Emil Audero Optimistis Timnas Indonesia Tembus Piala Dunia 2030, Ungkap Alasan di Balik Keyakinannya

Ambisi Emil Audero usai bawa Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, kini saatnya memimpikan Piala Dunia.

BolaCom | Vincentius AtmajaDiterbitkan 14 Oktober 2026, 14:15 WIB
Kiper Timnas Indonesia, Emil Audero, merayakan keberhasilannya menggagalkan penalti Oman dalam laga uji coba internasional di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Jumat (5/6/2026). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Bola.com, Jakarta - Kiper Timnas Indonesia, Emil Audero, menyimpan optimisme besar terhadap masa depan Skuad Garuda.

Setelah merasakan keberhasilan menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026, penjaga gawang Rayo Vallecano itu kini membidik pencapaian yang lebih tinggi, termasuk tampil di Piala Dunia 2030.

Advertisement

Timnas Indonesia baru saja mengakhiri penantian panjang dengan menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Pasukan John Herdman memastikan gelar setelah mengalahkan Thailand pada partai final.

Keberhasilan tersebut menjadi pencapaian penting bagi sepak bola Indonesia. Sebelum meraih trofi FIFA ASEAN Cup 2026, gelar terakhir Timnas Indonesia di level senior adalah medali emas sepak bola SEA Games 1991 di Filipina.

Emil menjadi satu di antara pemain yang berkontribusi dalam keberhasilan Skuad Garuda.

Ia tampil dalam dua pertandingan sepanjang turnamen, termasuk ketika menggagalkan eksekusi penalti pemain Thailand yang membantu memastikan Indonesia keluar sebagai juara.

Prestasi itu membuat Emil makin yakin Timnas Indonesia mampu bersaing untuk meraih target yang lebih besar pada masa mendatang.


Tiga Target Besar

Kiper Timnas Indonesia, Emil Audero, tampil impresif saat timnya meraih kemenangan 3-0 atas Oman pada FIFA Matchday periode Juni 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (05/06/2026) malam WIB. (Bola.com/Abdul Aziz)

Emil telah mencatatkan delapan penampilan bersama Timnas Indonesia sejak menjalani debutnya pada periode Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Meski perjalanan Tim Garuda terhenti di putaran keempat dan gagal berangkat ke Amerika Utara, ia tetap menatap masa depan dengan penuh harapan.

Timnas Indonesia kini memiliki kesempatan untuk meningkatkan pencapaian pada Piala Asia 2027. Setelah itu, Skuad Garuda akan berusaha kembali bersaing untuk mendapatkan tiket ke Piala Dunia 2030.

Bagi Emil, tampil di Piala Dunia bersama Indonesia merupakan satu di antara impian terbesarnya.

Ia juga menempatkan keberhasilan meraih trofi bersama tim nasional dan melangkah sejauh mungkin di Piala Asia 2027 sebagai target yang ingin diwujudkan.

"Salah satu target saya adalah memenangkan trofi bersama tim nasional, dan kami berhasil mewujudkannya. Lalu melangkah sejauh mungkin di Piala Asia. Serta impian terbesar adalah lolos ke Piala Dunia. Bermain di Piala Dunia bersama Indonesia adalah sesuatu yang istimewa," kata Emil dalam wawancara dengan jurnalis Italia, Gianluca Di Marzio.

Gelar FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi langkah awal untuk mewujudkan ambisi tersebut.

Emil berharap Timnas Indonesia dapat melanjutkan perkembangan positif dengan meraih hasil lebih baik di kompetisi internasional berikutnya.


Dukungan Suporter Indonesia Memukau

Aksi suporter Timnas Indonesia saat melawan Singapura dalam laga pertama Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (25/9/2026). (KLY/Budy Santoso)

Satu di antara alasan Emil optimistis terhadap peluang Timnas Indonesia adalah besarnya kecintaan masyarakat terhadap sepak bola.

Ya, ia merasakan langsung antusiasme suporter yang terus memberikan dukungan kepada Skuad Garuda.

Menurut Emil, dukungan itu semakin meningkat setelah Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Keberhasilan meraih trofi membuat masyarakat makin bersemangat mengikuti perjalanan tim nasional.

"Antusiasme itu sudah ada sebelumnya. Namun, setelah keberhasilan di FIFA ASEAN Cup, kemenangan nyata pertama dalam sejarah kami, antusiasme itu menjadi jauh lebih besar," ujar Emil.

Penjaga gawang berusia 29 tahun tersebut bahkan mengaku kesulitan menjelaskan besarnya perhatian yang diterima para pemain.

Ia menceritakan kepada Di Marzio, rombongan Timnas Indonesia harus berpindah hotel karena terlalu banyak suporter yang datang untuk meminta foto dan tanda tangan.

"Saya sering kesulitan menjelaskan semangat mereka. Kami harus pindah hotel karena terlalu banyak orang yang menghentikan kami untuk meminta foto dan tanda tangan," ungkapnya.

Pengalaman itu memperlihatkan besarnya perhatian masyarakat terhadap Timnas Indonesia, terutama setelah Skuad Garuda mencatatkan prestasi di level regional.


Kultur Sepak Bola Indonesia Mirip Italia

Pemain Timnas Indonesia, Emil Audero, Kevin Diks, dan Jay Idzes menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya saat melawan Timnas Lebanon dalam laga FIFA Matchday 2025 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Senin (8/9/2025). (Bola.com/Abdul Aziz)

Emil melihat kemiripan Indonesia dan Italia dalam hal kecintaan masyarakat terhadap sepak bola. Setelah bertahun-tahun berkarier di Italia, ia merasakan gairah serupa ketika membela Timnas Indonesia.

Menurut Emil, fanatisme suporter Indonesia terlihat jelas ketika klub-klub besar Eropa berkunjung.

Ia mencontohkan bagaimana pendukung Indonesia menyanyikan lagu-lagu dukungan untuk Juventus, AC Milan, dan Inter Milan menggunakan bahasa Italia.

"Sangat mirip dengan di Italia. Jika Indonesia bermain sepak bola seperti gaya mereka, mereka akan menjadi seperti Brasil," kata Emil.

"Saat tim-tim seperti Juventus, Milan, dan Inter tiba di hotel, mereka mendapati kelompok suporter fanatik (ultras) Indonesia menyanyikan yel-yel tim dalam bahasa Italia. Anda pasti berpikir, 'Bagaimana mungkin? Bagaimana mereka bisa tahu lagu-lagu itu?'" lanjutnya.

Besarnya basis penggemar sepak bola Indonesia juga memberikan dampak bagi klub yang diperkuat Emil.

Kehadirannya membuat klub-klub yang pernah dibelanya mendapat perhatian dari pengikut asal Indonesia di media sosial.

Emil menyebut Sassuolo dikenal oleh banyak penggemar Indonesia karena keberadaan Jay Idzes. Fenomena serupa juga terjadi ketika ia memperkuat Cremonese pada musim sebelumnya dan kini bersama Rayo Vallecano.

"Mereka mengenal Sassuolo dengan baik karena Jay Idzes. Tahun lalu hal itu terjadi pada Cremonese saat saya di sana, dan kini terjadi pada Rayo Vallecano," kata Emil.

 

Sumber: Gianluca Di Marzio

Berita Terkait