Pecco Bagnaia Tak Terkejut Terjatuh di MotoGP Mandalika, Ungkap Masalah Grip Ducati

Francesco Bagnaia mengaku tidak terkejut setelah gagal finis di MotoGP Indonesia 2026.

BolaCom | Merisa AmandaDiterbitkan 13 Oktober 2026, 20:15 WIB
Pembalap Ducati Tim Lenovo Italia, Francesco Bagnaia, terjatuh menyusul kecelakaan saat Grand Prix MotoGP San Marino di Sirkuit Dunia Misano Marco Simoncelli, di Misano Adriatico, Italia utara pada 13 September 2026. (Andreas SOLARO/AFP)

Bola.com, Jakarta - Francesco Bagnaia mengaku tidak terkejut ketika terjatuh pada MotoGP Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika, Lombok, Minggu (11/10/2026).

Pembalap Ducati Lenovo Team tersebut merasa kehilangan cengkeraman dan tidak mendapatkan sensasi berkendara yang dibutuhkan untuk mengendalikan motornya.

Advertisement

Bagnaia mengakhiri balapan lebih awal setelah mengalami kecelakaan pada lap keenam. Hasil tersebut memperpanjang periode sulit yang dialaminya sepanjang musim 2026, meskipun ia sempat menunjukkan tanda-tanda kebangkitan pada awal akhir pekan di Mandalika.

"Saya tidak terkejut. Saya lambat dan mencoba mengejar Luca untuk meningkatkan tekanan ban depan," ujar Bagnaia, dikutip dari Crash Selasa (13/10/2026).

Ia memaksakan menggeber motor untuk mengejar Luca Marini. Namun, pada saat itu, motor Ducati yang dikendarainya tidak mampu memberikan dukungan yang dibutuhkan sehingga ia kehilangan kendali dan terjatuh.


Kehilangan Grip

Francesco Bagnaia dari tim Ducati Tim Lenovo berlaga pada sesi kualifikasi Grand Prix MotoGP Aragon di sirkuit Motorland di Alcaniz, timur laut Spanyol, pada 29 Agustus 2026. (Pierre-Philippe MARCOU/AFP)

Bagnaia menyebut kehilangan cengkeraman sebagai persoalan utama yang membuatnya kesulitan sepanjang balapan. Kondisi tersebut membuatnya tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk mendorong motor lebih keras.

"Saya hanya terjatuh. Tidak ada grip, tidak ada feeling, dan saya terjatuh. Sederhana saja," kata Bagnaia.

Masalah tersebut bukan hal baru bagi pembalap asal Italia itu. Ia sebelumnya telah berjuang menemukan performa terbaik Ducati, terutama dalam hal cengkeraman ban belakang dan koneksi antara pembalap dengan motor saat membuka gas.

Mandalika memperjelas kelemahan tersebut. Karakter sirkuit yang menuntut kecepatan sekaligus cengkeraman kuat membuat Bagnaia semakin kesulitan ketika motor tidak memberikan respons sesuai harapannya.

Menurut Bagnaia, persoalan itu juga berkaitan dengan kemunduran performa yang dirasakan Ducati dalam dua tahun terakhir.

"Ya, sayangnya, langkah mundur yang kami alami dalam dua tahun terakhir terasa sangat jelas di sirkuit ini, tempat kecepatan dan grip sangat dibutuhkan," ujarnya.


Persoalan Besar

Pecco Bagnaia saat alami crash pada Main Race MotoGP Prancis di Sirkuit Le Mans. (Loic VENANCE / AFP)

Bagnaia juga menyoroti minimnya koneksi dengan gas sebagai salah satu persoalan yang menghambat performanya.

"Kami tidak lagi memiliki banyak koneksi dengan gas, dan di sirkuit seperti ini, hal itu benar-benar terlihat," kata Bagnaia.

Ia menambahkan bahwa kebutuhan akan dukungan dari ban belakang sangat besar di Mandalika. Tanpa cengkeraman yang memadai, pembalap akan lebih sulit menjaga kecepatan dan mengendalikan motor ketika keluar dari tikungan.

Bagnaia turut membandingkan data motornya dengan pembalap Ducati lainnya. Menurutnya, beberapa rival satu pabrikan terlihat memiliki cengkeraman sedikit lebih baik, meskipun kondisi mereka juga belum ideal.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan Ducati di Mandalika tidak hanya berkaitan dengan satu pembalap. Namun, Bagnaia merasakan dampak yang lebih besar karena kesulitan menemukan setelan dan sensasi berkendara yang sesuai.


Sempat Menunjukkan Kemajuan

Pembalap Ducati, Pecco Bagnaia. (Vincent Jannink / ANP / AFP)

Akhir pekan Bagnaia di Mandalika sebenarnya sempat memberikan harapan. Ia berhasil menembus kualifikasi kedua (Q2) secara langsung untuk pertama kalinya sejak Grand Prix Belanda pada Juni 2026.

Hasil tersebut menjadi tanda kemajuan setelah serangkaian balapan yang sulit. Bagnaia juga finis kedelapan dalam Sprint Race pada Sabtu (10/10/2026), meskipun belum mampu bersaing untuk memperebutkan kemenangan.

Akan tetapi, perkembangan itu tidak berlanjut pada balapan utama. Bagnaia kembali kesulitan menemukan kecepatan dan akhirnya terjatuh saat berusaha mengejar pembalap di depannya.

Di sisi lain, Ducati masih memiliki beberapa hasil positif di Indonesia. Fabio Di Giannantonio meraih posisi ketiga dalam kualifikasi, sedangkan Marc Marquez sempat memenangi Sprint Race sebelum finis keenam pada balapan utama.

Bagi Bagnaia, hasil di Mandalika menjadi pekerjaan rumah besar bagi Ducati. Tim harus menemukan solusi terhadap masalah cengkeraman dan respons motor agar ia dapat kembali tampil kompetitif pada seri-seri berikutnya.

Sumber: Crash

 

Berita Terkait