Bola.com, Yogyakarta - Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Liana Tasno, meminta dukungan dari berbagai pihak agar manajemen bisa segera menemukan sosok pelatih baru pengganti Jean-Paul van Gastel.
PSIM Yogyakarta resmi mengakhiri kerja sama dengan Jean-Paul van Gastel pada Sabtu (17/10/2026) sore WIB.
Keputusan itu diambil setelah tim gagal meraih kemenangan dalam lima laga awal BRI Super League 2026/2027.
Untuk sementara, PSIM menunjuk Guntur Cahyo Utomo sebagai caretaker pelatih. Ia akan memimpin tim selama sebulan sembari manajemen bekerja mencari nakhoda baru.
Liana mengatakan, perubahan di jajaran tim pelatih hanya menyasar posisi pelatih kepala. Sementara itu, staf kepelatihan lainnya, termasuk pelatih fisik tetap dipertahankan.
"Untuk supporting tim seperti pelatih fisik dan pelatih lainnya, kami tidak melakukan tindakan tertentu. Jadi cuma memang khusus kepada pelatih kepala saja. Kalau yang lain tidak, masih kami pertahankan," ujar Liana.
"Untuk beberapa langkah ke depan nanti kita lihat dan kami terus evaluasi terus bagaimana hasil yang terjadi di lapangan," sambungnya.
Bergerak Cepat
Manajemen PSIM tidak memiliki banyak waktu untuk menentukan sosok yang tepat sebagai pengganti Van Gastel.
Apalagi, masa tugas caretaker perlu disesuaikan dengan ketentuan regulasi yang berlaku.
"Untuk caretaker dan analis sementara ini berapa lamanya? Kalau secara regulasi itu kan satu bulan, jadi harus bekerja keras untuk mencari pengganti barunya di dalam jangka waktu secepatnya," kata Liana.
Meski punya waktu sekitar sebulan, Liana memastikan manajemen tetap bergerak cepat. Ia juga meminta dukungan dari suporter agar proses pencarian pelatih anyar berjalan lancar.
"Dalam jangka waktu ya, tapi secepatnya kami harus terus bergerak. Tolong di support dulu karena konsentrasi saya enggak bisa terpecah," ungkap Liana.
"Badan saya cuma satu, otaknya cuma satu, matanya cuma dua, tangannya cuma dua. Tolonglah di support, karena saya harus mencari dan mengerjakan bagaimana kita bisa mendapat pelatih pengganti yang ideal," lanjutnya.
Bukan karena Tekanan Suporter
Selain itu, Liana menegaskan keputusan memecat Van Gastel bukan karena tekanan suporter. Ia mempunyai pertimbangan sendiri dalam mengambil keputusan yang dinilai terbaik bagi PSIM.
"Saya statement sih sebetulnya, saya enggak ngikuti arus bawah. Arus yang begitu kencangnya dengan tekanan itu saya bukan tipe yang seperti itu," ucap Liana.
Wanita berusia 43 tahun itu bahkan mengingat kembali pengalaman tiga tahun lalu ketika mengambil sikap berbeda dari desakan yang berkembang saat itu.
"Kalau diingat waktu tiga tahun lalu justru saya melawan arus bawah, ya ada seorang coach lah saya enggak sebut nama. Jadi pada prinsipnya adalah saya melakukan apa yang benar untuk PSIM," tegasnya.