Lika-Liku Kesuksesan Perjalanan Karier Cahya Supriadi, Dulu Bermodal Rp200 Ribu Ikut Seleksi Akademi Persija

Cahya Supriadi kini menjelma menjadi salah kiper lokal yang sangat menjanjikan, seperti Ernando Ari dan Nadeo Argawinata.

Bola.com, Jakarta - Cahya Supriadi kini menjelma menjadi salah kiper lokal yang sangat menjanjikan, seperti Ernando Ari dan Nadeo Argawinata.

Masih berusia 23 tahun, karier kiper kelahiran Karawang, 11 Februari 2003 tersebut terus melambung. Ia tak hanya jadi andalan di klub, tapi juga mencuri perhatian di Timnas Indonesia.

Di bawah mistar, Cahya Supriadi tampak ideal sebagai Spiderman. Tak hanya tatapan yang tajam, Cahya Supriadi juga punya postur menjulang atletis 180 centimeter.

Jebolan Akademi Persija Jakarta itu bisa dengan mudah melahap semua arah bola yang ditembakkan ke arahnya.

Selain Persija, Cahya Supriadi juga pernah memperkuat klub lainnya seperti Bekasi City sebelum berlabuh ke pelukan PSIM Yogyakarta pada 2015.

Kiprahnya yang memukau membawanya ke Timnas Indonesia U-20, U-23, dan akhirnya timnas senior. Debutnya di bawah bendera Merah Putih tersaji kala memperkuat Timnas Indonesia U-20 kontra Timnas Venezuela U-20 di Turnamen Maurice Revello 2022 di Prancis.

Sejak saat itu, nama Cahya Supriadi kian melambung dan beken di hati pemuja setia timnas. Kapan dan di mana pun timnas bermain, kehadiran Cahya Supriadi selalu dinanti.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Cerita di SSB dan Memutuskan Merantau

Kesuksesan yang diraih Cahya Supriadi tak jatuh begitu saja dari langit. Kerja keras, suka maupun duka menghiasi perjalanan kariernya.

Lewat kanal YouTube Sepik Bola baru-baru ini, Cahya Supriadi mengatakan mengenal sepak bola dari abangnya. Sang kakak memberikan semangat dan motivasi kepada Cahya Supriadi agar sukses meraih mimpi sebagai pesepakbola profesional.

"Abang saya sendiri mengenalkan sepak bola, karena abang saya enggak bisa naik lagi tingkatan levelnya. Mungkin cuman di kampung-kampung aja," kata Cahya Supriadi.

Awalnya, Cahya Supriadi bermain sepak bola karena iseng. Ia juga pernah menangis karena tidak disertakan ke dalam tim tingkat RT di sekitar rumah.

"Cuma main-main iseng saja. Terus antar RT saya ikut. Saya pernah nangis. Enggak dimainin sama Pak RT. Saya enggak dimainin. Maksudnya ikut, daftar gitu kan. Tapi enggak dimainin sama sekali. Saya balik, menangis. Kemudian saya mengadu ke abang saya," imbuh Cahya Supriadi seraya tertawa kecil.

Gara-gara kejadian tersebut, Cahya Supriadi kemudian dimasukkan ke sekolah sepak bola (SSB).

"Akhirnya abang saya besoknya langsung cari SSB buat saya. Ketemulah SSB namanya SSB Tunas Pupuk Kujang di Cikampek. Setelah  melihat-lihat akhirnya ya sudah coba karena saat itu belum jadi kiper. Ya masih senang-senang," katanya.

"Terus akhirnya makin ketagihan, makin nyaman di SSB. Setelah  itu ya enggak lama dari situ saya langsung ke Jakarta. Dapat tawaran. Umur 12 tahun saya sudah merantau ke Jakarta. Ke Jakarta gabung Persija," ujar Cahya Supriadi.

 

Modal Nekat

Menurut Cahya, di Jakarta kompetisinya makin banyak dan kompetitif juga. Ia terus mencari pengalamanlah.

"Dari situ lumayanlah perkembangan saya. Terus saya diajak buat SSB Ragunan Soccer School. Buat Liga Topskor sama Liga Kompasu. Dari situ Persija langsung masuk. Ada pelatih namanya Om Jos. Dia bilang SKO ada dua opsi sebenarnya. Ada SKO Ragunan buat seleksi tapi saya enggak masuk ke situ, enggak lolos. Terus Om Jos bilang, 'Ya udah ini ada seleksi Persija Akademi di Sunter Jakarta Utara?'."

Dengan modal nekat sembari mengingat pesan abangnya, Cahya Supriadi mengikuti seleksi di Akademi Persija.

"Tahun 2018 waktu itu. Dengan modal nekad, itu bulan puasa juga kalau enggak salah, ya sudahlah berangkat saja. Enggak mikirin karena teknologi kan sudah lumayan canggih ya. Saya modal betul cuman Rp200 ribu buat berangkat ke Jakarta," kenangnya.

Nasib baik berpihak, Cahya Supriadi lolos, meski masih tahapan yang tak mudah yang harus ia lewati. Termasuk harus menumpang di kosan salah satu temannya, Fajar.

Dari Akademi Persija, karier Cahya Supriadi terus mengalir dan pelan namun pasti ia menjelma menjadi salah satu kiper yang sangat diperhitungkan.

 

Video Populer

Foto Populer