Permintaan Maaf Gianni Infantino Tak Mempan, Inggris dan Jerman Tetap Desak Perubahan di FIFA

Permintaan maaf Gianni Infantino ke Dewan FIFA belum meredakan kritik Inggris dan Jerman.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 16 Oktober 2026, 10:15 WIB
Presiden FIFA, Gianni Infantino. (Bola.com/Dok.FIFA).

Bola.com, Jakarta - Presiden FIFA, Gianni Infantino, belum berhasil meredakan kritik dari Inggris dan Jerman, meski telah meminta maaf kepada Dewan FIFA, Kamis waktu setempat.

Perwakilan kedua negara masih meragukan kelayakannya untuk memimpin badan sepak bola dunia itu.

Advertisement

Infantino mengakui kesalahan dalam komunikasi dan konsultasi terkait proyek FIFA Forward Enterprise (FFE) yang kini dibatalkan. Namun, ia menegaskan rencana itu hanya berupa usulan, bukan keputusan final.

"Pertama-tama, saya meminta maaf atas kesalahan dalam proses komunikasi dan konsultasi terkait proyek FIFA Forward Enterprise yang kemudian menimbulkan banyak konsekuensi. Namun, penting diingat bahwa itu hanya usulan, sama sekali bukan keputusan final," ujar Infantino dalam video yang dirilis FIFA, dilansir Reuters.

FFE dirancang untuk membentuk perusahaan yang mengelola kepentingan komersial kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia, dengan menjual sebagian kecil saham kepada investor swasta.

Infantino menyebut rencana itu bertujuan menambah pendanaan bagi 211 asosiasi anggota FIFA.


Desak Perombakan Menyeluruh

Presiden Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB), Bernd Neuendorf (kiri), menghadiri pertandingan Grup E Piala Dunia 2026 antara Jerman dan Curacao di Stadion Houston pada 14 Juni 2026 di Houston, Texas. (Alexander Hassenstein/Getty Images/AFP)

Presiden Federasi Sepak Bola Jerman (DFB), Bernd Neuendorf, mendesak perombakan menyeluruh di FIFA. Ia menilai reformasi tata kelola tidak mungkin terlaksana selama Infantino masih menjabat sebagai presiden.

"Kita membutuhkan reformasi. Kepengurusan lama dan seluruh tata kelola harus diperbaiki. Namun, saya yakin hal itu tidak mungkin dilakukan bersama Gianni. Karena itu, kita membutuhkan awal yang benar-benar baru," kata Neuendorf.

Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), Debbie Hewitt, juga meminta Infantino menjawab pertanyaan yang diajukan anggota Dewan FIFA. Jika tidak, ia menilai Infantino tidak layak mempertahankan jabatannya.

Neuendorf menilai permintaan maaf Infantino lebih berkaitan dengan tidak dilibatkannya Dewan FIFA dalam pembahasan FFE daripada proyek itu secara keseluruhan.

Ia mengatakan anggota dewan mengetahui rencana itu melalui pemberitaan media, bukan dari pimpinan FIFA. Perwakilan konfederasi lain juga mengeluhkan minimnya konsultasi.

Hewitt mendesak FIFA membuka dokumen FFE kepada anggota dewan.

Menurutnya, Infantino memiliki tanggung jawab untuk menjawab pertanyaan yang telah diajukan secara terbuka, terlebih karena ia sendiri yang meminta anggota dewan menyampaikan pertanyaan mereka.

"Jika tidak ada yang disembunyikan, bagikan dokumen FFE kepada kami. Jika Anda benar-benar menyesalinya, silakan buka dokumennya," sentil Hewitt.


Sejumlah Keputusan FIFA Ikut Disorot

Presiden FIFA, Gianni Infantino (kiri), dan Ketua Non-Eksekutif Independen Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), Debbie Hewitt (kanan), berbicara menjelang pertandingan semifinal turnamen Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina di Stadion Atlanta di Atlanta pada 15 Juli 2026. (Odd ANDERSEN/AFP)

Hewitt menilai evaluasi tata kelola FIFA harus didahului penjelasan mengenai proses pengambilan keputusan yang menuai kontroversi.

Selain FFE, ia menyoroti penangguhan hukuman larangan bermain otomatis satu pertandingan terhadap penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, setelah menerima kartu merah di Piala Dunia 2026.

Pemberian Penghargaan Perdamaian FIFA kepada Presiden AS, Donald Trump, juga masuk daftar persoalan yang perlu diperiksa.

Menurut Hewitt, FIFA perlu memastikan apakah keputusan-keputusan itu muncul akibat kegagalan menjalankan aturan tata kelola atau karena adanya faktor lain.

Tanpa memahami proses yang terjadi, evaluasi hanya akan didasarkan pada dugaan.


Dukungan di Tengah Kritik

Presiden FIFA, Gianni Infantino, berbicara selama resepsi FIFA di Trump Tower di New York pada 17 Juli 2026. (Mandel NGAN/AFP)

Di tengah kritik dari Inggris dan Jerman, dukungan terhadap Infantino masih datang dari Afrika.

Presiden Federasi Sepak Bola Mauritania (FFRIM), Ahmed Yahya, membela kepemimpinannya dengan menyoroti peningkatan pendanaan bagi asosiasi nasional serta perluasan peserta Piala Dunia menjadi 48 tim.

"Kami, negara-negara Afrika, percaya Gianni adalah orang yang tepat untuk terus memimpin sepak bola," kata Yahya.

"Saya yakin. Mayoritas ingin Gianni tetap bertahan," jawab Yahya saat ditanya apakah mayoritas pihak ingin Infantino tetap menjabat sebagai presiden FIFA.

 

Sumber: Reuters

Berita Terkait