Vita Marissa Ungkap Tantangan Melatih Atlet Gen Z, Mental dan Psikologis Jadi Perhatian

Kepala Pelatih Ganda Campuran PB Djarum, Vita Marissa, berbagi cerita menangani atlet generasi Z.

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 08 November 2026, 17:45 WIB
Dian Ramadhani Mukti/Muhammad Luthfi Habibi sukses menjadi kampiun di nomor ganda campuran World Junior Championships 2026. Mereka menaklukkan wakil China, Feng Yi Lang/Li Meng Han. (Doc PB Djarum)

Bola.com, Kudus - Keberhasilan pasangan ganda campuran junior Indonesia, Muhammad Luthfi Habibi/Dian Ramadhani Mukti, menjuarai BWF World Junior Championships 2026 menjadi pencapaian membanggakan bagi bulu tangkis Tanah Air.

Pasangan binaan PB Djarum tersebut membuat kejutan dengan menaklukkan wakil China, Feng Yi Lang/Li Meng Han, melalui pertarungan ketat tiga gim dengan skor 17-15, 8-15, 16-14.

Advertisement

Gelar juara tersebut menjadi modal penting bagi Luthfi/Dian untuk menapaki jenjang yang lebih tinggi. Kepala Pelatih Ganda Campuran PB Djarum, Vita Marissa, berharap pencapaian itu menjadi awal perjalanan panjang keduanya menuju level senior.

"Harapannya, ini kan baru awal ya, juara di World Junior. Ke depannya, pasti harapannya mereka masuk ke tim A. Ini benar-benar jadi modal banget buat mereka," ujar Vita Marissa di Kudus, Sabtu (7/11/2026).

Di balik keberhasilan tersebut, Vita juga menghadapi tantangan tersendiri dalam menangani atlet-atlet muda yang berasal dari generasi Z.


Melatih Atlet Gen Z Butuh Kesabaran

Dian Ramadhani Mukti/Muhammad Luthfi Habibi sukses menjadi kampiun di nomor ganda campuran World Junior Championships 2026. Mereka menaklukkan wakil China, Feng Yi Lang/Li Meng Han. (Doc PB Djarum)

Menurutnya, secara umum tantangan melatih setiap generasi tidak jauh berbeda. Namun, ada aspek yang kini membutuhkan perhatian lebih besar, yakni pembentukan mental dan kondisi psikologis pemain.

Vita menilai, kemampuan teknik, keterampilan bermain, hingga fisik merupakan bagian yang sudah biasa diberikan dalam program latihan. Sementara itu, membangun mental atlet membutuhkan pendekatan dan perhatian khusus.

"Yang pasti mereka butuh pendekatan, tapi juga yang paling penting melatihkan mental dan psikologis anak-anak dibanding semuanya. Kalau teknik, skill, fisik itu sudah biasa," katanya.

Ia menambahkan, atlet generasi sekarang membutuhkan dukungan lebih dalam menghadapi berbagai persoalan mental dan psikologis selama menjalani proses pembinaan.


Komunikasi yang Baik

Vita bersama tim pelatih memilih mengedepankan komunikasi yang baik dengan para pemain. Baginya, atlet perlu memahami tujuan mereka berada di lingkungan pembinaan, termasuk arah dan target yang ingin dicapai.

"Dari aku pribadi, aku sama tim selalu ingin berkomunikasi baik saja sama mereka. Paling khusus dan spesialnya aku dari situ," tutur Vita.

Melalui komunikasi tersebut, para pemain diharapkan memiliki pemahaman yang jelas mengenai tujuan mereka berlatih dan berkembang sebagai atlet profesional.

"Kita tetap komunikasi, tetap selalu memberikan mereka pandangan tujuan mereka datang, jadi apa, arahannya seperti apa," lanjutnya.

Pendekatan itu menjadi salah satu cara Vita dalam mendampingi atlet-atlet muda agar tidak hanya berkembang dari sisi kemampuan bermain, tetapi juga memiliki kesiapan mental untuk menghadapi tantangan di level yang lebih tinggi.

Bagi Vita, keberhasilan Luthfi/Dian di level junior harus menjadi pijakan untuk terus berkembang. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi dan mempersiapkan diri agar mampu menembus tim A serta bersaing di level senior.