Sukses


Andriy Shevchenko dan 2 Penalti Bersejarah di Final Liga Champions

Bola.com, Jakarta - Andriy Shevchenko pernah dua kali tampil bersama AC Milan pada laga final Liga Champions. Pemain yang akrab disapa Sheva itu menjadi algojo penalti dalam dua laga tersebut, yang mengubah hasil pertandingan.

Bakat mengolah bola Andriy Shevchenko telah terlihat sejak masih kecil. Meski sang ayah yang merupakan tentara Uni Soviet sempat skeptis, Andriy Shevchenko mampu membuktikan bakatnya.

Menimba ilmu di akademi sepak bola Dynamo Kyiv dari 1986 sampai 1993, Shevchenko berhasil menjadi satu di antara pesepak bola muda berbakat yang dimiliki Ukraina. Kemampuanya semakin terasah ketika diasuh pelatih legendaris, Valeriy Lobanovskyi.

Bersama Dynamo Kyiv, Sheva berhasil mendulang 123 gol dari 249 pertandingan di seluruh ajang. Dia juga turut membantu Kyiv merengkuh 12 titel juara dari 1994 hingga 1999, beberapa di antaranya adalah lima trofi Liga Premier Ukraina.

Pesona Andriy Shevchenko bersama Dynamo Kyiv menarik minat raksasa Serie A, AC Milan. I Rossoneri butuh bomber haus gol seperti Shevchenko, setelah kehilangan Marco van Basten yang pensiun pada Agustus 1995 akibat cedera parah di pergelangan kakinya.

Setelah mengeluarkan mahar 25 juta dolar AS, AC Milan berhasil memboyong Andriy Shevchenko yang saat itu baru berusia 22 tahun ke San Siro. Dengan nilai yang memecahkan rekor transfer pada saat itu, Sheva mampu menjadi sosok penting di lini depan dan membawa berbagai gelar untuk AC Milan.

"Milan telah mengikuti saya selama dua tahun sebelum transfer dan popularitas sepak bola Italia pada saat itu sangat besar, terutama dengan tim-tim seperti Juventus, Milan, Roma, dan Napoli, tim yang menonjol selama periode itu dan memiliki pemain terbaik," kenang Sheva.

"Saya berusia 22 tahun dan siap untuk langkah selanjutnya dalam karier saya, untuk menguji diri saya di liga terberat dan bermain melawan tim-tim terbaik di dunia," lanjut Andriy Shevchenko seperti dilansir Football Italia.

 

2 dari 4 halaman

Algojo Penentu Kemenangan AC Milan

Tak butuh waktu lama bagi pria kelahiran kota Dvirkivschyna itu untuk menjadi pujaan publik San Siro. Pada musim pertamanya bersama AC Milan, Shevchenko sukses mencetak 29 gol dari 43 pertandingan di seluruh ajang.

Dari jumlah tersebut, 24 di antaranya tercipta di ajang Serie A. Berkat torehan tersebut, Sheva menyandang status sebagai Capocannoniere atau pencetak gol terbanyak di Serie A.

Akan tetapi, Andriy Shevchenko harus menunggu hingga musim 2002-2003 untuk mempersembahkan trofi juara buat AC Milan. Gelar pertama yang dipersembahkan Sheva untuk Il Diavolo Rosso adalah Liga Champions.

Menghadapi Juventus pada laga final di Old Trafford, 28 Mei 2003, Sheva tampil sejak menit awal. Meski pada musim tersebut penampilannya kerap terganggu badai cedera, Shevchenko bermain cukup baik pada partai final kontra Juve.

Setelah bermain 0-0 selama 120 menit, penentuan pemenang harus dilakukan lewat adu penalti. Andriy Shevchenko yang bertugas sebagai algojo kelima menanggung beban berat di pundaknya.

Ketika itu, kedudukan sama kuat 2-2, dan jika tendangan 12 pas Shevchenko membuahkan hasil, AC Milan bakal merengkuh trofi Liga Champions yang keenam. Kendati begitu, Andriy Shevchenko tetap tenang berjalan ke kotak penalti.

Berulang kali dia menatap ke arah wasit Markus Merk untuk menunggu suara peluit sebagai tanda untuk menendang. Hingga akhirnya sepakan 12 pas Shevchenko ke pojok kanan bawah mengelabui kiper Juve, Gianluigi Buffon, yang membuang badan ke arah berbeda.

Pria yang identik dengan nomor punggung tujuh itu langsung berlari ke arah kiper AC Milan, Dida, yang sukses menepis tiga eksekutor penalti Juventus. AC Milan menang 3-2 atas Juventus.

Berhasil merengkuh trofi Liga Champions bersama Milan tak membuat Andriy Shevchenko melupakan jasa pelatihnya di Dynamo Kyiv, Valeriy Lobanovskyi. Dia meletakkan medali juara Liga Champions di makam Lobanovskyi yang meninggal pada 2002.

"Itu adalah cara saya berterima kasih kepadanya atas apa yang dia berikan kepada saya," kata Sheva sepeti dilansir These Football Times.

"Tanpa ragu dia adalah pelatih yang paling mengubah saya. Dia mengajari saya perlunya bersabar, dia menanamkan budaya kerja dalam diri saya dan pentingnya menghormati musuh Anda. Dia meletakkan fondasi yang menjadi dasar karier saya," tuturnya.

3 dari 4 halaman

Malam Kelam Sheva dan AC Milan di Istanbul

Selepas trofi Liga Champions, berbagai gelar juara mampu dipersembahkan Andriy Shevchenko untuk AC Milan, mulai dari Coppa Italia 2002-2003, Serie A 2003-2004, Piala Super Eropa 2003, dan Piala Super Italia 2004.

Pada musim 2004-2005, Shevchenko tampil gemilang. Dia berhasil mencetak 26 gol dari 40 pertandingan di seluruh ajang. Berkat kontribusinya tersebut, AC Milan kembali lolos ke final Liga Champions.

Pada partai final di Ataturk Olympic Stadium, 25 Mei 2005, Milan kali ini bersua Liverpool. Milan yang ketika itu masih diasuh Carlo Ancelotti tampil trengginas pada paruh pertama.

I Rossoneri berhasil unggul tiga gol lewat aksi Paolo Maldini pada menit pertama dan Hernan Crespo menit ke-39 serta 44'. Tertinggal 0-3 membuat suporter Liverpool yang hadir langsung ke stadion tertunduk lesu.

Sayangnya, AC Milan lengah pada babak kedua. The Reds tampil menggila dan berhasil membuat skor menjadi sama kuat 3-3. Trigol The Reds disarangkan Steven Gerrard pada menit ke-54, Vladimir Smicer menit ke-56, dan Xabi Alonso menit ke-60.

Skor imbang bertahan hingga 2x45 menit dan babak tambahan. Alhasil, penentuan pemenang dilanjutkan ke babak adu penalti.

Bagaikan deja vu, Sheva kembali menjadi penendang penalti kelima AC Milan. Namun kali ini, Dewi Fortuna tak berpihak kepada maestro sepak bola Ukraina tersebut.

Tendangan 12 pas Shevchenko ke tengah gawang mampu dihalau kiper Liverpool, Jerzy Dudek. Sheva tampak lesu dan seakan tak percaya tendangan penaltinya yang membawa Milan juara dua musim lalu gagal terulang.

Skor menjadi 3-2, kali ini untuk Liverpool yang sukses mengangkat trofi Liga Champions. Andriy Shevchenko dan AC Milan bakal sulit melupakan malam kelam di Istanbul.

"Ketika saya memikirkannya hari ini, masih sulit untuk percaya kami kalah di final Liga Champions. Itu sangat menyakitkan bagi para pemain. Kami tidak tidur malam itu," kata Shevchenko kepada Mirror pada 2015 lalu.

Sumber: Football Italia, These Football Times, Mirror, BBC

4 dari 4 halaman

Video

Video Populer

Foto Populer