Kisah Sir Alex Ferguson Terungkap Lagi: 400 Jam Rekaman Langka di MU Dibuka

Buku karya Wayne Barton menghadirkan lebih dari 400 jam rekaman wawancara Sir Alex Ferguson yang sebelumnya belum pernah didengar publik.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 02 Oktober 2026, 12:15 WIB
Sir Alex Ferguson, eks manajer Manchester United. (Dok. manutd.com)

Bola.com, Jakarta - Kisah Sir Alex Ferguson bersama Manchester United (MU) kembali terungkap melalui sebuah buku baru berjudul Fergie: The Lost Tapes.

Buku karya Wayne Barton itu menghadirkan lebih dari 400 jam rekaman wawancara Sir Alex Ferguson yang sebelumnya belum pernah didengar publik.

Advertisement

Barton sebenarnya sudah mengerjakan buku mengenai era Ferguson di MU ketika mendapatkan sebuah pesan di media sosial yang mengubah proyek tersebut secara drastis.

Pesan itu datang dari cucu Tom Tyrell, mantan jurnalis Piccadilly Radio yang juga pernah menulis buku tentang MU. Sang cucu menawarkan sejumlah koleksi peninggalan Tyrell yang mungkin menarik bagi Barton.

Barton kemudian mendatangi rumah keluarga Tyrell di Haworth. Ia menemukan berbagai manuskrip, foto, negatif foto, serta sejumlah kaset dan MiniDisc yang ternyata berisi wawancara Ferguson.

“Permata dari koleksi itu jelas audionya. Awalnya saya tidak benar-benar tahu apa isinya, hanya kaset dan minidisc,” ujar Barton.

 

400 Jam Rekaman dari 1986 hingga 2009

Sir Alex Ferguson (c) AFP

Setelah mulai mendengarkan rekaman tersebut, Barton menyadari ia menemukan sesuatu yang sangat berharga.

Rekaman itu mendokumentasikan wawancara Ferguson dari 1986 hingga 2009, terutama percakapan sang manajer dengan Tyrell ketika masih bertugas sebagai reporter radio lokal.

“Saya mulai mendengarkannya dan ternyata pada dasarnya semuanya ada, dari 1986 hingga 2009, dari aktivitas hariannya, terutama bersama Ferguson di The Cliff,” kata Barton.

Barton kemudian menghabiskan waktu sekitar 18 bulan untuk mendengarkan, mendigitalisasi, dan mengarsipkan seluruh rekaman tersebut sembari mengerjakan bukunya.

Menurut Barton, rekaman itu juga memperlihatkan tingkat kepercayaan Ferguson terhadap Tyrell. Sang manajer disebut lebih terbuka kepada jurnalis radio lokal tersebut dibandingkan kepada pers tertulis.

“Saya seperti sedang mendengarkan sejarah, tetapi saat mendengarkan rekaman itu saya tidak tahu momen bersejarah apa yang akan muncul berikutnya,” ujar Barton.


Suara Ferguson di Masa Sulit MU

Manchester United - Sir Alex Ferguson (Bola.com/Adreanus Titus)

Salah satu bagian paling menarik dari rekaman itu adalah periode awal Ferguson di Old Trafford, sebelum MU meraih kesuksesan besar pada 1990-an.

Barton bahkan menemukan rekaman pidato pertama Ferguson kepada penonton di Old Trafford sebelum pertandingan kandang pertamanya sebagai manajer MU melawan Queens Park Rangers.

Tidak ada yang menyadari saat itu momen tersebut ternyata direkam.

“Paling menarik bagi saya adalah semua hal sebelum kami sukses pada 1993. Anda seperti melihat ke dalam pikiran seseorang yang sedang berusaha membalikkan kapal tanker,” tutur Barton.

Menurutnya, rekaman itu juga memperlihatkan bagaimana Ferguson berusaha meyakinkan publik yang masih skeptis dirinya berada di jalur yang tepat.

Barton kemudian mencoba melihat apakah pemikiran Ferguson pada masa itu masih memiliki relevansi dengan sepak bola modern, terutama mengenai mentalitas dan cara membangun kembali sebuah tim.


Petunjuk Ferguson soal Kepergian Roy Keane

2. Roy Keane - Keane mejadi kapten terlama kedua di Manchester United. Kane dipercaya menjadi kapten Manchester United dari tahun 1997-2005. (AFP/Andrew Yates)

Rekaman lainnya memberikan perspektif menarik mengenai salah satu periode penuh gejolak dalam sejarah MU, yakni menjelang kepergian Roy Keane.

Barton menyoroti wawancara Ferguson setelah MU kalah telak 1-4 dari Middlesbrough pada Oktober 2005.

Saat itu, Keane kemudian terlibat dalam kontroversi setelah kritik tajamnya terhadap rekan-rekan setimnya dalam program MUTV.

Beberapa pekan sebelum kepergian Keane, Ferguson sudah berbicara keras mengenai pentingnya menjaga kritik tetap berada di dalam lingkungan klub.

“Dia berbicara dengan sangat keras bahwa kritik harus tetap berada di dalam klub, dan dia sangat terarah. Dia bahkan tidak merujuk kepada sesuatu yang telah terjadi selain MU sedang mengalami periode buruk,” kata Barton.

Namun, dengan melihat kejadian tersebut dari perspektif setelah semuanya terjadi, Barton merasa Ferguson sebenarnya sudah memberikan sejumlah petunjuk mengenai apa yang akan dilakukannya terhadap Keane.

“Dengan kejadian Keane, semuanya seperti bom yang meledak. Itu datang begitu saja dan tidak ada yang tahu bahwa hal tersebut akan terjadi,” ujarnya.

Melalui Fergie: The Lost Tapes, suara Ferguson dari berbagai fase kariernya di MU kini menjadi bagian dari dokumentasi sejarah klub.

Rekaman-rekaman tersebut tidak hanya menghadirkan kembali sosok Ferguson sebagai manajer, tetapi juga memberikan gambaran mengenai pemikirannya ketika United masih berjuang menuju era kejayaan.

Sumber: Manchester Evening News

Berita Terkait