Barcelona Kena Denda 602 Euro dari RFEF karena Pendekatan ke Julian Álvarez

RFEF mendenda Barcelona €602 pada 27 Oktober 2026 atas pendekatan ke Julián Álvarez tanpa prosedur. Pelanggaran diklasifikasikan ringan.

BolaCom | ThomasDiterbitkan 28 Oktober 2026, 10:28 WIB
Penyerang Atletico Madrid asal Argentina #19, Julian Alvarez, merayakan gol ketiganya dalam pertandingan Liga Spanyol antara Atletico Madrid dan Rayo Vallecano di Stadion Metropolitano, Madrid, Kamis (25-9-2025). (Javier SORIANO/AFP)

Bola.com, Jakarta - Barcelona dijatuhi denda sebesar €602 oleh Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol (RFEF) pada Selasa, 27 Oktober 2026. Hukuman ini keluar setelah penyelidikan atas pendekatan klub terhadap striker Atletico Madrid, Julián Álvarez, yang dinilai tidak melalui prosedur resmi.

Keputusan tersebut menegaskan komitmen RFEF menegakkan regulasi transfer, meski sanksinya terbilang ringan. Besaran denda tidak mengubah substansi temuan: ada pelanggaran tata cara yang berlaku.

Advertisement

Álvarez masih terikat kontrak di Atletico hingga 2030. Sepanjang musim panas 2026, ia santer dikaitkan dengan Barcelona sebagai calon pengganti Robert Lewandowski, apalagi sang penyerang sempat menyatakan keinginan hengkang saat Piala Dunia 2026 dengan Barcelona sebagai tujuan pilihannya.

Kasus ini bermula dari pengaduan Atletico Madrid pada 30 Juni. Dalam aturan kompetisi RFEF, Pasal 133 mewajibkan klub peminat memberi tahu klub pemilik pemain secara tertulis sebelum memulai negosiasi. Pelanggaran dipandang merusak integritas sistem transfer dan dapat berujung sanksi disipliner.


Pelanggaran Aturan Transfer dan Laporan Atletico

Pengaduan Atletico Madrid tidak hanya ditujukan ke RFEF, tetapi juga sempat dikirim ke FIFA. Badan sepak bola dunia itu menyatakan tidak memiliki yurisdiksi atas perkara ini, sehingga tidak dapat memulai proses hukum.

Situasi tersebut menegaskan bahwa dalam banyak urusan transfer domestik, federasi nasional memegang otoritas utama. Menindaklanjuti laporan, RFEF membuka proses disipliner luar biasa pada 30 Juli dan menunjuk seorang penyelidik untuk memeriksa pengaduan.

Prosesnya mencakup pengumpulan bukti, permintaan kesaksian dari pihak terkait, serta analisis komunikasi antara Barcelona dan perwakilan Álvarez. Barcelona bersikeras telah mengikuti prosedur semestinya dan menilai komunikasi yang terjadi bersifat wajar, namun temuan RFEF menyiratkan adanya celah dalam klaim tersebut hingga berujung sanksi.


Denda Simbolis dan Klasifikasi Pelanggaran

Julian Alvarez tampil Impresif bersama Atletico Madrid. Penyerang muda asal Argentina itu telah membuktikan ketajamannya dengan mengemas tujuh gol di Liga Champions musim ini. (AFP/Thomas Coex)

Denda €602 dijatuhkan berdasarkan Pasal 133 peraturan disipliner RFEF yang merujuk pada "kegagalan mematuhi instruksi, perjanjian, atau kewajiban peraturan." Dalam klasifikasi RFEF, pelanggaran ini masuk kategori ringan.

Status ringan membuat Barcelona terhindar dari sanksi olahraga yang lebih berat, seperti larangan transfer atau pengurangan poin dalam sengketa transfer ini. Meski demikian, klasifikasi tersebut kerap memunculkan perdebatan di kalangan pengamat.

Nominal €602 banyak dianggap "kecil" atau "simbolis". Angka itu merupakan batas maksimum Pasal 133 untuk pelanggaran ringan. Secara finansial tidak signifikan bagi klub sebesar Barcelona, namun menjadi peringatan tegas bahwa aturan harus dihormati sekaligus preseden agar klub lain lebih berhati-hati saat mendekati pemain yang masih terikat kontrak.


Kasus Griezmann dan Masa Depan Alvarez

Perselisihan seputar pendekatan pemain bukan kali pertama terjadi antara kedua klub. Pada 2019, Atletico juga melaporkan Barcelona terkait Antoine Griezmann. Ketika itu, Barcelona dituduh menandatangani pra-kontrak dan dijatuhi denda simbolis sebesar €300.

Pola tersebut menandai adanya ketegangan historis antara dua raksasa La Liga dalam perebutan talenta. Namun denda saat ini tidak serta merta memengaruhi masa depan Julián Álvarez sebagai pemain.

Álvarez tetap terikat kontrak di Atletico hingga 2030, dengan klub menegaskan tidak berniat menjualnya. Ia kemudian meminta maaf kepada para penggemar Atletico atas komentarnya di Piala Dunia tentang keinginan untuk pergi, sebuah langkah yang diharapkan meredakan tensi dan membuatnya kembali fokus pada performa di lapangan. Kasus ini kembali menyoroti kompleksitas dan sensitivitas pasar transfer modern.

Berita Terkait