Bawa Inter Kukuh di Puncak Klasemen Serie A, Chivu Ogah Bahas Scudetto

Inter Milan menutup paruh pertama Serie A dengan status bergengsi sebagai juara paruh musim. Kemenangan tipis atas Lecce memastikan Nerazzurri duduk nyaman di puncak klasemen dan memberi jarak signifikan dari para pesaing terdekat.

Bola.com, Jakarta - Inter Milan menutup paruh pertama Serie A dengan status bergengsi sebagai juara paruh musim. Kemenangan tipis atas Lecce memastikan Nerazzurri duduk nyaman di puncak klasemen dan memberi jarak signifikan dari para pesaing terdekat.

Hasil ini terasa semakin penting karena datang di momen krusial. Pada laga lain yang digelar di hari yang sama, Napoli gagal memetik kemenangan setelah ditahan imbang Parma tanpa gol. Situasi itu membuka peluang besar bagi Inter untuk menjauh, dan kesempatan tersebut akhirnya berhasil dimanfaatkan.

Meski demikian, jalan menuju kemenangan sama sekali tidak mudah. Lecce memberikan perlawanan sengit dan sempat membuat Inter frustrasi, bahkan nyaris menahan mereka tanpa gol hingga menit-menit akhir pertandingan.

Pelatih Inter, Cristian Chivu, pun memilih menahan euforia. Baginya, posisi puncak klasemen di pertengahan musim hanyalah indikator, bukan tujuan akhir.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 6 halaman

Gol Penentu Esposito dan Ikatan Emosional Chivu

Inter sempat dibuat tegang ketika penalti yang diberikan kepada mereka dianulir setelah tinjauan VAR. Tekanan kian terasa karena waktu terus berjalan tanpa gol.

Kebuntuan baru pecah pada menit ke-78. Francesco Pio Esposito, yang masuk dari bangku cadangan, berada di posisi tepat untuk menyambar bola muntah hasil penyelamatan Falcone atas tembakan Lautaro Martinez.

Chivu langsung berlari dari sisi lapangan untuk memeluk sang striker. Momen tersebut mencerminkan ikatan emosional yang sudah terjalin lama di antara keduanya.

“Saya ingat dia masih anak kecil berusia tujuh tahun, kami praktis tumbuh bersama. Saya mengenalnya luar dalam, keluarganya, ambisinya, dan etos kerjanya sejak akademi. Dia kapten saya di tim Primavera Inter, dan saya bahagia untuknya, sama seperti saya bahagia untuk seluruh tim, karena ini adalah pertandingan yang sangat rumit,” ujar Chivu.

 

3 dari 6 halaman

Kelelahan, Kesabaran, dan Mentalitas Tim

Chivu mengakui performa Inter, terutama di babak pertama, jauh dari kata ideal. Nerazzurri terlihat lamban dan kesulitan membongkar pertahanan Lecce.

“Saya sudah menduga ini akan sulit, karena energi yang kami keluarkan saat melawan Napoli pada hari Minggu sangat besar dan kami tidak mendapatkan hasil maksimal. Sebagai mantan pemain, saya tahu betul betapa beratnya memainkan pertandingan lain hanya 72 jam kemudian,” tutur Chivu.

Meski demikian, ia memuji sikap timnya yang tidak menyerah.

“Terlepas dari kesulitan menemukan celah dan ketajaman dalam mengambil keputusan, tim ini punya sikap yang tepat. Mereka percaya sampai akhir dan punya hati untuk membawa pulang kemenangan. Ini adalah jenis pertandingan yang lebih sering Anda kalah daripada menang. Para pemain pantas mendapatkan hasil ini,” katanya.

 

4 dari 6 halaman

Keputusan Berani dan Filosofi Chivu

Salah satu keputusan Chivu yang sempat menuai sorotan adalah memberi timnya satu hari libur menjelang laga ini, meski Inter baru bermain pada akhir pekan. Melihat performa babak pertama yang kurang meyakinkan, muncul pertanyaan apakah keputusan itu keliru.

“Atau kita bisa membalik pertanyaannya dan mengatakan mungkin kami menang karena hari libur itu,” jawab Chivu dengan tenang.

Ia menegaskan tidak merasa perlu membenarkan keputusannya.

“Semuanya relatif. Saya membuat keputusan berdasarkan pengalaman, apa yang saya lihat di latihan, dan apa yang saya lihat di mata para pemain. Mungkin sepak bola Italia tidak terbiasa dengan cara saya bekerja dan itu terlihat aneh. Kadang berhasil, kadang tidak, tapi itu tidak menarik bagi saya. Yang menarik bagi saya adalah lima bulan ke depan musim ini,” ujarnya.

“Saya percaya pada kedewasaan para pemain. Tidak ada jaminan Anda menang hanya karena menjalani pemusatan latihan. Kalau begitu, dari semua pemusatan latihan yang saya jalani sebagai pemain, saya seharusnya memenangkan setiap turnamen,” lanjut Chivu.

 

5 dari 6 halaman

Juara Paruh Musim dan Peringatan Soal Scudetto

Dengan kemenangan ini, Inter resmi menyandang status juara paruh musim Serie A, unggul enam poin atas Napoli. AC Milan masih berpeluang memangkas jarak, tetapi mereka harus menghadapi laga tandang yang sulit.

Meski pernah merasakan status serupa dalam kariernya, Chivu menilai pencapaian ini tidak memiliki arti besar jika tidak diakhiri dengan trofi.

“Saya pernah memenangkan gelar juara paruh musim sebelumnya, tetapi itu tidak berarti apa-apa. Yang penting adalah berada di posisi ini pada bulan Mei,” ucapnya.

Ia kembali menegaskan bahwa persaingan menuju Scudetto masih sangat panjang.

“Apa artinya ini adalah kami kompetitif. Namun seperti yang saya katakan sebelumnya, ini akan menjadi pertarungan sampai akhir untuk setiap poin,” tutup Chivu.

Inter mungkin belum sepenuhnya meyakinkan saat menghadapi sesama tim besar musim ini. Namun konsistensi mereka melawan tim-tim papan bawah menjadi modal utama, sebuah fondasi yang bisa sangat menentukan ketika perburuan Scudetto benar-benar memasuki fase penentuan.

6 dari 6 halaman

Persaingan di Liga Italia

Video Populer

Foto Populer