Fajar/Fikri Juara Denmark Open 2026, Penebus Manis Kegagalan Tahun Lalu

Ganda putra Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, sukses menjuarai Denmark Open 2026.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 18 Oktober 2026, 23:12 WIB
Ganda putra Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, menjuarai Denmark Open 2026, Minggu (18/10/2026). (Media PBSI)

Bola.com, Jakarta - Ganda putra Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, sukses menjuarai Denmark Open 2026. Mereka tampil dominan untuk mengalahkan pasangan Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik, pada partai final dengan skor telak 21-8, 21-11, di Odense, Minggu (18/10/2026). 

Fajar/Fikri yang menempati unggulan ketiga tidak memberikan banyak kesempatan kepada Aaron/Soh. Pasangan unggulan keempat itu kesulitan mengembangkan permainan di hadapan tekanan agresif yang dilancarkan wakil Merah Putih sejak awal pertandingan.

Advertisement

Gelar ini terasa spesial bagi Fajar/Fikri. Setelah gagal menjadi juara pada final tahun lalu, keduanya akhirnya mampu menuntaskan misi di Denmark Open 2026.

Fajar mengaku sangat bersyukur atas pencapaian tersebut. Ia berharap gelar ini menjadi pijakan untuk meraih prestasi yang lebih besar sekaligus meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri mereka.

"Alhamdulillah, sangat bersyukur setelah tahun lalu gagal di final, kali ini kami bisa menjuarai Denmark Open. Semoga ini menjadi awal untuk meraih prestasi yang lebih baik ke depannya, serta meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri," ujar Fajar, melalui rilis dari PBSI.  

Ia juga menyebut kekalahan di Asian Games sebelumnya menjadi pemacu bagi dirinya dan Fikri untuk bangkit dan kembali memburu hasil terbaik.

"Kekalahan di Asian Games kemarin memacu kami berdua untuk mencapai hasil yang terbaik lagi," lanjutnya.

 


Sudah Kenal Kekuatan dan Kelemahan Lawan

Ganda putra Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, sukses menjuarai Denmark Open 2026, Minggu (18/10/2026). (PBSI)

Fajar menilai kemenangan meyakinkan atas Aaron/Soh tidak terlepas dari pemahaman mereka terhadap karakter permainan lawan. Kedua pasangan sudah cukup sering bertemu, bahkan sebelum Fajar dan Fikri berduet.

Selain itu, kondisi shuttlecock yang melaju kencang membuat Fajar/Fikri memilih bermain agresif. Mereka tidak ingin membiarkan pasangan Malaysia mengambil alih kendali pertandingan.

"Kami sudah sangat sering bertemu Aaron/Soh, bahkan sejak sebelum kami berpasangan. Jadi, kami sudah tahu kelemahan dan kelebihan masing-masing," tutur Fajar.

"Shuttlecock sangat kencang lajunya, jadi kami tidak mau bermain bertahan. Sejak awal, kami selalu menekan dan bermain menyerang sehingga lawan juga tidak bisa berkembang," tambahnya.

Fajar berharap prestasi bulutangkis Indonesia terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan. Ia ingin keberhasilan di Denmark Open menjadi bagian dari momentum positif bagi para pebulu tangkis Tanah Air, baik di level senior maupun junior.

"Prestasi bulutangkis Indonesia beberapa bulan terakhir sedang cukup baik. Semoga terus berprestasi, terus berkembang, dan meraih titel-titel lainnya. Tidak hanya di senior, tetapi juga di junior," kata Fajar.

 


Fikri Belajar dari Pengalaman dan Kegagalan

Ganda putra Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, sukses menjuarai Denmark Open 2026, Minggu (18/10/2026). (PBSI)

Sementara itu, Muhammad Shohibul Fikri mengaku berusaha memandang setiap pertandingan sebagai kesempatan baru. Baginya, gelar juara tidak boleh membuat mereka cepat berpuas diri.

Pada partai final, Fikri terlihat berusaha membakar semangat dengan berteriak di lapangan. Ia ingin meluapkan emosinya sekaligus menebus kegagalan menjadi juara pada edisi sebelumnya.

"Mindset saya setiap pertandingan itu saya anggap awal lagi, baru lagi, dari nol lagi. Jadi, kami jangan cepat puas juga," ujar Fikri.

"Sayang banget kalau di final tidak semangat. Makanya tadi saya coba teriak-teriak untuk menebus rasa sedih tahun lalu yang sebetulnya bisa juara. Saya ingin memperbaikinya, termasuk juga kekalahan di Asian Games kemarin," lanjutnya.

Fikri juga mengakui pengalaman Fajar yang lebih matang memberikan banyak pelajaran berharga. Ia merasa kini bisa menghadapi pertandingan final dengan lebih tenang dibandingkan sebelumnya.

Menurutnya, pengalaman tersebut turut membantunya mengurangi beban pikiran saat bertanding. Ia memilih fokus mengerahkan usaha maksimal, disertai ikhtiar dan doa.

"Kalau sebelumnya, saya terutama sering tidak maksimal ketika di final. Namun, tahun ini dengan pengalaman a Fajar yang sudah melanglang buana, banyak pelajaran dan motivasi yang saya dapat," ucap Fikri.

"Selain itu, mungkin saya juga sudah semakin dewasa sehingga tidak terlalu banyak yang dipikirkan. Saya mencoba untuk tidak terlalu banyak berpikir. Yang penting banyak usaha, ikhtiar, dan doa," tutupnya.

Berita Terkait