Bola.com, Jakarta - Pelatih Timnas Brasil, Carlo Ancelotti, tidak menggubris keberatan Presiden Barcelona, Joan Laporta, terkait pemanggilan Raphinha untuk memperkuat Selecao pada agenda FIFA Matchday November 2026.
Keputusan Ancelotti tersebut kembali memicu ketegangan antara Barcelona dan Federasi Sepak Bola Brasil (CBF). Raphinha baru saja pulih dari cedera otot yang dialaminya saat jeda internasional sebelumnya di Australia.
Pada Kamis (29/10/2026), Ancelotti memastikan pemain berusia 29 tahun itu masuk dalam daftar skuad Brasil yang akan menjalani dua pertandingan persahabatan di Asia, masing-masing menghadapi Singapura dan Jepang.
Keputusan tersebut membuat Barcelona khawatir. Perjalanan pulang-pergi ke Singapura diperkirakan mencapai hampir 22.000 kilometer sehingga berpotensi menguras kondisi fisik sang pemain.
Sebelumnya, Laporta sempat menyampaikan kekecewaannya terhadap padatnya kalender pertandingan internasional. Ia menilai klub kerap dirugikan karena harus melepas pemain untuk membela negara, sementara risiko cedera dan kelelahan harus mereka tanggung.
Namun, Ancelotti tidak terpengaruh oleh keluhan tersebut. Pelatih asal Italia itu menegaskan bahwa komunikasi antara federasi dan klub selama ini berjalan dengan baik.
"Kami memiliki hubungan yang baik dengan klub-klub Brasil maupun Eropa. Kami saling berbagi informasi mengenai para pemain. Secara umum, hubungan tersebut berjalan baik," ujar Ancelotti seperti dikutip dari SPORT, Jumat (30/10/2026).
Kepentingan Timnas Brasil Jadi Prioritas
Ancelotti kemudian memberikan penegasan terkait kewenangannya dalam menentukan pemain yang dipanggil ke Timnas Brasil.
Mantan pelatih Real Madrid itu menegaskan kebutuhan Selecao tetap menjadi prioritas selama kalender FIFA, terlepas dari kepentingan klub masing-masing pemain.
Saat ini, Ancelotti membangun kembali kekuatan Brasil setelah tim tersebut mengalami sejumlah kesulitan dalam turnamen-turnamen besar sebelumnya. Setiap agenda internasional menjadi kesempatan penting untuk membentuk skuad yang lebih solid.
Ancelotti memang memberikan kelonggaran kepada klub-klub Brasil seperti Flamengo dan Palmeiras yang sedang bersaing dalam perebutan gelar juara. Namun, ia tidak menerapkan kebijakan serupa kepada klub-klub Eropa.
"Kami tidak memiliki permintaan khusus dan juga tidak membutuhkannya. Pada kalender FIFA, kami akan memanggil pemain-pemain yang dianggap penting bagi Timnas Brasil," tegasnya.
"Ini merupakan periode yang sensitif. Karena itu, kami hanya memanggil satu pemain dari setiap klub dan memutuskan tidak mengambil pemain dari Flamengo maupun Palmeiras karena mereka sedang bersaing memperebutkan gelar juara."
Raphinha Masuk Pilar Penting Brasil
Pemanggilan Raphinha bukan sekadar untuk menambah pilihan di lini serang. Ancelotti menganggap winger Barcelona itu sebagai salah satu pemain penting dalam proyek regenerasi Timnas Brasil menuju siklus Piala Dunia berikutnya.
Pelatih berusia 67 tahun tersebut menjelaskan bahwa Brasil tengah melakukan pembaruan skuad dengan memberikan kesempatan kepada para pemain muda.
Dalam daftar pemain yang dipanggil kali ini, terdapat 15 pemain berusia di bawah 23 tahun dan sembilan pemain yang masih berada dalam kategori usia Olimpiade.
"Kami telah memulai proyek regenerasi dan sekarang merupakan waktu yang ideal untuk melakukannya. Pada September, kami mulai mengevaluasi pemain-pemain muda dan sekarang proses tersebut berlanjut," kata Ancelotti.
Meski demikian, ia tetap membutuhkan sejumlah pemain berpengalaman sebagai fondasi tim. Ada lima pemain yang dinilai bakal menjadi bagian penting dalam siklus baru Brasil, yakni Marquinhos, Gabriel Magalhaes, Bruno Guimaraes, Vinicius Junior, dan Raphinha.
"Kami memilih lima pemain yang tampil di Piala Dunia sebelumnya dan akan menjadi bagian penting dalam siklus baru ini, ketika kami akan bersaing di Copa America dan Piala Dunia berikutnya," tuturnya.
Ancelotti Bicara Peran Baru Raphinha
Selain persoalan pemanggilan pemain, Ancelotti juga menyinggung fleksibilitas posisi Raphinha di lapangan.
Di bawah arahan Hansi Flick di Barcelona, pemain asal Brasil itu beberapa kali dimainkan sebagai penyerang tengah atau penyerang nomor sembilan yang bergerak dinamis. Posisi tersebut berbeda dari peran tradisionalnya sebagai pemain sayap.
Ketika ditanya apakah akan menerapkan eksperimen taktik serupa di Timnas Brasil, Ancelotti belum memberikan jawaban secara spesifik.
Ia hanya menegaskan bahwa Brasil memiliki sejumlah penyerang yang mampu bermain di berbagai posisi.
"Kami memiliki penyerang-penyerang serbabisa yang bisa menempati beberapa posisi. Saya lebih fokus pada apa yang bisa kami lakukan daripada kualitas lawan. Kami akan terus bermain dengan tiga gelandang dan tiga penyerang," jelas Ancelotti.
Sumber: Sport