Sukses


Hegemoni Persija dan Nasib Klub Ibu Kota Lainnya dalam Perjalanan Sepak Bola Indonesia

Bola.com, Jakarta - Jakarta dulu terpecah belah. Dominasi Persija Jakarta tidak sebesar saat ini. Ibu kota pernah punya Pelita Jaya pada era 1990-an, Persijatim Jakarta Timur, dan Persitara Jakarta Utara pada era 2000-an yang berkancah di kompetisi paling elite sepak bola Indonesia.

Pelita Jaya sempat lama bermarkas di Stadion Lebak Bulus, Jakarta, yang kini telah dirubuhkan. Kesebelasan milik keluarga Bakrie ini pernah disegani pada medio 1990-an dengan skuatnya yang mewah, namun selalu gagal menjadi juara di era Liga Indonesia.

Sejak dulu, Pelita Jaya dikenal sebagai tim yang minim basis dukungan. Klub ini akhirnya dilabeli sebagai tim musafir karena gemar berpindah markas.

Berawal dengan hijrah ke Solo pada 2000-2002, Cilegon pada 2002-2006, Purwakarta pada 2006-2007, Bandung pada 2008-2009, Karawang pada 2010-2012, Bandung pada 2012-2015, hingga akhirnya berganti nama menjadi Madura United hingga saat ini.

Selain Pelita Jaya, Jakarta juga punya Persijatim, yang juga bernasib sama. Harus hengkang dari ibu kota dan menjadi tim musafir.

Persijatim dibentuk pada 1976 dengan tujuan untuk menyaingi Persija Jakarta. Serupa dengan Pelita Jaya, klub yang bermarkas di Stadion Bea Cukai, Rawamangun, ini juga hanya memiliki segelintir suporter.

Sejak pengelolaan Persija Jakarta diambil alih oleh Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, pada 1997 silam, kesebelasan lain di ibu kota adalah anak tiri. Persijatim bahkan harus angkat kaki dari Jakarta Timur menuju Solo. Tim ini lalu berganti identitas menjadi Persijatim Solo FC sebelum dijual ke Pemprov Sumatera Selatan pada 2004 dan menjadi Sriwijaya FC.

Sebagai klub yang lahir di ibu kota, Persijatim pernah mengorbitkan banyak pemain beken, di antaranya Ferry Rotinsulu, Ismed Sofyan, dan Maman Abdurrahman.

2 dari 4 halaman

Persitara Jakarta Utara

Persija Timur-Utara adalah cikal bakal Persitara Jakarta utara yang eksis di kompetisi elite sepak bola Indonesia pada 2000-an. Dibentuk dengan nama tersebut pada 1976, identitas tim berubah pada 1979 setelah dipecah menjadi Persitara dan Persijatim.

Pada 2007-2008, Persitara mampu promosi ke Divisi Utama, kasta paling tinggi Liga Indonesia. Setelah empat tahun absen pasca-kepergian Persijatim, derbi ibu kota kembali ke Jakarta.

Jika Persija Jakarta punya The Jakmania, Persitara memiliki NJ Mania yang sedikit mampu menandingi fanatisme suporter dengan ciri khas warna oranye tersebut.

Hubungan NJ Mania dengan The Jakmania tidak akur. Kondisi ini semakin menambah gairah persaingan antara Persitara dengan Persija.

Saat Laskar Si Pitung, julukan Persitara, menjamu Persija di Stadion Kamal Muara atau Stadion Tugu, The Jakmania nekat berbondong-bondong datang dengan massa besar. Sebaliknya, NJ Mania dilarang hadir di Stadion Lebak Bulus jika tim kebanggaannya bermain tandang.

Perbedaan kelas antara Persitara dengan Persija terlihat dari kucuran dana APBD DKI Jakarta kepada kedua klub. Jika Macan Kemayoran, julukan Persija, bisa mendapatkan Rp20 miliar per tahunnya, Laskar Si Pitung hanya menerima Rp2 miliar sebagai dana operasional.

Momen paling membanggakan buat Persitara dalam derbi ibu kota adalah ketika mengalahkan Persija 4-2 pada Liga Super Indonesia 2008-2009 di Stadion Gajayana, Malang. Saat itu, Persija berstatus tuan rumah namun harus menjadi tim musafir karena terusir dari Jakarta.

Sumbangan  gol dari John Takpor, Prince Kabir Bello, Musthopa Aji hanya mampu dibalas oleh Leo Saputra dan gol bunuh diri Mursyid Mony.

Setahun berselang, Persitara terdegradasi ke divisi utama, yang menjadi kasta kedua sepak bola nasional, setelah terpuruk di juru kunci klasemen. Saat ini, Laskar Si Pitung masih terjebak di Liga 3.

Sepuluh tahun berkutat di kasta bawah, masih banyak publik sepak bola yang mengingat ekisetensi Persitara. Pasalnya, Laskar Si Pitung pernah diperkuat sejumlah pemain beken di masanya. Mulai dari Rahmat Rivai, Amarzukih hingga Kurniawan Dwi Yulianto.

3 dari 4 halaman

Bhayangkara FC

Setelah Persitara turun kasta, derbi ibu kota menghilang begitu saja hingga Bhayangkara FC lahir dan bermarkas di Stadion PTIK pada 2018. Namun, karena didirikan oleh institusi kepolisian dan minimnya dukungan suporter, pertandingan kedua tim tidak semeriah rivalitas dua klub dalam satu kota pada umumnya.

Meski begitu, Jakarta patut berbangga karena dalam dua musim berturut-turut, klub ibu kota meraih gelar juara Liga Indonesia, di mana Bhayangkara FC menjadi juara Liga 1 2017 dan Persija Jakarta menjadi juara Liga 1 2018.

Belakangan, percikan gengsi mulai terbangun antara kedua klub. Khususnya di musim ini. Kedua klub begitu agresif di bursa transfer sehingga dijuluki sebagai Los Galacticos-nya Indonesia. Bhayangkara FC dan Persija telah bertemu pada pekan ketiga Shopee Liga 1 2020 dan berakhir 2-2.

4 dari 4 halaman

Video

Video Populer

Foto Populer