Persija Jakarta Tegaskan Sikap, Aparat Diminta Usut Tuntas Penyerangan Rombongan EPA Persib

Persija Jakarta desak aparat usut tuntas penyerangan rombongan EPA Persib di Rest Area Batang KM 360, mengecam kekerasan dan menyeru rivalitas hanya di lapangan

BolaCom | Harley IkhsanDiterbitkan 13 Oktober 2026, 16:14 WIB
Persija Jakarta - Ilustrasi Logo Persija Jakarta 2024 (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Persija Jakarta mendesak pihak berwenang mengusut tuntas penyerangan terhadap rombongan tim Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung. Manajemen klub menekankan pentingnya proses hukum yang objektif dan sesuai aturan berlaku.

"Persija mendukung agar insiden ini diusut secara tuntas, objektif, dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Pihak-pihak yang terbukti terlibat harus bertanggung jawab atas perbuatannya," tulis keterangan resmi Persija Jakarta.

Advertisement

Insiden tersebut dilaporkan terjadi di Rest Area Batang KM 360, Jawa Tengah, Minggu (11/10/2026), dan melibatkan oknum suporter Persija Jakarta. Peristiwa itu menyasar rombongan tim EPA Persib yang tengah dalam perjalanan.

Dalam rekaman singkat yang beredar di media sosial, bus rombongan pemain Persib EPA tampak mengalami kerusakan, termasuk kaca bus yang pecah akibat lemparan benda-benda keras. Persija mengecam keras aksi ini, menyesalkan tindakan yang tidak hanya merusak kendaraan, tetapi juga membahayakan keselamatan serta menimbulkan kerugian bagi para pemain dan ofisial tim. "Kami berharap seluruh anggota rombongan dapat segera pulih dari dampak kejadian tersebut," demikian pernyataan klub.


Rivalitas Sepak Bola Hanya di Lapangan

PERSIJA (Liputan6.com/Abdillah)

Persija menegaskan bahwa kekerasan, penyerangan, maupun penjarahan dengan dalih rivalitas sepak bola tidak dapat dibenarkan. Klub menilai tindakan demikian sebagai perilaku tidak bertanggung jawab yang mencederai nilai sportivitas dan merusak semangat persaudaraan dalam sepak bola Indonesia.

Macan Kemayoran juga menyayangkan adanya oknum yang berlindung di balik nama atau identitas suporter untuk melakukan kekerasan. Pemanfaatan atribut suporter untuk aksi destruktif disebut menodai komunitas pendukung secara keseluruhan.

Rivalitas, menurut klub ibu kota tersebut, semestinya hanya terjadi di dalam lapangan. Aksi yang mengancam keselamatan orang lain, terlebih para pemain muda yang sedang meniti masa depan di dunia sepak bola, tidak memiliki tempat.

Persija mengajak seluruh suporter menunjukkan kedewasaan dalam memberikan dukungan. Loyalitas dan kecintaan terhadap klub tidak pernah bisa dijadikan alasan untuk menyakiti sesama. "Hentikan kekerasan, rivalitas bukan alasan untuk melukai. Sepak bola Indonesia harus menjadi ruang yang aman bagi semua," tutup keterangan Persija.

Berita Terkait