Sukses


Nostalgia Adeng Hudaya: Dari Cikajang Ke Bandung Niat Kuliah, Malah Sukses Jadi Kapten Persib

Bola.com, Bandung - Sosok Adeng Hudaya tak bisa dilepaskan dari era keemasan Persib Bandung pada 1980-1990-an. Pencapaian terbaiknya adalah meraih trofi juara Perserikatan 1986 dan 1989-1990 dengan status sebagai kapten Maung Bandung.

Pria kelahiran Cikajang, Garut, 30 Juni 1957 juga menjadi bagian tim nasional Indonesia yang berlatih di Brasil pada 1986. Dalam channel YouTube Simamaung, Adeng mengungkap kiprahnya bersama Persib yang diawali dengan keputusannya meninggalkan Cikajang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi setelah lulus dari bangku SMA.

Ia terdaftar sebagai mahasiswa FPOK IKIP Bandung dan kemudian menyalurkan hobinya bermain sepak bola dengan masuk klub POP. Tak lama di POP, Adeng bergabung di POR UNI yang berkiprah di kompetisi internal Persib pada 1977. Dua tahun setelah itu, nama Adeng sudah masuk skuat utama Persib.

Nama Adeng mulai mencuat sejalan dengan kebangkitan Persib pada awal 1980. Ia menjadi kapten Maung Bandung dalam dua laga final Perserikatan secara beruntun menghadapi lawan yang sama, PSMS Medan pada musim 1983-1984 dan 1984-1985.

Pada dua laga itu, Persib gagal meraih trofi juara setelah setelah kalah via drama adu penalti di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.

"Sebenarnya Persib Bandung tampil bagus dan menghibur pada dua laga itu. Sayang, keberuntungan lebih berpihak pada PSMS," kenang Adeng.
2 dari 5 halaman

Cerita Jadi Juara

Setahun kemudian, giliran Persib Bandung yang beruntung dengan meraih trofi juara Perserikatan 1986.

Menurut Adeng, sukses Persib itu tak lepas dari keputusan Perseman Manokwari yang sengaja mengalah saat kedua tim bertemu pada laga terakhir babak enam besar di Stadion GBK.

Saat itu, meski kalah dengan skor berapa pun, Perseman tetap lolos ke grand final. Sementara Persib harus bersaing dengan Persija Jakarta, PSMS Medan dan PSIS Semarang.

Di mata Adeng, Perseman terkesan lebih memilih menghadapi Persib yang saat itu mengandalkan permainan cantik dan tidak kasar. Terbukti, Persib akhirnya menang telak dengan skor 6-0. Sementara Persija melibas PSIS Semarang tiga gol tanpa balas.

Persib lolos ke grandfinal menghadapi Perseman berkat unggul selisih gol atas Persija yang sama-sama mengoleksi 6 poin. Sedang pesaing lainnya, PSMS yang sejatinya berada diatas angin dengan poin 4 malah takluk ditangan juru kunci 6 Besar, PSM Makassar dengan skor 0-1.

3 dari 5 halaman

25 Tahun Menunggu

Keputusan sengaja mengalah dari Persib akhirnya jadi bumerang buat Perseman pada laga final di Stadion GBK, 11 Maret 1986.

Permainan disiplin yang diterapkan Persib yang mengandalkan duet Adeng Hudaya-Robby Darwis di sentral pertahanan mampu meredam keganasan lini depan Perseman yang dimotori Adolf Kabo.

Malah lewat serangan balik yang diawali umpan jauh Adeng pada menit ke-77 berhasil dimanfaatkan Djajang Nurjaman untuk menjebol gawang Perseman. Skor itu akhirnya bertahan sampai peluit panjang dibunyikan.

"Ketika berhasil merebut bola, saya melihat Djajang di daerah pertahanan Perseman. Kelebihan Djajang adalah kecepatannya, saya pun mengarahkan bola kepadanya dan gol. Persib akhirnya meraih juara setelah menunggu selama 25 tahun," kata Adeng.

Sukses Persib pada tahun itu dilengkapi dengan keberhasilan meraih gelar juara pada turnamen Piala Hasanal Bolkiah 1986 di Brunei Darussalam.

Tapi, Adeng tidak menjadi bagian dari sukses itu karena tengah memperkuat tim nasional Indonesia yang melakukan pemusatan latihan di Brasil.

4 dari 5 halaman

Patung Sepak Bola

Puncak pencapaian Adeng bersama Maung Bandung terjadi pada musim 1989-1990. Kala itu, Persib meraih trofi juara setelah mengalahkan Persebaya Surabaya dengan skor 2-0 di Stadion GBK, 11 Maret 1990.

Sukses itu mengukuhkan status Persib sebagai kiblat sepak bola di Tanah Air saat itu dengan permainan indah sebagai trade mark.

Pemerintah Kota Bandung mengapresiasi keberhasilan Persib itu dengan mendirikan Monumen Sepak Bola berupa patung di Simpang Tamblong - Veteran.

Patung yang dibuat seniman asal Bali, I Nyoman Nuarta diresmikan oleh Walikota Bandung, Ateng Wahyudi pada 8 Mei 1990.

"Patung itu juga simbol kebesaran Persib yang saat itu disebut universitasnya sepak bola Indonesia," ungkap Adeng.

5 dari 5 halaman

Video

Video Populer

Foto Populer