Bola.com, Jakarta - Timnas Indonesia diprediksi tak mudah membobol gawang Thailand pada laga final FIFA ASEAN Cup 2026 di SUGBK Jakarta, Senin (5-10-2026), malam WIB.
Dengan begitu, tampaknya sulit bagi Mitchell Baker mengulang keganasannya seperti ketika lima kali menghujani gawang Bangladesh dalam laga yang berakhir dengan skor fantastis 9-2 di penyisihan Grup A, Kamis lalu.
Luke Vickery dan Kevin Diks yang agresif, ikut menyerang dengan masing-masing menyumbang sebutir gol melawan Bangladesh, juga bakal sulit menerobos pertahanan Tim Gajah Perang.
Ole Romeny pun tak bebas bergerak untuk mengobrak-abrik lini belakang Thailand.
Hal itu lantaran tim asuhan pelatih Anthony Hudson tersebut memiliki deretan bek tangguh sarat pengalaman.
Duet gerendel tengah, Manuel Bihr dan Nattapong Sayriya, terbukti mampu menghadang penyerang Vietnam ketika dibekuk Thailand 2-0.
Kendati keduanya telah berusia di atas 30 tahun, Manuel Bihr dan Nattapong Sayriya diyakini cukup mudah menjaga Mitchell Baker yang notabene masih belia.
Patahkan Sayap Garuda?
Thailand juga memiliki dua pilar mumpuni di sisi kiri dan kanan, yakni Nicholas Mickelson dan Suphanan Bureerat.
Keduanya diyakini mampu mematahkan sayap Garuda, Dean James atau Ragnar Oratmangoen di kiri dan Luke Vickery di kanan.
Kali ini, Kevin Diks agak susah mendukung serangan karena dia akan berhadapan dengan Manuel Bihr (eks Stuttgart Kickers) dan Nicholas Mickelson (SV Elversberg), yang berkolaborasi di sisi kiri pertahanan Thailand, juga daerah operasi Kevin Diks.
"Penyerang Timnas Indonesia, khususnya Mitchell Baker, agak susah cetak gol. Saya amati Thailand punya bek tangguh. Mereka pemain senior yang cukup mudah mematikan Mitchell yang berusia muda," kata Sudirman, pengamat sepak bola nasional.
Solusi bagi Timnas Indonesia
Pernyataan itu berdasar pengalaman Sudirman ketika sebagai pemain usia matang dulu.
"Pemain matang pengalaman bisa mengantisipasi pergerakan striker. Termasuk membaca permainan lawan. Saya kira situasi itu yang akan terjadi saat Timnas Indonesia menyerang Thailand," jelasnya.
Namun, mantan stoper yang jadi pahlawan Timnas Indonesia saat merebut medali emas lewat drama adu penalti kontra Thailand di SEA Games Manila 1991 itu, memberi solusi.
"Jika Mitchell Baker dan Ole Romeny dimatikan, pemain lain harus berani melakukan tendangan dari jarak jauh. Cara lainnya, Mitchell Baker dengan postur tingginya bisa sebagai pemantul bola bagi rekannya," ulas Sudirman.