Komentar PM Inggris, Andy Burnham, tentang Pemilik Man City usai Vonis Bersalah Picu Kehebohan

Komentar PM Inggris, Andy Burnham, soal pemilik Man City usai vonis bersalah bikin heboh.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 01 Oktober 2026, 13:00 WIB
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham. (Dok. AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Bola.com, Jakarta - Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, mengaku akan sangat khawatir jika pemilik Manchester City memutuskan menjual klub setelah dinyatakan bersalah atas pelanggaran aturan finansial Premier League.

Pernyataan Burnham menjadi sorotan setelah Man City dinyatakan bersalah oleh komisi independen atas pelanggaran aturan finansial Premier League.

Advertisement

Dalam putusan yang diumumkan pekan lalu, Man City dinyatakan menggunakan sejumlah kontrak palsu dengan mitra komersial dan menggelembungkan pendapatan dalam periode 2009 hingga 2018.

Ketika ditanya BBC mengenai kemungkinan pemilik Man City meninggalkan klub, Burnham mengatakan dirinya justru tidak ingin hal itu terjadi.

"Saya akan sangat khawatir kehilangan mereka. Mereka telah menjadi mitra besar dalam pembangunan Manchester modern dan tentu saja dalam membangun Manchester City menjadi kekuatan global seperti sekarang," kata Burnham.


Burnham Apresiasi Pemilik Man City

Perdana Menteri (PM) Andy Burnham. (Dok. Andrew Matthews/PA via AP)

Burnham, yang sebelumnya menjabat Wali Kota Greater Manchester hingga Juni lalu, juga mengapresiasi investasi Man City Football Group dan pemilik Man City di Manchester.

Ia menyebut kontribusi mereka tidak hanya terlihat di Stadion Etihad dan kompleks di sekitarnya, tetapi juga di kota secara lebih luas.

Burnham juga mengatakan dirinya yakin interaksinya dengan pemilik Man City ketika masih menjabat wali kota akan dapat dipertanggungjawabkan.

Komentar itu muncul ketika masa depan Man City menjadi sorotan setelah putusan komisi independen.

Man City dinyatakan bersalah atas seluruh dakwaan terkait pelanggaran serius aturan finansial dalam periode yang diperiksa. Klub tetap membantah melakukan pelanggaran dan berencana mengajukan banding.


Potensi Sanksi

Dua wonderkid berusia 19 tahun, Alejandro Garnacho dan Kobbie Mainoo menjadi pahlawan kemenangan 2-1 Manchester United atas Manchester City di final Piala FA 2023/2024 di Wembley Stadium, London, Sabtu (25/5/2024). Berkat gol keduanya, Manchester United memastikan merebut trofi ke-13 nya di Piala FA, hanya berselisih satu trofi dengan pemegang rekor Piala FA terbanyak, Arsenal dengan 14 trofi. Hasil ini juga memastikan MU akan berlaga di Liga Europa musim depan lewat jalur juara Piala FA. (AFP/Justin Tallis)

Sanksi untuk Man City belum ditentukan. Hukuman yang mungkin dijatuhkan dapat berupa denda, pengurangan poin, larangan transfer, hingga pengusiran dari Premier League.

Gelar yang diraih The Citizens selama periode pelanggaran juga berpotensi terdampak, meski keputusan mengenai sanksi akan dibahas dalam proses terpisah.

Man City meraih sejumlah trofi selama periode yang menjadi objek pemeriksaan.

Karena itu, putusan bersalah tersebut kembali memunculkan pertanyaan mengenai konsekuensi terhadap pencapaian klub pada periode itu.


Mengancam Hubungan Inggris-UEA?

Presiden Uni Emirat Arab, Sheikh Mohamed bin Zayed al-Nahyan kiri) dan pemilik Manchester City, Sheikh Mansour bin Zayed al-Nahyan (dua dari kiri), menonton pertandingan final Liga Champions antara Inter Milan kontra Manchester City di Ataturk Olympic Stadium, Istanbul, pada 10 Juni, 2023. (Franck Fife/ AFP)

Di sisi lain, sebelum vonis Man City diumumkan, Bloomberg melaporkan pejabat Uni Emirat Arab (UEA) telah memperingatkan hasil negatif dalam kasus itu dapat merusak hubungan yang sedang membaik antara UAE dan Inggris.

Bloomberg mengutip dua orang yang mengetahui persoalan tersebut.

Man City dimiliki Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan, yang membeli klub pada 2008.

Sheikh Mansour merupakan Wakil Presiden UAE, sementara saudaranya, Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, menjabat Presiden UAE.

Laporan itu juga menyebut putusan terhadap Man City berpotensi menjadi persoalan bagi upaya Inggris memperluas daya tarik investasi dari negara-negara kaya seperti UAE.

 

Sumber: Give Me Sport