem 5-4-1. Sistem ini sebenarnya bisa sangat efektif untuk menjaga keseimbangan, tetapi konsekuensinya adalah, Indonesia membutuhkan koordinasi yang sangat baik untuk melakukan transisi dari bertahan ke menyerang," imbuh Luciano.

 


Persoalan Lini Tengah

Malaysia Vs Timnas Indonesia, Joey Pelupessy, Justin Hubner pada laga FIFA ASEAN Cup 2026 di SUGBK, Jakarta, Senin (28-9-2026). (Dok. Official FAM Facebook)

Persoalan Timnas Indonesia terlihat ketika harus mempertahankan kendali permainan di area tengah.

Penguasaan bola yang dimiliki belum mampu diterjemahkan secara konsisten menjadi ancaman nyata di depan gawang.

"Menurut saya, masalah utama adalah Indonesia terlalu mudah kehilangan kontrol di lini tengah dan tidak cukup cepat mengubah possession menjadi peluang," ulas mantan pemain Persija Jakarta itu.

Situasi kian sulit selepas Garuda bermain dengan 10 pemain akibat kartu merah. Dalam kondisi tersebut, Luciano menilai Herdman dituntut melakukan perubahan pendekatan agar keseimbangan tim tetap terjaga.

"Setelah kartu merah, situasinya tentu makin berat. Dalam kondisi seperti itu pelatih harus melakukan adaptasi secara cepat: memperkecil ruang, menjaga struktur, tetapi tetap mempunyai outlet untuk melakukan counter attack," katanya.

 


Kualitas Individu Harus Jadi Kekuatan Kolektif

Malaysia Vs Timnas Indonesia, Calvin Verdonk, FIFA ASEAN Cup 2026 di SUGBK, Jakarta, Senin (28-9-2026). (Dok. Official FAM Facebook)

Luciano tidak sepenuhnya menyalahkan Herdman atas permainan Timnas Indonesia ketika menghadapi Malaysia. Namun, ia menyebut sejumlah aspek taktik tetap perlu menjadi bahan evaluasi.

"Saya tidak akan mengatakan Herdman salah total. Tetapi, ada beberapa keputusan taktis yang perlu dievaluasi, terutama bagaimana Indonesia membangun serangan, bagaimana gelandang mendukung striker dan bagaimana tim bereaksi ketika lawan berhasil menguasai pertandingan," ucapnya.

"Materi pemain Indonesia sangat bagus. Sekarang tantangannya adalah mengubah kualitas individu menjadi kekuatan kolektif. Laga ini menjadi pelajaran penting: nama besar pemain tidak cukup. Indonesia membutuhkan struktur permainan yang jelas, koneksi antarlini dan keberanian untuk bermain lebih progresif," imbuh Luciano.

Timnas Indonesia akan ditantang Bangladesh pada laga terakhir Grup A di SUGBK, Kamis (1-10-2026) malam WIB.

Duel tersebut jadi kesempatan bagi Tim Garuda mengamankan tiket final FIFA ASEAN Cup 2026.

Berita Terkait