Sukses


Sutiono Lamso, Striker Legendaris Persib yang Menjadikan Marco van Basten sebagai Sosok Inspirasi

Bola.com, Jakarta - Nama Sutiono Lamso pantas masuk dalam daftar pemain legendaris yang dimiliki Persib Bandung. Selain menbawa Maung Bandung meraih trofi juara pada dua era berbeda yakni Perserikatan dan Liga Indonesia, Sutiono tercatat sebagai striker produktif.

Koleksi 21 gol yang dicetaknya pada Liga Indonesia 1994/1995 menjadi rekor gol di Persib dalam satu musim yang sampai saat ini belum terpecahkan.

Dalam channel Youtube Simamaung, Sutiono Lamso mengungkap kiatnya menjadi striker yang nyaris selalu mencetak gol saat tampil bersama tim yang dibelanya.

"Kuncinya adalah konsisten dan sabar menunggu kesempatan mencetak gol. Saya juga selalu memotivasi diri sendiri untuk selalu tampil baik agar membuat suporter tim senang," kenang Sutiono Lamso.

Kiat inilah yang membuat Sutiono yang posturnya terbilang kecil untuk ukuran striker kerap terlihat menonjol di lapangan hijau. Sutiono menceritakan, sejak pertama kali bersentuhan dengan si kulit bundar, ia memang selalu terobsesi untuk mencetak gol.

Ia pun menjadikan striker legendaris Tim Nasional Belanda, Marco van Basten sebagai idola dan sosok inspirasinya. "Kelebihan van Basten adalah insting golnya yang tinggi. Dia pun jeli melihat ruang yang kosong untuk mendapatkan peluang mencetak gol," ungkap Sutiono yang juga menjadikan mendiang Ricky Yakobi sebagai anutan untuk striker lokal.

Berkat aksi van Basten di Piala Eropa 1988 membuat Sutiono yang awalnya berposisi sebagai gelandang serang mulai menjadikan posisi striker sebagai pilihan utamanya di lapagan hijau.

Termasuk ketika namanya masuk dalam daftar skuad Persib Bandung jelang kompetisi Perserikatan 1989/1990. Peran Ajat Sudrajat disebut Sutiono sebagai senior yang terus mendorongnya agar mantap memilih posisi striker. "Saya pun akhirnya merasa nyaman sebagai striker."

 

2 dari 3 halaman

Prihatin Nasib Striker Lokal

Sebagai pemain yang pernah mencuat bersama Persib, Sutiono Lamso mengaku prihatin dengan minimnya striker lokal yang muncul dari Maung Bandung. Apalagi, saat ini, Persib lebih mengandalkan stiker asing untuk menjebol gawang lawan.

"Situasinya memang sulit. Striker itu seperti terlahir pada waktu yang tepat. Setelah mendapatkan pemain itu, ia harus diasah baik secara teknik, fisik dan mental. Tapi, untuk saat ini, situasinya sangat sulit buat striker lokal. Karena paradigma manajemen sudah berbeda," terang Sutiono.

Sutiono merujuk fakta rekor 21 golnya dalam satu musim yang tak bisa dipecahkan deretan striker yang berkostum Persib di Liga Indonesia. Termasuk striker asing seperti Ekene Michael Ikenwa, Cristian Gonzales (kini naturalisasi) dan Ezechiel Ndouassel.

"Tekanan di Persib memang berbeda dibandingkan tim lain. Di Persib, seorang pemain harus menghadapi tekanan dan tuntutan Bobotoh yang haus kemenangan," papar Sutiono.

Sutiono merasakan hal itu ketika masih aktif sebagai pemain. Meski berkontribusi lumayan buat Persib, Sutiono kerap juga mendengar teriakan Bobotoh yang tidak sabar menunggu datangnya gol dari penyerang Persib.

"Terus terang saya kerap terbebani juga. Itulah mengapa, mayoritas gol saya justru tercipta diluar kandang Persib," pungkas Sutiono.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Kami:

Video Populer

Foto Populer