INEOS Dinilai Gagal Kelola MU: Salah Pilih Pelatih, Terlambat Pecat, dan Terjebak Kesalahan Sendiri

Kepemilikan minoritas INEOS di Manchester United sejak Februari 2024 justru diwarnai serangkaian keputusan kontroversial.

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 31 Oktober 2026, 20:00 WIB
Sir Jim Ratcliffe ketika hadir di Stadion Etihad untuk menyaksikan laga Manchester City vs Manchester United pada pekan ke-4 Premier League 2025/2026 - AP Photo/Dave Thompson

Bola.com, Jakarta - Kepemilikan minoritas INEOS di Manchester United sejak Februari 2024 justru diwarnai serangkaian keputusan kontroversial. Alih-alih membawa Setan Merah kembali ke jalur kejayaan, Sir Jim Ratcliffe dan jajaran manajemen dinilai membuat klub semakin terpuruk, terutama dalam urusan pergantian pelatih.

Situasi Manchester United saat ini menjadi gambaran terbaru dari persoalan tersebut. Michael Carrick berada di bawah tekanan besar setelah timnya menjalani awal musim Premier League 2026/2027 yang mengecewakan.

Advertisement

Dari delapan pertandingan, Manchester United hanya mampu meraih satu kemenangan. Mereka terdampar di peringkat ke-16 klasemen sementara, hanya berjarak satu poin dari zona degradasi.

Kondisi ini membuat kebijakan INEOS dalam menunjuk dan memecat pelatih kembali mendapat sorotan. Dalam ulasan Tribal Football yang mengutip analisis Flashscore, terdapat sejumlah keputusan penting yang dianggap menjadi penyebab kemunduran Manchester United.


1. Terlalu Lama Mempertahankan Erik ten Hag

Pelatih Ajax Amsterdam Erik Ten Hag saat leg pertama semifinal Liga Champions kontra Tottenham Hotspur di London pada 30 April 2019. Erik ten Hag dilaporkan telah setuju menandatangani kontrak empat tahun setelah menjadi manajer Manchester United atau MU berikutnya. (Ian KINGTON/IKIMAGES/AFP)

Ketika INEOS mengambil alih sebagian kendali operasional sepak bola Manchester United pada Februari 2024, Erik ten Hag masih menjabat sebagai manajer.

Pada akhir musim 2023/2024, performa Setan Merah sebenarnya jauh dari memuaskan. Mereka hanya mengumpulkan 60 poin di Premier League, menelan 14 kekalahan, kebobolan 58 gol, dan mencetak 57 gol.

Ten Hag bahkan sempat dikabarkan akan dipecat setelah final Piala FA melawan Manchester City.

Namun, keberhasilan mengalahkan rival sekota dan menjuarai Piala FA membuat INEOS berubah pikiran. Mereka akhirnya mempertahankan pelatih asal Belanda tersebut.

Keputusan itu kemudian dinilai sebagai kesalahan besar. Manchester United kembali memberikan dukungan finansial kepada Ten Hag pada bursa transfer musim panas, sebelum akhirnya memecatnya setelah awal buruk musim 2024/2025.


2. Salah Memilih Ruben Amorim dan Terlalu Percaya pada Formasi 3-4-3

Pelatih Manchester United, Ruben Amorim memberikan tepuk tangan setelah timnya kalah dari West Ham United dalam laga lanjutan Liga Inggris 2024/2025 di Old Trafford, Manchester, Inggris, Minggu (11/05/2025) waktu setempat. (AFP/Oli Scarff)

Setelah memecat Ten Hag, INEOS menunjuk Ruben Amorim dari Sporting CP dengan biaya kompensasi sekitar 11 juta poundsterling.

Amorim datang dengan reputasi menjanjikan setelah berhasil mematahkan dominasi Benfica dan Porto di Portugal. Namun, sistem permainan 3-4-3 yang menjadi ciri khasnya sejak awal memunculkan keraguan.

Komposisi pemain Manchester United dianggap tidak cocok dengan kebutuhan taktik tersebut. Selain Patrick Dorgu yang didatangkan pada Januari, sebagian besar pemain tidak memiliki karakter ideal untuk menjalankan sistem tiga bek dengan dua wing-back.

Hasilnya, performa Manchester United justru semakin memburuk. Mereka bahkan sempat berkutat di sekitar zona degradasi pada paruh kedua musim.

Amorim sempat memberikan harapan setelah membawa Setan Merah ke final Liga Europa. Namun, kekalahan dari Tottenham Hotspur membuat musim tersebut berakhir mengecewakan.

INEOS kembali mempertahankan sang pelatih dan mendukung kebutuhannya di bursa transfer musim panas. Akan tetapi, Amorim akhirnya dipecat pada Januari 2026 setelah hanya sekitar 14 bulan menangani tim.


3. Mengangkat Michael Carrick Tanpa Mencari Pelatih yang Lebih Berpengalaman

Pelatih kepala Manchester United asal Inggris Michael Carrick memberi isyarat di tepi lapangan selama pertandingan Liga Inggris antara Manchester United dan Bournemouth di Old Trafford di Manchester, barat laut Inggris, pada 25 Oktober 2026. (Darren Staples/AFP)

Setelah Amorim pergi, Manchester United menunjuk Michael Carrick sebagai pelatih interim pada pertengahan Januari 2026.

Mantan gelandang Setan Merah tersebut berhasil mengembalikan pendekatan permainan yang lebih sederhana. Ia menggunakan formasi 4-3-3, mengembalikan Kobbie Mainoo ke tim utama, serta menempatkan Bruno Fernandes di posisi terbaiknya sebagai gelandang serang.

Hasilnya cukup mengesankan. Manchester United yang sebelumnya berada di peringkat keenam berhasil mengakhiri musim di posisi ketiga sekaligus mengamankan tiket Liga Champions.

Namun, keberhasilan tersebut dinilai seharusnya tidak membuat manajemen langsung mempercayakan jabatan permanen kepada Carrick.

Menurut analisis Flashscore, INEOS semestinya berterima kasih atas kontribusi Carrick sebagai pelatih interim, kemudian mencari sosok dengan pengalaman lebih mumpuni untuk membawa klub melangkah lebih jauh.

Carrick memang memberikan hasil positif, tetapi performanya mulai menunjukkan sejumlah kelemahan menjelang akhir musim.

Berita Terkait