F1 Kembali ke Afrika setelah 33 Tahun, Rwanda Jadi Tuan Rumah Grand Prix Mulai 2030

Setelah absen 33 tahun, F1 siap gelar Grand Prix Afrika di Rwanda pada 2030.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 14 Oktober 2026, 05:00 WIB
Ilustrasi F1, Formula 1. (Bola.com/AI)

Bola.com, Jakarta - Formula 1 (F1) akan kembali menggelar balapan di Afrika untuk pertama kalinya sejak 1993.

Rwanda resmi mendapatkan kesepakatan untuk menjadi tuan rumah Grand Prix Afrika melalui perjanjian bersejarah berdurasi 10 tahun.

Advertisement

Balapan tersebut direncanakan berlangsung di sirkuit baru yang akan dibangun di Bugesera, sekitar 40 kilometer di selatan Kigali, ibu kota Rwanda.

F1 menargetkan trek tersebut mulai masuk kalender kejuaraan dunia pada 2030.

Kehadiran Grand Prix Afrika menjadi bagian dari ambisi F1 memperluas jangkauan olahraga otomotif itu ke berbagai wilayah dunia.

Desain sirkuit yang menyatu dengan lanskap alami Afrika Sub-Sahara diharapkan menghadirkan tantangan tersendiri bagi para pembalap sekaligus menarik minat penggemar.


Terakhir di Afrika

Ayrton Senna_(AFP PHOTO/JEAN-LOUP GAUTREAU)

Balapan terakhir F1 di Afrika berlangsung di Sirkuit Kyalami, Afrika Selatan, pada 1993.

Saat itu, Alain Prost memenangi balapan di tengah persaingannya dengan pembalap legendaris Brasil, Ayrton Senna.

Selama satu dekade terakhir, wacana mengembalikan F1 ke Afrika kerap muncul.

Maroko sempat dipertimbangkan sebagai calon tuan rumah pada 2019, terlebih negara itu pernah menggelar ajang Formula E di Marrakesh dan memiliki sejarah menggelar Grand Prix di dekat Casablanca pada 1958.

Kembalinya F1 ke Kyalami juga sempat menjadi satu di antara opsi. Namun, pembicaraan mengenai kedua lokasi itu tidak berkembang hingga menghasilkan kesepakatan untuk masuk kalender balapan.


Sirkuit Rwanda Dirancang Mengikuti Kontur Alam

Ilustrasi F1, Formula 1. (Bola.com/AI)

Rwanda kini dipandang sebagai salah satu negara yang berpotensi menjadi tuan rumah jangka panjang F1.

Rwanda telah mengukuhkan posisinya sebagai destinasi penyelenggaraan acara internasional dan pariwisata di Afrika.

Sirkuit di Bugesera akan dibangun mengikuti kontur perbukitan alami. Trek tersebut direncanakan memiliki perubahan elevasi dan sejumlah tikungan berkecepatan tinggi untuk menghadirkan karakter balapan yang menantang dan berbeda.

Gambaran awal desain sirkuit telah diperkenalkan, tetapi rancangan lengkapnya masih dalam tahap pengembangan.

WurzDesign, perusahaan yang dipimpin mantan pembalap F1, Alex Wurz, bekerja sama dengan Tilke Engineers and Architects dalam proyek ini.

Tilke dikenal sebagai perancang sejumlah sirkuit ternama, termasuk Sepang International Circuit di Malaysia dan Circuit of the Americas di Austin, Amerika Serikat.


Komentar Presiden Rwanda

Presiden Paul Kagame menghadiri KTT G20 di Bali, Selasa (15/11/2022). (Dok. Presidency Rwanda via Twitter)

Presiden Rwanda, Paul Kagame, yang turut membantu mewujudkan kesepakatan tersebut, menyambut penetapan negaranya sebagai tuan rumah Grand Prix Afrika.

"Hari ini adalah milik Afrika. Selama lebih dari tiga dekade, kejuaraan balap motor paling bergengsi di dunia berlangsung tanpa kehadiran benua ini. Kesepakatan ini mengubah keadaan tersebut," ujar Kagame, dikutip dari Give Me Sport.

Ia menambahkan, Rwanda bangga mendapat kesempatan menggelar Grand Prix Afrika dan berbagi momen bersejarah itu dengan lebih dari 100 juta penggemar F1 di seluruh Afrika.

Menurutnya, banyak di antara mereka merupakan anak muda yang layak menyaksikan ajang tersebut secara langsung di benua sendiri serta memiliki kesempatan berkarier sebagai insinyur, teknisi, pengusaha, hingga pembalap.


Afrika Jadi Pasar Potensial F1

Pembalap Inggris dari tim Ferrari, Lewis Hamilton (kiri), didorong keluar lintasan oleh pembalap Monako dari tim Ferrari, Charles Leclerc (kanan), saat start Grand Prix F1 Italia di sirkuit Autodromo Nazionale Monza di Monza, Italia utara, pada 6 September 2026. (Andrej ISAKOVIC/AFP)

F1 memandang Afrika sebagai pasar yang belum tergarap secara maksimal.

F1 memperkirakan terdapat lebih dari 100 juta penggemar di benua itu, dengan 60 persen penggemar di pasar utama Afrika Sub-Sahara berusia di bawah 35 tahun.

Kendati kesepakatan tuan rumah telah tercapai, sejumlah detail penting masih belum diumumkan.

Informasi mengenai tahapan pembangunan berikutnya dan tanggal pelaksanaan perdana Grand Prix Afrika masih dinantikan oleh penggemar di Afrika maupun berbagai belahan dunia.

 

Sumber: Give Me Sport

Berita Terkait