Sukses


Kabar dari Prancis: Menelusuri Jejak Islam di Louvre (3)

 

Laporan langsung jurnalis Bola.com, Ary Wibowo dan Vitalis Yogi Trisna, dari Paris, Prancis ...Bagi warga Prancis, membangun budaya berpikir untuk belajar memang tidak hanya di kampus, tetapi juga bisa dalam tiap denyut kehidupan masa lampau. Oleh sebab itu, selain bagi para turis, museum menjadi salah satu tempat yang paling sering dikunjungi para pelajar.

Setelah berbincang dengan beberapa pelajar tentang koleksi di Louvre, perjalanan kemudian berlanjut ke hall utama. Cukup lelah memang. Bayangkan saja, pegalnya kaki apabila harus menyusuri satu per satu bilik-bilik istana yang luasnya tak kurang dari 60.600 meter. 

Namun, saat turun dari tangga Denon, terdapat petanda dari tembok di salah satu bilik yang mengundang rasa penasaran. Dalam tembok berwarna hitam itu bertuliskan "Arts De I'Islam". Alhasil, kaki pun melangkah ke ruangan yang berada beranda Richielieu dan Sully itu. 

Letak Arts De I'Islam di Louvre memang sedikit terpencil. Jika tak teliti, pengunjung bisa saja melewati ruangan yang pertama kali dibuka untuk umum sejak 2012 tersebut. Setidaknya ada sekitar 3.000 koleksi tentang berbagai sejarah kebudayaan Islam yang dipamerkan.

Benar saja, begitu masuk ke dalam ruangan, keindahan koleksi membuat hati berdecak kagum. Dalam ruangan tersebut dipamerkan berbagai aksesori, seperti manik-manik, gelang, guci, nisan hingga stempel uang yang berperan dalam sejarah peradaban Islam di Eropa. 

Suasana ruangan memang redup karena sumber penerangan hanya dari cahaya matahari yang menyelinap dari atap kubah permadani di langit-langit. Namun, kesan istimewa tetap terasa karena perpaduan cahaya dari lembaran logam serta tembok kaca di sekitar ruangan.

Empat periode
Koleksi di Arts De I'Islam terbagi dalam empat periode. Pertama pada abad ke-17 Masehi hingga abad ke-11, lalu abad ke-11 hingga pertengahan abad ke-13, dilanjutkan hingga abad ke-16, serta terakhir koleksi-koleksi yang berasal dari peninggalan jejak Islam abad ke-18.

Di saat mengitari ruangan, ada koleksi yang mencuri perhatian, yakni pedang serta perisai tentara Dinasti Mughal yang berasal dari India. Senjata dari logam itu pun terlihat lebih simpel jika dibandingkan milik para tentara kerajaan di Eropa. 

Pada jaman pemerintahan Napoleon Bonaparte, musem sempat berganti nama menjadi  Musee Napoleon. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna).

Arts De I'Islam juga memamerkan akulturasi kebudayaan Islam dengan Cina di Iran. Hal itu diketahui dari sejumlah peralatan masak dari keramik, yang dalam keterangan peta, berasal dari abad ke-17.  

Akulturasi dengan Cina terpampang jelas dari corak porselen keramik bergambar naga, khas kebudayaan Cina. Puluhan porselen keramik itu, menurut catatan sejarah, dikirim perusahaan European East Indian Company melalui pelabuhan Bandar Abbas, Iran, ke Eropa.

Arts De I'Islam pun menjadi kunjungan terakhir Louvre. Menurut salah satu penjaga museum, meski baru "seumur jagung", ribuan koleksi peradaban serta kebudayaan Islam di dalam ruangan itu juga tidak pernah sepi pengunjung, sama seperti Mona Lisa dan Si jelita Venus de Milo. 

Selesai.

Saksikan cuplikan pertandingan dari Liga Inggris, Liga Italia, dan Liga Prancis dengan kualitas HD di sini

Video Populer

Foto Populer