Bola.com, Jakarta - Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, mengungkap salah satu kunci di balik produktivitas skuad Garuda pada FIFA ASEAN Cup 2026. Menurutnya, tanggung jawab mencetak gol tidak boleh hanya dibebankan kepada pemain yang mengenakan nomor 9.
Dalam empat pertandingan, sembilan pemain Timnas Indonesia berhasil mencatatkan gol. Kondisi tersebut menjadi gambaran bagaimana Herdman berusaha membangun pola serangan yang tidak bergantung kepada satu pemain.
Herdman menyebut sejak awal dirinya terus menanamkan pesan bahwa setiap pemain yang mengenakan jersey merah memiliki kesempatan untuk menjadi penentu kemenangan.
“Kami memiliki mantra dalam tim. Jika Anda mendengar saya berbicara sebelum pertandingan melawan Oman, sangat jelas bahwa setiap orang yang mengenakan jersey merah bisa menang,” ujar Herdman dalam wawancara eksklusif dengan Liputan6 Sport.
Posisi yang Paling Sulit Dicari
Menurut pelatih asal Inggris tersebut, Indonesia memang masih memiliki mimpi untuk menemukan sosok striker nomor 9 yang benar-benar bisa menjadi tumpuan utama lini depan. Namun, Herdman menilai proses tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
“Jelas bagi saya bahwa Indonesia bergantung pada mimpi ini, bahwa kita akan menemukan nomor 9 di seluruh dunia atau kita akan mengembangkannya. Tapi itu mungkin tidak akan terjadi untuk generasi lain, 10 tahun lagi, satu dekade, bahkan dua dekade,” jelasnya.
Karena itu, Herdman memilih memaksimalkan pemain yang tersedia saat ini. Ia menyadari banyak pemain Indonesia mampu bermain di berbagai posisi, tetapi tidak banyak yang secara natural berposisi sebagai striker.
“Jadi kami harus bergantung pada apa yang kami miliki sekarang. Apa yang kami miliki sekarang adalah sekelompok pemain yang memainkan banyak posisi, tetapi tidak banyak yang bermain sebagai striker,” tutur Herdman.
Kurangi Beban Nomor 9
Situasi tersebut membuat Herdman ingin mengurangi beban yang melekat pada jersey nomor 9. Menurutnya, tugas mencetak gol harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh pemain.
“Peran striker adalah sesuatu yang tidak bisa kami bebankan hanya kepada seseorang yang memakai nomor 9. Kami semua harus berbagi tekanan itu,” tegasnya.
Herdman pun memberikan contoh bagaimana pemain dari posisi lain bisa muncul sebagai pencetak gol. Ia menyebut situasi bola mati yang dapat memberikan kesempatan kepada pemain bertahan untuk menjadi penentu.
“Itu adalah jersey yang berat, nomor 9. Tetapi semakin banyak pemain yang bisa menerima tanggung jawab untuk mencetak gol dan mengambil peran dalam situasi bola mati, semakin baik,” kata Herdman.
Bahkan Bek Bisa Cetak Gol
Ia mencontohkan pemain belakang seperti Rizky Ridho yang bisa berada di posisi berbahaya dan mencetak gol, termasuk ketika menghadapi Bangladesh. Menurut Herdman, kemunculan pemain dari posisi berbeda tersebut bukan sesuatu yang terjadi secara kebetulan.
“Seperti yang Anda lihat, Rizky Ridho, seorang bek tengah, berada di posisi yang tepat untuk mencetak gol melawan Bangladesh. Posisi-posisi ini kami latih dan tidak terjadi secara kebetulan,” ungkapnya.
Bagi Herdman, strategi tersebut merupakan bagian dari upayanya menghilangkan tekanan berlebihan terhadap pemain nomor 9. Sembari tetap mencari dan mengembangkan striker murni yang bisa menjadi solusi jangka panjang Timnas Indonesia.
“Dalam pikiran saya, kami harus menghilangkan tekanan dari nomor 9 dan tetap mencoba menemukannya,” ujar Herdman.
Ia juga menegaskan bahwa Indonesia tetap membutuhkan sosok penyerang tengah natural. Nama-nama seperti Mitchell Baker dan Ole Romeny memang bisa memberikan kontribusi besar, tetapi Herdman masih memiliki ambisi untuk melahirkan striker murni dari Indonesia.
“Menurut saya, untuk menempatkan itu pada Mitchell Baker atau Ole Romeny, kami masih harus menghasilkan seorang center forward dari Indonesia. Dan itu adalah mimpi saya,” pungkas Herdman.
Sumber: Liputan6 Sport