Ballon d’Or Putri 2026: Melchie Dumornay Teratas, Ewa Pajor dan Khadija Shaw Membayangi

Persaingan Ballon d’Or Putri 2026 diprediksi berlangsung terbuka.

BolaCom | Merisa AmandaDiterbitkan 14 Oktober 2026, 09:45 WIB
Ballon d'Or merupakan penghargaan untuk individu yang mampu tampil gemilang untuk klub maupun negaranya dalam satu musim. Trofi Ballon d'Or sendiri merupakan trofi individu termahal di dunia yaitu 600 ribu dolar AS atau setara Rp8,6 miliar. (Foto: AFP/Fabrice Coffrini)

Bola.com, Jakarta - Persaingan memperebutkan Ballon d’Or Putri 2026 menghadirkan sejumlah nama baru yang berpeluang mengukir sejarah.

Untuk kali pertama sejak 2023, penghargaan individu paling bergengsi di sepak bola putri berpotensi melahirkan pemenang baru.

Advertisement

Dalam pemeringkatan yang dirilis The Guardians pada 1 Oktober 2026, gelandang OL Lyonnes dan Timnas Haiti, Melchie Dumornay, menempati posisi teratas.

Ia mengungguli penyerang Barcelona, Ewa Pajor, serta striker Manchester City, Khadija Shaw.

Persaingan kali ini semakin menarik karena Aitana Bonmatí, pemenang Ballon d’Or Putri sebelumnya, tidak masuk daftar kandidat setelah mengalami cedera patah kaki.

Situasi tersebut membuka peluang bagi pemain lain untuk merebut penghargaan.

Meski demikian, peringkat The Guardians merupakan penilaian editorial terhadap kandidat, bukan hasil resmi pemungutan suara Ballon d’Or.


Melchie Dumornay Jadi Kandidat Terkuat

Gelandang Timnas Haiti Putri, Melchie Dumornay, ketika menghadapi Jepang di Saint-Quen, Paris, 9 Oktober 2026. (FRANCK FIFE / AFP)

Melchie Dumornay menempati urutan pertama berkat kontribusinya bersama OL Lyonnes. Pemain berusia 23 tahun itu menjadi bagian penting dari keberhasilan klub Prancis tersebut meraih tiga gelar domestik pada musim lalu.

Pengaruh Dumornay di lini tengah semakin menonjol. Kualitas teknik dan kemampuannya menghubungkan permainan membuatnya menjadi salah satu pemain penting dalam perjalanan Lyonnes di berbagai kompetisi.

Perannya terlihat ketika ia kembali dari cedera pada leg kedua semifinal Liga Champions putri melawan Arsenal.

Dumornay tampil impresif dan membantu Lyonnes meraih kemenangan 3-1, setelah sebelumnya kalah 1-2 pada pertemuan pertama.

Ia juga mencetak lima gol sepanjang perjalanan Lyonnes di Liga Champions dan masuk tim terbaik turnamen.

Catatan tersebut memperkuat peluangnya untuk bersaing dalam perebutan Ballon d’Or Putri 2026.


Ewa Pajor Akhiri Penantian di Liga Champions

Penyerang Barcelona asal Polandia, Ewa Pajor, saat beraksi di Liga Champions Wanita. (Lluis GENE / AFP)

Ewa Pajor menempati posisi kedua setelah menjalani musim yang berkesan bersama Barcelona.

Penyerang asal Polandia itu akhirnya meraih gelar Liga Champions setelah sebelumnya mengalami lima kekalahan di partai final.

Pajor menjadi salah satu tokoh utama dalam kemenangan Barcelona atas OL Lyonnes pada final Liga Champions 2026 di Oslo. Ia mencetak dua gol ketika Barcelona menang telak 4-0.

Produktivitasnya juga terlihat sepanjang kompetisi. Pajor mengoleksi 11 gol di Liga Champions musim lalu, menyamai catatan Alexia Putellas pada musim 2021/2022.

Di Liga F, kompetisi kasta tertinggi sepak bola putri Spanyol, Pajor mencetak 16 gol. Jumlah itu hanya kalah dari rekan setimnya, Claudia Pina, yang mengemas 21 gol.

Perpaduan produktivitas individu dan keberhasilan di kompetisi Eropa membuat Pajor menjadi salah satu pesaing serius Dumornay.


Khadija Shaw Bawa Manchester City Raih Dua Gelar

Striker Manchester City, Khadija Shaw, ketika menghadapi Bayern Munchen di Liga Champions Wanita. (Michaela STACHE / AFP)

Khadija Shaw berada di posisi ketiga setelah kembali menunjukkan ketajamannya bersama Manchester City. Penyerang asal Jamaika tersebut mencetak 21 gol dalam 22 pertandingan Liga Super Wanita Inggris (WSL) musim lalu.

Kontribusinya membantu Manchester City menjuarai WSL dan Piala FA. Shaw juga menorehkan pencapaian individu dengan meraih Sepatu Emas WSL untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Namun, kualitas Shaw tidak hanya terletak pada jumlah gol. Kemampuannya menahan bola, membantu pertahanan, serta membaca ruang turut memberikan keuntungan bagi permainan tim.

Penampilannya mendapat pengakuan melalui penghargaan pemain terbaik versi Professional Footballers’ Association (PFA) dan Football Writers’ Association (FWA).

Dengan kontribusi di level klub dan tim nasional, Shaw memiliki modal kuat untuk bersaing dalam perebutan penghargaan tahun ini.


Alexia Putellas Masih Punya Daya Saing

Putellas turut menciptakan gol dalam kemenangan 6-0 Barcelona. Ia menjadi keran gol bagi Blaugrana dan membuat agregat akhir menjadi 12-2. (AFP/Lluis Gene)

Alexia Putellas menempati posisi keempat dalam pemeringkatan The Guardians. Meski telah berusia 32 tahun, gelandang Spanyol itu masih menunjukkan kualitas yang membuatnya layak diperhitungkan.

Putellas menjalani musim terakhir bersama Barcelona sebelum bergabung dengan London City Lionesses pada Juli 2026. Ia mencetak tujuh gol di Liga Champions dan menorehkan sembilan gol serta tujuh assist di Liga F.

Pengalamannya di pertandingan besar menjadi salah satu keunggulan. Putellas merupakan peraih dua Ballon d’Or Putri, yang dimenangkannya pada 2021 dan 2022.

Keberhasilan Barcelona meraih empat gelar pada musim lalu juga menjadi bagian dari konteks penilaian terhadap performanya.

Namun, persaingan tahun ini tidak hanya ditentukan oleh reputasi masa lalu, melainkan juga kontribusi individu sepanjang musim.


Yui Hasegawa Jadi Penggerak Lini Tengah Manchester City

Gelandang Timnas Jepang Putri, Yui Hasegawa (kanan). (FRANCK FIFE / AFP)

Yui Hasegawa melengkapi lima besar dalam daftar tersebut. Gelandang asal Jepang ini menjadi salah satu pemain penting di balik keberhasilan Manchester City meraih gelar WSL dan Piala FA.

Peran Hasegawa tidak selalu terlihat melalui gol atau assist. Ia menjadi penghubung antarlini, membantu menjaga penguasaan bola, serta mengatur ritme permainan Manchester City.

Kontribusinya membuat Hasegawa masuk tim terbaik WSL versi PFA. Ia juga membantu Jepang menjuarai Piala Asia Wanita AFC, sekaligus mengamankan tiket ke Piala Dunia Wanita.

Hasegawa kembali masuk dalam persaingan Ballon d’Or setelah sebelumnya pernah berada dalam daftar kandidat.

Jika kontribusinya mendapat pengakuan lebih luas, gelandang itu berpeluang menembus persaingan di antara para pemain depan yang lebih produktif.