Bola.com, Jakarta - Konten kreator Mochamad Rafly Firman Syach atau yang akrab disapa Yuta, tampil impresif dalam ajang 3rd SEAA Master Championship 2026 di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, pada 17–18 Oktober 2026.
Kembali berkompetisi setelah tiga tahun vakum, Yuta sukses membawa pulang tujuh medali dari nomor individu, dengan perincian empat emas dan tiga perak. Ia juga menyabet predikat Perenang Terbaik kategori usia 25–29 tahun.
Pencapaian tersebut menjadi catatan istimewa bagi Yuta. Selain kembali merasakan atmosfer kompetisi, ia juga mampu menunjukkan performa kompetitif di kejuaraan yang diikuti tujuh negara ASEAN tersebut.
Empat medali emas diraih Yuta dari nomor 25 meter gaya dada, 50 meter gaya dada, 100 meter gaya dada, dan 100 meter gaya bebas.
Sementara itu, tiga medali perak berhasil diamankan dari nomor 25 meter gaya punggung, 50 meter gaya punggung, dan 25 meter gaya kupu-kupu.
Hasil tersebut menjadi modal berharga bagi Yuta untuk kembali menekuni dunia renang kompetitif. Baginya, keberhasilan ini bukan semata-mata tentang medali, melainkan juga bukti bahwa kesempatan untuk kembali berprestasi selalu terbuka selama ada kemauan dan konsistensi dalam berlatih.
Pertajam Catatan Waktu
Tak hanya membawa pulang tujuh medali, Yuta juga berhasil mempertajam catatan waktu pribadinya pada nomor 50 meter gaya dada dengan torehan 30,05 detik.
Meski demikian, ia masih memiliki target yang ingin diwujudkan, yakni menembus waktu di bawah 30 detik pada nomor tersebut.
Target itu menjadi motivasi bagi Yuta untuk terus mengevaluasi teknik, meningkatkan kualitas latihan, dan memperbaiki aspek performa yang masih bisa dikembangkan.
Kembali bertanding setelah tiga tahun absen tentu bukan perkara mudah. Yuta harus membangun kembali kesiapan fisik, mengasah teknik, serta mempersiapkan mental untuk menghadapi persaingan di kolam renang.
Di tengah kesibukannya sebagai konten kreator, kecintaan terhadap renang tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Keikutsertaannya di 3rd SEAA Master Championship 2026 pun menjadi kesempatan untuk mengukur kemampuan sekaligus menetapkan target baru.
Meski belum berhasil menembus catatan waktu di bawah 30 detik, Yuta memandang pencapaian di Jakarta sebagai bagian dari proses untuk kembali ke performa terbaiknya.
Ingin Jadi Inspirasi Perenang Junior
Di balik keberhasilannya meraih empat medali emas dan tiga perak, Yuta memiliki misi yang lebih besar. Ia ingin memotivasi para perenang junior agar tidak mudah menyerah dalam mengejar impian.
Menurutnya, perjalanan seorang atlet tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya seseorang harus berhenti, menghadapi berbagai tantangan, atau memulai kembali dari kondisi yang berbeda. Namun, hal tersebut bukan berarti kesempatan untuk berkembang telah berakhir.
"Saya ingin menginspirasi perenang-perenang junior bahwa tidak ada batas yang tidak bisa dipecahkan selama kita mau dan berusaha. Jangan pernah takut untuk mencoba kembali, meskipun kita pernah berhenti atau merasa tertinggal. Yang terpenting adalah kemauan untuk terus berproses dan memberikan yang terbaik," ujar Yuta kepada Bola.com.
Ia berharap para perenang muda tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga mampu menghargai setiap proses latihan, membangun kedisiplinan, dan menjadikan pertandingan sebagai kesempatan untuk belajar.
Bagi Yuta, prestasi bukan sekadar persoalan siapa yang menjadi juara. Keberanian untuk mencoba, konsistensi dalam berlatih, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri juga menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang atlet.
Sebagai konten kreator, ia pun berharap pengalaman comeback-nya dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat luas, terutama generasi muda yang tengah berjuang mencapai target di bidang olahraga maupun bidang lainnya.
Bukan Akhir, Melainkan Awal Perjalanan Baru
Empat medali emas, tiga medali perak, dan predikat Perenang Terbaik kategori usia 25–29 tahun menjadi hasil membanggakan bagi Yuta dalam kejuaraan kali ini.
Namun, ia menegaskan bahwa perjalanan tersebut belum berakhir. Target menembus waktu di bawah 30 detik pada nomor 50 meter gaya dada masih menjadi ambisi yang ingin diwujudkannya pada kesempatan berikutnya.
Pengalaman kembali berkompetisi setelah tiga tahun vakum mengajarkannya bahwa jeda bukan berarti akhir dari sebuah perjalanan. Selama masih memiliki kemauan untuk berusaha, kesempatan untuk kembali mencoba dan membuktikan kemampuan akan selalu ada.
Yuta ingin terus berkembang sebagai perenang sekaligus membagikan semangat positif kepada generasi berikutnya. Ia berharap kisahnya menjadi pengingat bahwa usia, jeda dari kompetisi, maupun hasil yang belum sesuai harapan bukan alasan untuk berhenti mengejar impian.
"Menurut saya, kita tidak harus selalu menjadi yang tercepat hari ini. Yang terpenting adalah kita terus berusaha menjadi lebih baik daripada diri kita yang kemarin. Selama kita mau berusaha dan tidak berhenti belajar, selalu ada kesempatan untuk berkembang," tutupnya.