Isu Keretakan Timnas Korea Selatan Memanas, Federasi Kecam Serangan terhadap Pemain

Rumor perpecahan Timnas Korea Selatan menyebar, KFA (Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan) minta serangan terhadap pemain dihentikan.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 13 Oktober 2026, 22:00 WIB
Son Heung-min saat tampil untuk Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2026. (Ulises RUIZ / AFP)

Bola.com, Jakarta - Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) meminta publik menghentikan hinaan dan serangan pribadi terhadap para pemain Timnas Korea Selatan.

KFA menilai tindakan semacam itu tidak memberikan manfaat bagi perkembangan sepak bola nasional.

Advertisement

Dalam pernyataan resmi pada Selasa, KFA menyoroti maraknya informasi yang belum terverifikasi dan spekulasi mengenai anggota Timnas Korea Selatan di media sosial maupun komunitas daring.

Tim berjuluk Taegeuk Warriors itu belakangan menjadi sasaran berbagai rumor mengenai perselisihan internal.

Setelah menjalani pertandingan persahabatan melawan Uzbekistan, Selasa pekan lalu, dalam rangkaian jeda internasional, tiga pemain kelahiran 1996, yakni Hwang Hee-chan, Hwang In-beom, dan Kim Min-jae, dikabarkan menyampaikan kepada rekan setim bahwa mereka ingin pensiun dari tim nasional.

Ketiganya disebut kecewa terhadap kelompok pemimpin tim yang melibatkan kapten Son Heung-min dan Lee Jae-sung, yang sama-sama berusia 34 tahun.


Awal Rumor

Gelandang Timnas Korea Selatan, Park Jin-seob, bersama rekan-rekannya bereaksi setelah kalah dalam pertandingan Grup A Piala Dunia 2026 antara Afrika Selatan melawan Korea Selatan di Monterrey Stadium, Guadalupe, Meksiko, pada 24 Juni 2026. (Yuri CORTEZ / AFP)

Rumor mengenai siapa yang memulai perselisihan terus bermunculan di forum penggemar sepak bola dan kanal YouTube.

Sebagian pihak membela Son sebagai kapten, sedangkan yang lain mendesaknya mundur dan menyerahkan jabatan itu kepada pemain yang lebih muda.

KFA menegaskan pihaknya menghormati perbedaan pendapat serta kritik membangun dari para suporter.

Namun, KFA mengaku sangat prihatin terhadap penyebaran rumor tanpa dasar dan pernyataan menyerang yang berpotensi menjadi pencemaran nama baik.

"Beberapa momen dari sesi latihan atau kehidupan sehari-hari pemain telah diambil di luar konteks untuk menggambarkan perselisihan internal sebagai sebuah fakta. Selain itu, beredar pula video hasil manipulasi deepfake yang membuat pemain menjadi sasaran ejekan dan fitnah," demikian pernyataan KFA, dilansir Yonhap.


Imbauan KFA

Para pemain Korea Selatan mengikuti sesi latihan di Chivas Verde Valle di Guadalajara, Meksiko, pada 15 Juni 2026, selama turnamen Piala Dunia 2026. (Ulises Ruiz/AFP)

Federasi juga menyoroti serangan pribadi yang dilancarkan melalui akun media sosial para pemain, bahkan hingga akun resmi klub yang mereka bela.

Menurut KFA, tindakan semacam itu dapat menimbulkan beban psikologis serius bagi pemain dan sama sekali tidak membantu sepak bola Korea Selatan.

KFA turut menyatakan akan mengambil tindakan tegas terhadap penggunaan kekayaan intelektual tanpa izin, termasuk video dan foto milik federasi, untuk membuat maupun menyebarkan informasi palsu.

Federasi menegaskan setiap anggota tim nasional berhak mendapatkan penghormatan.

Perbedaan pandangan di antara pemain dinilai sebagai bagian dari proses untuk saling memahami, bertukar pendapat secara terbuka, dan menentukan arah terbaik bagi tim.


KFA Siapkan Respons Tegas

Gelandang Korea Selatan #10, Lee Jae-sung (3R), merayakan gol pertama timnya bersama rekan-rekan setimnya selama pertandingan Grup C putaran kedua kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia antara Thailand dan Korea Selatan di Stadion Nasional Rajamangala di Bangkok pada 26 Maret 2024. (Lillian SUWANRUMPHA/AFP)

Sebaliknya, KFA meminta publik tidak menilai kondisi tim hanya berdasarkan potongan informasi dan spekulasi yang justru dapat memperbesar konflik.

"Kami di KFA harus menyediakan seluruh dukungan yang diperlukan agar para pemain dapat berkonsentrasi pada pertandingan yang mereka hadapi. Kami memandang tanggung jawab itu dengan serius," lanjut pernyataan tersebut.

KFA juga mengakui situasi yang berkembang telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan suporter.

Federasi berjanji tetap mendengarkan para pemain sekaligus menerima berbagai pendapat dan kritik dari publik dengan terbuka.

 

Sumber: Yonhap

Berita Terkait