Ironi Karier Jadon Sancho: Pernah Jadi Pemain Termahal Kedua di Dunia, Kini Menganggur

Karier Jadon Sancho mengalami penurunan drastis. Apa yang Terjadi.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 18 Oktober 2026, 11:00 WIB
Pemain Manchester United, Jadon Sancho, saat melawan Nottingham Forest pada leg kedua babak semifinal Carabao Cup, Jumat (2/2/2023). Sancho tidak ambil bagian pada sesi training camp United di Spanyol. Dia berlatih secara personal di Belanda atas saran Erik ten Hag. (AFP/Paul Ellis)

Bola.com, Jakarta - Karier Jadon Sancho mengalami penurunan drastis. Winger asal Inggris yang pernah menjadi salah satu talenta paling menjanjikan di dunia sepak bola itu kini berstatus tanpa klub setelah kontraknya bersama Manchester United (MU) berakhir.

Situasi tersebut cukup mengejutkan jika melihat perjalanan karier Sancho beberapa tahun lalu. Pada Maret 2020, ketika masih berusia 19 tahun, nilai pasarnya bahkan mencapai 130 juta euro atau setara dengan sekitar Rp2 triliun.

Advertisement

Berdasarkan data Transfermarkt saat itu, hanya Kylian Mbappe yang memiliki nilai pasar lebih tinggi, yakni 180 juta euro. Sancho berada di atas sejumlah bintang dunia, seperti Raheem Sterling, Neymar, Harry Kane, Mohamed Salah, Sadio Mane, Kevin De Bruyne, Lionel Messi, hingga Erling Haaland yang saat itu menjadi rekan setimnya di Borussia Dortmund.

Namun, perjalanan Sancho setelah mencapai puncak tersebut justru berjalan di luar dugaan. Dari pemain muda yang digadang-gadang menjadi bintang besar Inggris, ia kini harus mencari klub baru untuk menghidupkan kembali kariernya.

Getafe dikabarkan tertarik mendatangkan Sancho. Klub asal Spanyol itu berpeluang memberikan kesempatan kepada sang winger untuk membuktikan bahwa kemampuannya belum habis.

 


Pasang Surut Karier Sancho

Penyerang Borussia Dortmund, Jadon Sancho, melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang RB Leipzig pada laga Bundesliga di Stadion Red Bull Arena, Sabtu (9/1/2021). Dortmund menang dengan skor 3-1. (AP/Michael Sohn)

Nama Sancho mulai mencuri perhatian ketika membela Borussia Dortmund setelah meninggalkan Manchester United. Kecepatan, kemampuan menggiring bola, kreativitas, serta ketajamannya membuat ia menjadi salah satu pemain sayap paling berbahaya di Eropa.

Dalam empat musim bersama Dortmund, Sancho mencatatkan 50 gol dan 64 assist. Penampilan impresif tersebut membuat Manchester United rela mengeluarkan dana sekitar 85 juta euro untuk membawanya ke Old Trafford.

Namun, kepindahan itu tidak berjalan sesuai harapan. Pada musim pertamanya, 2021/2022, Sancho hanya mencatatkan lima gol dan tiga assist dari 38 penampilan di semua kompetisi.

Kinerjanya tidak banyak mengalami peningkatan pada musim berikutnya. Di bawah asuhan Erik ten Hag pada 2022/2023, ia membukukan tujuh gol dan tiga assist dalam 41 pertandingan.

Sancho pun tidak selalu menjadi pilihan utama. Hubungannya dengan Ten Hag kemudian memburuk pada musim 2023/2024.

Pada September 2023, Ten Hag menyatakan Sancho tidak masuk skuad pertandingan karena penampilannya dalam latihan. Sancho merespons pernyataan tersebut dan situasi keduanya semakin memanas.

Hubungan yang retak itu membuat Sancho tersisih dari tim utama sebelum akhirnya kembali ke Borussia Dortmund dengan status pinjaman pada Januari 2024.

 


Sempat Bangkit, tetapi Gagal Menemukan Konsistensi

Jadon Sancho (menghadap kamera) berpelukan dengan rekan setimnya Morgan Rogers saat Aston Villa membungkam Freiburg di Final Liga Europa 2025/2026. (Ozan KOSE / AFP)

Kembali ke Dortmund memberikan kesempatan bagi Sancho untuk menemukan permainan terbaiknya. Meski belum sepenuhnya menyamai performa pada periode pertamanya, ia mampu membantu tim Jerman tersebut mencapai final Liga Champions 2023/2024.

Sancho bahkan tampil sejak menit pertama ketika Dortmund menghadapi Real Madrid pada partai puncak. Sayangnya, Dortmund kalah 0-2 dan gagal mengangkat trofi.

Setelah masa peminjamannya berakhir, Sancho kembali meninggalkan Manchester United. Ia kemudian bergabung dengan Chelsea untuk musim berikutnya setelah sempat muncul upaya memperbaiki hubungannya dengan Ten Hag.

Bersama Chelsea asuhan Enzo Maresca, Sancho ikut merasakan gelar UEFA Conference League. Ia juga mencetak gol pada final melawan Real Betis, ketika The Blues menang telak 4-1.

Secara keseluruhan, Sancho mencatatkan lima gol dan 10 assist di Premier League serta Conference League pada periode tersebut.

Petualangan berikutnya berlangsung bersama Aston Villa. Akan tetapi, kontribusinya tidak terlalu menonjol. Sancho hanya mencetak satu gol dan menyumbangkan tiga assist sepanjang musim, menurut laporan Marca.

Masa peminjamannya pun berakhir. Kontraknya bersama Manchester United juga habis pada akhir musim, sehingga pemain berusia 26 tahun itu kini harus mencari pelabuhan baru.

 


Nilai Pasar Anjlok Rp1,8 Triliun

Sempat kesulitan tampil maksimal di lini serang MU, Jadon Sancho mulai nyetel saat kehadiran Ralf Rangnick. Sejak bergabung pada musim panas tahun 2021, ia diketahui telah mencetak lima gol dan tiga assist dari 33 penampilan untuk Setan Merah. (AFP/Paul Ellis)

Kemerosotan karier Sancho turut tercermin dari nilai pasarnya. Jika pada Maret 2020 ia ditaksir mencapai 130 juta euro, kini Transfermarkt memperkirakan nilainya hanya sekitar 10 juta euro.

Artinya, nilai pasar Sancho merosot sekitar 120 juta euro dalam tujuh tahun terakhir.

Penurunan tersebut menggambarkan perjalanan karier yang jauh dari ekspektasi. Padahal, ketika masih muda, Sancho dianggap memiliki masa depan cerah dan sempat menjadi salah satu pemain paling menonjol di generasinya.

Pada 2019, ia finis sebagai runner-up penghargaan Golden Boy di bawah Joao Felix. Setahun kemudian, ia menempati posisi keempat, di belakang Haaland, Ansu Fati, dan Alphonso Davies.

Di level internasional, Sancho juga pernah menjadi bagian dari Timnas Inggris yang mencapai final Euro 2020, turnamen yang digelar pada 2021. Namun, ia gagal mengeksekusi penalti dalam adu penalti melawan Italia.

Hingga kini, Euro 2020 masih menjadi satu-satunya turnamen besar bersama timnas senior Inggris yang pernah diikutinya. Sancho bahkan belum pernah tampil di Piala Dunia.

Pada usia 26 tahun, kesempatan untuk membangkitkan karier sebenarnya masih terbuka. Tantangan terbesarnya adalah menemukan klub yang tepat, mendapatkan kepercayaan, dan kembali menunjukkan konsistensi seperti ketika bersinar bersama Borussia Dortmund.

Ketertarikan Getafe bisa menjadi pintu masuk untuk memulai lembaran baru. Namun, Sancho masih harus membuktikan bahwa dirinya mampu kembali menjadi pemain yang pernah membuat klub-klub besar Eropa berebut tanda tangannya.

Sumber: The Sun

Berita Terkait