Bola.com, Jakarta - Liam Rosenior mengungkapkan masa kerjanya di Chelsea menjadi pengalaman terbaik sekaligus tersulit dalam hidupnya.
Kendati hanya berlangsung selama empat bulan, pelatih yang kini menangani Paris FC itu mengaku masih menyimpan cerita mengenai persoalan yang terjadi di klub Premier League tersebut.
Rosenior belum bersedia mengungkapkan detailnya. Namun, ia menegaskan kejadian yang membuatnya meninggalkan Chelsea tidak berkaitan dengan sepak bola.
"Saya tidak ingin membahas detailnya sekarang. Saya akan menceritakannya suatu hari nanti, ketika waktunya tepat. Namun, di negara yang menjunjung tinggi toleransi sebagai nilai penting, apa yang terjadi di sana tidak ada hubungannya dengan sepak bola," kata Rosenior.
Pelatih berusia 42 tahun itu memulai karier kepelatihannya di Hull City pada 2022, setelah menjadi pelatih interim Derby County. Ia meninggalkan Hull pada 2024 sebelum menerima tawaran dari RC Strasbourg tahun yang sama.
Strasbourg dan Chelsea berada di bawah kepemilikan yang sama. Pada musim pertamanya di Prancis, Rosenior membawa Strasbourg finis di posisi ketujuh Ligue 1. Ia bertahan hingga Januari sebelum pindah ke Chelsea pada awal tahun ini.
Cari tahu jadwal tim kesayangan di Premier League 2026/2027 dengan mengeklik ini.
Perjalanan Rosenior di Chelsea
Chelsea menunjuk Rosenior sebagai pengganti Enzo Maresca pada Januari. Maresca sebelumnya membawa The Blues menjuarai UEFA Conference League dan Piala Dunia Antarklub pada 2025.
Saat pergantian pelatih terjadi, Chelsea menempati posisi kelima klasemen dengan 30 poin dari 19 pertandingan.
Rosenior mengawali kiprahnya dengan hasil positif. Chelsea memenangi enam dari tujuh pertandingan pertama di bawah arahannya. Satu-satunya kekalahan dalam periode tersebut terjadi saat menghadapi Arsenal di Piala Liga Inggris.
Namun, performa tim kemudian menurun. Dalam 16 pertandingan berikutnya, Chelsea hanya meraih empat kemenangan. Mereka juga menelan tujuh kekalahan dari delapan laga terakhir bersama Rosenior.
Chelsea akhirnya memecat Rosenior pada April. Xabi Alonso kemudian ditunjuk sebagai manajer permanen pada musim panas lalu.
Rosenior kini kembali ke Prancis untuk menangani Paris FC. Ia mencatatkan lima kemenangan dan dua hasil imbang dari sembilan pertandingan.
Dalam wawancara dengan So Foot yang terbit pekan ini, ia membicarakan pengalaman selama menangani Chelsea.
Jadi Olok-Olok
Saat diminta menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di Stamford Bridge, Rosenior mengakui jawaban sebelumnya belum menjelaskan persoalan secara langsung.
Ia justru menyebut masa awal kepelatihannya sebagai periode yang paling membuatnya khawatir.
"Sebetulnya, momen yang paling membuat saya khawatir adalah pada awalnya, ketika kami melewati rentetan lima kemenangan beruntun," ujarnya.
Menurut Rosenior, hasil positif tersebut tidak membuatnya terhindar dari sorotan. Ia merasa pemberitaan media kemudian berkembang menjadi ejekan terhadap dirinya.
"Klub mana pun pasti senang dengan hasil seperti itu, tetapi tidak Chelsea. Ketika Anda mendapatkan hasil bagus, Anda menjadi sorotan. Setelah itu, muncul semacam efek bola salju di media," kata Rosenior.
Ia menyinggung instruksi yang ditulisnya di secarik kertas untuk Alejandro Garnacho ketika Chelsea bermain dengan 10 pemain melawan Paris Saint-Germain. Momen tersebut menjadi bahan olok-olok, begitu pula pakaian dan gaya bicaranya.
"Mereka menjadikan instruksi yang saya berikan kepada Garnacho di secarik kertas sebagai bahan ejekan ketika kami kehilangan satu pemain melawan PSG. Pakaian yang saya kenakan menjadi lelucon, begitu pula cara saya berbicara. Saya bukan bahan lelucon!" ucap Rosenior.
Tidak Puas dengan Perlakuan Media
Selama menangani Chelsea, Rosenior mendapat komentar mengenai gaya komunikasinya. Bahkan, muncul anggapan ia berbicara seperti sedang berinteraksi dengan orang-orang di LinkedIn.
Rosenior mengaku tidak senang dengan reaksi media. Menurutnya, di Inggris terdapat anggapan tertentu mengenai bagaimana seorang pelatih Premier League seharusnya bersikap.
"Di Inggris, ada anggapan yang sudah terbentuk tentang seperti apa seharusnya seorang pelatih Premier League dan bagaimana ia harus bersikap. Anda harus menyesuaikan diri dengan standar tersebut. Orang-orang yang mengenal saya tahu bahwa saya berusaha menjadi pribadi yang tulus dan autentik," tuturnya.
Rosenior menyadari dirinya tidak memiliki kendali atas cara media menggambarkan atau membicarakannya. Namun, pengalaman di Chelsea membuatnya memahami besarnya pengaruh media dalam membentuk opini publik.
"Apa yang saya pahami sekarang, dan ini penting bagi semua pelatih di dunia, adalah media sosial maupun media secara umum bisa menentukan opini publik tentang kualitas seorang pemain atau pelatih," katanya.
Rosenior mengakui pengaruh media terhadap opini publik bukanlah hal baru.
"Pelajaran terbesar dari masa saya di Chelsea adalah memahami bahwa media juga mampu membangun keseluruhan narasi tentang perjalanan sebuah klub," ucapnya.
Sumber: Sportwitness