Mantan Manajer Leeds United Klaim Semua Orang Tahu Manchester City Curang

Mantan manajer Leeds United, Jesse Marsch, mengklaim semua orang tahu Man City melakukan kecurangan.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 05 Oktober 2026, 19:30 WIB
Ilustrasi Manchester City divonis bersalah atas 115 pelanggaran FFP oleh Premier League. (Bola.com/AI)

Bola.com, Jakarta - Mantan manajer Leeds United, Jesse Marsch, menilai Manchester City layak mendapat hukuman berat setelah dinyatakan bersalah atas pelanggaran aturan finansial Premier League.

Marsch bahkan mengklaim banyak pihak sudah mengetahui persoalan itu sebelum putusan dijatuhkan.

Advertisement

Man City dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 tuduhan oleh komisi independen. The Citizens juga terancam degradasi dari Premier League sebagai satu di antara kemungkinan hukuman.

Komisi menemukan Man City menggunakan skema pendanaan terselubung pada periode 2009 hingga 2018 untuk menyembunyikan pendanaan rahasia senilai lebih dari 830 juta paun.

Man City terus membantah tuduhan dan telah mengajukan banding sehingga proses kasus ini diperkirakan berlangsung lebih lama.

Marsch kini menjadi pelatih Timnas Kanada. Ia menangani Leeds United pada musim 2022/2023 dan gagal mencegah The Whites terdegradasi dari Premier League.

Pada musim yang sama, Man City meraih tiga trofi, yakni Premier League, Liga Champions, dan Piala FA.


Pernyataan Marsch

Jesse Marsch melakukan debutnya sebagai manajer baru Leeds United saat bertamu ke markas Leicester City di King Power Stadium, Sabtu (05/03/2022) malam WIB. (PA via AP/Mike Egerton)

Kendati periode yang menjadi dasar kasus pelanggaran finansial Man City terjadi jauh sebelum musim 2022/2023, Marsch tetap menilai klub itu layak mendapat hukuman berat.

"Saya pikir Manchester City harus dihukum berat. Menurut saya, mereka harus terdegradasi. Dan, ngomong-ngomong, semua orang tahu tentang hal itu. Semua orang tahu," kata Marsch kepada The Guardian.

Marsch kemudian mengingat situasi pada musim panas 2022. Menurutnya, Leeds dan Man City menjadi dua klub yang saat itu menyatakan berhasil menghasilkan uang.

Leeds memang mendapatkan pemasukan dari penjualan Raphinha dan Kalvin Phillips, yang kemudian bergabung dengan Man City.

Marsch mengatakan kondisi keuangan Leeds membuat klub tidak bisa sembarangan menghabiskan uang hasil penjualan pemain.

"Pada saat itu, kami tidak berada dalam kondisi keuangan yang memungkinkan untuk tidak menyimpan uang. Pemilik kami juga tidak memiliki dana yang besar," ujar Marsch.


Inilah Sepak Bola

Manchester City sangat beruntung mendapat servis pemain sekelas Erling Haaland. Bomber yang ditebus seharga 75 juta Euro dari Dortmund itu tak henti-henti merobek gawang lawan. Sejauh ini ia telah mencetak 21 gol untuk City liga Inggris. (AFP/Nigel Roddis)

Karena itu, Marsch merasa heran ketika Man City mengumumkan transfer Erling Haaland dengan nilai 52 juta paun.

"Ketika Manchester City mengatakan mereka mendapatkan Erling Haaland seharga 52 juta paun, saya benar-benar berpikir, 'Apa-apaan ini? Ini semacam lelucon?'" tutur Marsch.

Marsch mengaku sudah menyadari adanya ketidaksesuaian dalam situasi Man City. Namun, saat itu ia merasa tidak memiliki pilihan untuk menyikapinya lebih jauh.

"Saya tahu ada ketidaksesuaian di dalamnya, tetapi apa yang bisa Anda lakukan? Anda hanya bisa mengangkat tangan dan berkata, 'Inilah sepak bola,'" katanya.

Persoalan Leeds pada musim 2022/2023 tidak hanya berkaitan dengan Man City. Leeds mengakhiri musim di bawah Everton dan Nottingham Forest.

Kedua klub itu kemudian mendapat pengurangan poin karena melanggar aturan finansial Premier League.


Emery Ikut Menyoroti

Unai Emery, manajer Aston Villa. (Bola.com/X @AVFCOfficial)

Komentar Marsch muncul setelah manajer Aston Villa, Unai Emery, juga menyinggung persoalan finansial Man City pada awal pekan.

Emery menyebut persoalan itu sudah diketahui dan menilai ada klub-klub lain yang juga menaikkan anggaran mereka.

"Ini adalah masalah yang sudah diketahui. Kami semua memiliki batasan. Kami harus menjual pemain untuk memenuhi aturan Financial Fair Play dan harus mencari cara menyusun kontrak dengan pemain baru," ujar Emery kepada Diario de Sevilla.

Menurut pelatih asal Spanyol itu, aturan Financial Fair Play bertujuan menjaga keseimbangan keuangan agar pengeluaran klub sesuai dengan pendapatan yang dihasilkan.

"Ya, banyak klub lain yang menaikkan anggaran mereka dan sekarang hal itu mulai terungkap. Tentu saja ada penurunan," kata Emery.

Emery menyerahkan keputusan mengenai persoalan itu kepada pengadilan dan pihak yang berwenang. Di sisi lain, ia mengaku tetap merasa prihatin karena Man City pernah tampil sangat kuat di bawah Pep Guardiola.

"Saya merasa sedih karena melihat bagaimana tim itu bermain. Bersama Guardiola, ada saat-saat ketika mereka tidak tertandingi," ujar Emery.

 

Sumber: Mirror

Berita Terkait