Sukses


Evan Dimas dan Deretan 6 Pemain Indonesia yang Pernah Menimba Ilmu di Spanyol: Sulitnya Menaklukkan Negeri Matador

Bola.com, Jakarta - Popularitas Evan Dimas melesat bak roket seusai mengantar Timnas Indonesia U-19 menjadi juara Piala AFF U-19 2013. Ia bersama rekan-rekannya kian dielu-elukan saat sukses lolos ke putaran final Piala AFC U-19 2014.

Skuad berjulukan Garuda Nusantara besutan Indra Sjafri itu berhasil mengunci tiket ke putaran final Piala AFC U-192014 setelah menggasak juara bertahan Korea Selatan dengan skor 3-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta. Evan Dimas mencetak hattrick saat itu.

Walau kemudian Timnas Indonesia U-19 gagal berprestasi di Piala AFC U-19 2014 yang dihelat di Myanmar, popularitas Evan Dimas tak meredup.

Permainan cantik mirip-mirip Barcelona yang diusung Indra Sjafri sudah terlanjur membuat masyarakat jatuh cinta. Evan Dimas yang berposisi sebagai gelandang tengah dibandingkan dengan bintang-bintang The Catalan macam Xavi Hernandez dan Andres Iniesta.

Saat kompetisi profesional Indonesia mati suri imbas konflik antara PSSI dengan Pemerintah RI sepanjang 2015, Evan Dimas mendapat kesempatan berharga menjalani latihan di klub Spanyol, Llagostera dan RCD Espanyol B.

Nine Sport, promotor event olahraga yang sering mendatangkan klub-klub top ke Indonesia, menjalin kerja sama dengan pengelola La Liga. Intinya mereka memberikan kesempatan kepada Evan Dimas unjuk kemampuan. 

Berkarier di Llagostera pada medio 2015, Evan Dimas yang datang dalam kondisi cedera gagal menunjukkan kemampuan terbaik. Ia hanya menjalani latihan kurang dari sepekan. Sementara itu di Espanyol B, gelandang kelahiran Surabaya, 13 Maret 1995 itu sempat menjalani latihan selama tiga bulan.

Di klub tersebut ia juga gagal mendapatkan kontrak permanen. Walau begitu selepas dari Spanyol, terlihat kemampuan olah bola sang pemain meningkat pesat.

Selain Evan Dimas, siapa lagi pemain Indonesia yang pernah menimba ilmu di Spanyol? Berikut lima di antaranya:

2 dari 8 halaman

Arthur Irawan

Nama Arthur Irawan menghebohkan publik sepak bola Tanah Air kala dirinya menandatangani kontrak dengan RCD Espanyol B pada akhir 2011.

Talenta sang bek sayap dicium pemandu bakat klub kontestan kompetisi kasta ketiga Negeri Matador saat dirinya tampil dalam sejumlah laga kompetisi amatir Inggris bersama Lytham Town.

Arthur ditawari trial selama dua bulan sebelum akhirnya dipanjar kontrak permanen selama empat tahun. Tampil sebanyak 22 laga dengan jumlah koleksi empat gol selama dua musim, Arthur pindah ke Malaga B pada awal 2014.

Sayang kariernya macet di klub barunya, ia hanya enam kali mengecap kesempatan merasakan atmosfer pertandingan. Terakhir pemain ini tercatat sebagai pemain klub Divisi III Belgia, Waasland-Beveren.

Uniknya walau mengecap jam terbang internasional, nama Arthur justru tidak laku di Timnas Indonesia. Ia sempat diminta bergabung oleh Nilmaizar saat Tim Merah-Putih akan menghadapi Piala AFF 2012.

Hanya setelah menjalani latihan selama sepekan, namanya dicoret. Padahal kala itu Arthur sudah ikut skuat Garuda ke Malaysia tempat bergulirnya fase penyisihan turnamen.

Pelatih Timnas Indonesia saat ini, Alfred Riedl, mengaku sama sekali tidak berminat memakai tenaga Arthur. Ia bahkan sempat menyebut sebaiknya pemain kelahiran Surabaya, 3 Maret 1993 tersebut, berganti profesi dari pesepak bola.

Namun, apapun itu Arthur mencatatkan diri sebagai pemain asal Asia Tenggara pertama yang berkiprah di Spanyol. Walau memang tidak di level kasta tertinggi, prestasinya layak diberi apresiasi.

3 dari 8 halaman

Dallen Doke

Kabar bagus datang dari Spanyol pada awal September 2016. Dua pemain asal Indoneia, Mahir Radja dan Dallen Ramadhan, secara resmi menandatangani kontrak selama setahun dengan klub Spanyol, Deportivo Castellon SAD, pada September 2016.

Sementara itu, Castellon merupakan klub yang kala itu sedang berkompetisi di Divisi Tercera atau kompetisi kasta keempat di Spanyol. Klub yang diarsiteki Kiko Ramirez itu bermarkas di Nou Estadi Castalia yang berkapasitas 16 ribu penonton.

Klub yang berdiri pada 1922 itu juga pernah diperkuat beberapa pemain berkualitas. Mulai dari Leonardo Ulloa, Emilio Nsue, Gaizka Mendieta, hingga mantan pelatih Spanyol, Vicente del Bosque.

Dallen sebelumnya pernah memperkuat Pelita Bandung Raya saat tampil di Piala Presiden 2015. Namun, kontraknya bersama tim yang kini berganti nama menjadi Madura United itu tidak berlanjut sehingga ia akhirnya mencoba peruntungan di Spanyol.

Sebelum resmi berkostum CD Castellon, Dallen dan Mahir sama-sama pernah memperkuat Timnas Indonesia U-19 yang diasuh Fakhri Husaini.

"Sangat senang dan bangga menjadi bagian dari CD Castellon! Tantangan baru dengan begitu banyak angan-angan. Terima kasih untuk semua yang selalu mendukung saya," tulis Dallen di akun Instagramnya.

Keduanya juga lama menimba ilmu di Negeri Matador karena masuk program pengembangan pemain yang dilakukan, Jakarta Football Academy sejak 2012. Dallen dan Mahir berlatih di Spanyol bersama ketujuh rekan di JFA, yakni Muhammad Rafif, Ferul Monang, Syahrian Abimanyu, Hanif Faturahman, Hanif Sjahbandi, Samuel Christianson, dan Nicolas Pambudi.

Kala itu, kesembilan pemain asal Indonesia tersebut berhasil membawa tim yang mereka perkuat menjadi juara wilayah Valencia untuk kategori usia di bawah 16 tahun. Selepas itu beberapa di antara mereka bertahan di Spanyol, menjalani latihan di sebuah akademi sepak bola privat.

4 dari 8 halaman

Mahir Radja

Nama Mahir Radja sejatinya masuk dalam daftar seleksi di Timnas Indonesia U-19 yang akan berlaga di Piala AFF U-19 2016. Namun, sang pemain belia memilih menjalani trial di klub Spanyol, Deportivo Castellon SAD. Siapa sangka keputusannya berbuah manis.

Ia dikontrak oleh Castellon pada 2016 lalu untuk bermain di tim U-19 klub yang bermarkas di Kota Valencia itu. Keputusan Mahir menepikan kesempatan mengikuti seleksi Tim Merah-Putih bukan karena ia tidak nasionalis.

Agenda trial di Castellon berbarengan dengan pelatnas Timnas Indonesia U-19. Kesempatan menjalani tes di klub Divisi IV Spanyol tersebut tidak datang setiap saat. Sang ayah, Demis Djamaoeddin, membebaskan anaknya untuk memilih.

Sudah lima tahun Mahir berada di Spanyol menjalani latihan privat yang dikelola oleh Vicente Floro, seorang agen pemain berlisensi FIFA. Vicente sendiri merupakan putra mantan pelatih Real Madrid, Benito Floro. Ia mendirikan akademi privat untuk menampung pesepak bola berbakat dari berbagai belahan dunia untuk dipasarkan ke klub-klub Eropa.

Karier junior Mahir Radja berawal di Akademi Villa 2000. Ia sempat masuk program pelatnas jangka panjang Timnas Indonesia U-19 besutan Fakhri Husaini pada 2015.

Sayang, belum sempat mentas merasakan atmosfer turnamen internasional, konflik sepak bola nasional meledak. Timnas Indonesia U-19 kemudian dibubarkan karena tak bisa berlaga di pentas internasional seiring jatuhnya sanksi FIFA imbas intervensi pemerintah RI.

Sebelumnya, pemain kelahiran 23 Mei 1998 itu sempat berkiprah juga di Timnas Indonesia U-16 Piala AFF 2013. Keberhasilan sang gelandang mendapatkan kontrak terasa membahagiakan.

"Pastinya saya amat senang akhirnya bisa mengantungi kontrak profesional dari Castellon. Semoga saya mendapat kesempatan bermain yang banyak di tim U-19 sehingga bisa naik kelas ke tim utama," tutur Mahir Radja yang dikontak Bola.com lewat jaringan telepon internasional.

5 dari 8 halaman

Syahrian Abimanyu

Nama Syahrian Abimanyu tidak kalah beken dengan rekan seangkatannya macam Osvaldo Haay dan Saddil Ramdani. Pemain berusia 21 tahun ini disebut-sebut sebagai gelandang muda paling menjanjikan di Indonesia saat ini dan bisa menjadi andalan bagi Timnas Indonesia pada masa depan.

Bakat Syahrian Abimanyu menurun dari ayahnya, Rasiman, yang merupakan mantan pesepak bola dan telah beralih profesi sebagai pelatih. Kini, keduanya sama-sama membela panji Madura United.

Masa kecil Abi, panggilan Syahrian, didominasi oleh kegiatan berbau sepak bola. Bayangkan, di usia yang baru menginjak lima tahun, gelandang Timnas Indonesia U-22 ini telah dilatih di Sekolah Sepak Bola (SSB).

Saat usianya 13 tahun atau 2012 lalu, Abi, berangkat ke Spanyol untuk mengasah kemampuannya di sana. Lima tahun di Negeri Matador, pemain kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah ini pulang ke Tanah Air untuk bergabung dengan Persija Jakarta U-19.

"Di Spanyol, setengah tahun saya di Madrid. Lalu di Alicante selama setengah tahun juga. Kemudian di Valencia saya empat tahun. Saya pindah-pindah SSB selama di sana," tutur Abi.

"Saat balik ke Indonesia, saya tidak sempat bermain untuk Persija U-19 karena mengikuti pemusatan latihan jangka panjang Timnas Indonesia U-19," jelas Abi.

6 dari 8 halaman

Tristan Alif Naufal

Perjalanan penuh dengan perjuangan harus dilalui bocah berbakat asal Indonesia, Tristan Alif Naufal demi mewujudkan mimpinya bermain di kompetisi Eropa. Saat ini, Tristan sudah menjadi bagian dari akademi klub La Liga Spanyol, CD Leganes.

Alif mengenal dunia si kulit bundar dari sang ayah, Ivan Trianto, yang seorang penggemar sepak bola, saat masih berusia empat tahun. Sadar sang anak memiliki bakat besar, Ivan coba mendaftarkan Alif ke Sekolah Sepak Bola yang berujung penolakan. Mereka menolak Alif karena usia sang anak belum masuk batas minimal, yakni 7 tahun.

Penolakan dari SSB tersebut membuat Alif hanya berlatih di rumah dengan menyaksikan video rekaman teknik melalui Youtube. Sesekali ia juga diajak berlatih bersama saudaranya yang kebetulan seorang freestyler. Baru pada usia 6 tahun, Alif berlatih di SSB setelah mendapat beasiswa di SSI Arsenal.

Hebatnya, Alif berhasil mendapatkan beasiswa karena tim pelatih klub yang bermarkas di London, Inggris, itu terpukau dengan aksinya saat mengikuti trial. Alhasil, Ivan bisa bernafas lega karena tidak harus merogoh kocek hingga Rp1,4 juta setiap bulan agar Alif bisa rutin latihan di sana.

Selain bersama SSI Arsenal, Alif juga tercatat pernah berlatih di sekolah sepak bola Liverpool dan juga ASIOP Apacinti, dua SSB yang terletak di kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Saat masih berlatih di Liverpool, bocah yang pernah dipuji pelatih yang kini menangani Manchester City, Pep Guardiola, masuk kategori pemain berbakat untuk pemain seusianya.

Bakat Alif yang semakin terasah karena berlatih secara rutin menarik minat dua klub yang punya akademi sepak bola jempolan, Ajax Amsterdam dan Feyenoord Rotterdam. Dua klub terkemuka di Belanda itu mengajak anak dari pasangan Ivan Trianto dan Irma Lansano itu untuk melihat langsung bakat besar yang dimiliki Alif.

Selama mengikuti festival sepak bola di Ajax, Tristan Alif Noufal berhasil menyabet beberapa penghargaan individu mulai Pemain Terbaik Ajax Internasional Camp 2014, Pemain Terbaik kategori 1 Vs 1, dan Coerver Netherlands Master Skillz 2014.

Bakat besar yang dimiliki Alif membuat Ajax dan Feyenoord memberikan tawaran untuk bergabung dengan akademi mereka setelah berlatih bersama. Tapi, keinginan Alif untuk berlatih di akademi klub Eredivisie itu batal karena terbentur regulasi pemain muda non Uni Eropa.

Sesuai regulasi, setiap anak-anak yang belum berusia 18 tahun harus didampingi orang tua yang bekerja di negara tersebut. Hal inilah yang tidak bisa dipenuhi orang tua Alif.

Setelah batal bergabung dengan Ajax dan Feyenoord, Alif coba merajut mimpinya dengan berlatih di Indonesia sejak 2015. Alif tetap tekun berlatih sembari menunggu kesempatan untuk bergabung dengan akademi dari klub di Benua Biru.

Pada Mei 2016, mimpi Alif menimba ilmu di Eropa kembali terbuka setelah tawaran dari akademi klub La Liga, Getafe U-13, menghampiri. Hanya, rintangan kembali dihadapi keluarga Alif karena kebutuhan biaya hidup di Negeri Matador yang angkanya mencapai Rp2,5 miliar.

Berkat bantuan dari beberapa pihak seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, KBRI Madrid, PT Pertamina, Angkasa Pura 1 & 2, PT Bank Mandiri, dan PT Garuda Indonesia, Alif mendapatkan dana yang cukup untuk berangkat ke Spanyol sekaligus mengurus izin tinggal di Eropa pada 15 September 2016. Alif pun akhirnya diperkenalkan ke publik telah bergabung dengan CD Leganes U-13 pada 25 September 2016.

7 dari 8 halaman

Syukran Arabia Samual

Bakat Syukran Arabia Samual, pemuda berdarah kental Indonesia, mencuri perhatian pemandu bakat Leganes U-16, satu di antara skuat level usia Leganes yang berkiprah di La Liga. Masih berusia 15 tahun, Syukran bakal membela Leganes U-16 dalam waktu dekat.

Cita-cita Syukran tidak berhenti sampai di situ. Syukran punya impian pula menimba ilmu di Akademi Sepak Bola Barcelona, La Masia. Harapan yang masih mungkin digapai Syukran sebab usianya sangat menunjang.

"Saya ingin menimba ilmu di La Masia, karena saya mengidolakan Barcelona. Pemain favorit saya adalah Carles Puyol," ujar Syukran.

Bakat Syukran mulai tercium kala memperkuat Tim Sepak Bola Anak Indonesia (SBAI) pada turnamen Football Barcelona Cup, April 2016 lalu. Dirinya bersama rekan seperjuangannya, Andrian Rusianto mendapatkan beasiswa selama tiga tahun dari Akademi Nalvacarnero.

Pada 2018 lalu, Syukran berhasil menembus skuat Leganes U-16 seusai mengikuti seleksi ketat. Berkat bakat besarnya, bocah yang tinggal di Bojong Gede, Kabupaten Bogor ini pun mendapatkan panggilan untuk memperkuat Tim Pelajar Kemenpora yang bertanding pada Piala Asia U-16 pada 1-10 Desember 2018 di Bali.

Soal adaptasi, Syukran sempat kesulitan, tapi berhasil melewatinya dengan baik. "Homesick sih awal-awal saja. Sekarang tidak," kata Syukran.

Ada fenomena jika banyak bakat muda Indonesia yang meniti karier di Spanyol, memilih untuk kembali pulang ke Tanah Air. Sebut saja Syahrian Abimanyu dan Samuel Christianson, alumnus Timnas Indonesia U-19. Jika itu merembet pula terhadap nasib Syukran, maka ia tertarik untuk membela Persebaya Surabaya.

"Kalau di Indonesia, saya suka Hansamu Yama dan jika kembali ke sini, saya ingin membela Persebaya," imbuh Syukran.

8 dari 8 halaman

Video

Video Populer

Foto Populer