Bangkit dari Abu, Macclesfield Ukir Kejayaan Bersejarah usai Depak Juara Bertahan Piala FA, Crystal Palace

Dari mati suri hingga menorehkan sejarah, inilah cerita kebangkitan ajaib Macclesfield, klub kasta keenam (non-league) yang sukses menyingkirkan juara bertahan Piala FA, Crystal Palace.

Bola.com, Jakarta - Kisah Macclesfield adalah pengingat kuat bahwa sepak bola, pada hakikatnya, tetap milik masyarakat.

Dari klub yang sempat dinyatakan "mati" hingga menjelma pembunuh raksasa Piala FA, perjalanan Macclesfield FC adalah cerita tentang komunitas, ketekunan, dan mimpi yang tampak mustahil.

Saat peluit panjang berbunyi usai kemenangan sensasional atas juara bertahan Crystal Palace, suporter Macclesfield tak langsung beranjak dari Moss Rose.

Mereka seolah ingin memperpanjang momen bersejarah itu, sesuatu yang, beberapa tahun lalu, bahkan tak pernah mereka bayangkan akan kembali rasakan. Ada masa ketika banyak orang takut tak akan pernah lagi kembali ke stadion tua di London Road itu.

Nama Macclesfield Town FC (1874-2020) kini tinggal ukiran di batu nisan sejarah.

Klub lama itu runtuh secara perlahan, disesali dalam diam oleh sebuah kota yang kian menjauh dari denyut sepak bola di ujung selatannya, titik terakhir sebelum perjalanan panjang menuju London dimulai.

Kondisi keuangan klub kala itu benar-benar hancur. Setelah terdegradasi dari League Two akibat serangkaian pengurangan poin, Macclesfield Town akhirnya jatuh ke tangan kurator pada September 2020.

Pandemi COVID-19 memperparah keadaan, membekukan pergerakan dan merusak ekosistem ekonomi sepak bola. Otoritas sepak bola pun dinilai tak banyak membantu, seolah hanya mengangkat bahu melihat satu lagi klub runtuh oleh kegagalan bisnis.

Namun, dari kehancuran itu, lahirlah kebangkitan.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 4 halaman

Aktor Kebangkitan

Adalah Rob Smethurst, pengusaha lokal, yang menjadi aktor utama kebangkitan Macclesfield. Ia membeli perlengkapan dan aset Moss Rose, bahkan menemukannya lewat situs properti Rightmove.

Sebuah keputusan impulsif yang, menurut pengakuannya sendiri, diambil dalam kondisi tak sepenuhnya sadar. Namun, keputusan itulah yang menghidupkan kembali sepak bola di kota itu.

Smethurst telah menggelontorkan sekitar 4 juta paun (sekitar Rp90 miliar) untuk proyek ini.

Lapangan sintetis 4G yang kemudian menjadi ciri khas Macclesfield terbukti krusial. Permukaan inilah yang menyulitkan Crystal Palace dalam laga Piala FA, Sabtu malam WIB (10-12-2026).

Lapangan tersebut memungkinkan warga lokal berlatih dan bermain sepanjang pekan, sekaligus menjadi sumber pemasukan penting bagi klub.

Perlahan, masyarakat kembali memadati London Road. Fasilitas gym dan bar kelas atas turut dibuka, bahkan menjadi tempat berkumpulnya suporter saat menyaksikan Euro 2020 pada musim panas berikutnya.

Di hari pertandingan, dengan minuman yang boleh dinikmati sambil menghadap lapangan, Macclesfield menjelma klub sosial, tempat bertemu teman, bercengkerama, dan merayakan sepak bola di teras pinggir lapangan dengan sajian berkualitas.

3 dari 4 halaman

Wajah Publik Klub

Robbie Savage, sahabat dekat Smethurst, menjadi wajah publik klub selama lima tahun. Ia bertindak sebagai juru bicara sekaligus penggerak antusiasme, bahkan membawa Macclesfield promosi ke National League North musim lalu sebagai manajer.

Popularitas Savage di media turut menghadirkan dua dokumenter BBC yang mengangkat kehidupan di balik layar klub.

Namun, Macclesfield bukan proyek pencitraan. Ini adalah misi kolektif. Banyak orang di dalam klub pernah terluka oleh runtuhnya Macclesfield Town.

Ketika pemilik lama, Amar Alkadhi, masih berkuasa sebagai pemilik yang jarang hadir, papan skor di Star Lane bertuliskan "Amar Out" pada Boxing Day 2019 mencerminkan kemarahan mayoritas pendukung.

Kendati klub lama sempat dua kali tampil di Football League, identitas Macclesfield sejatinya adalah klub non-league dengan sejarah membanggakan. Identitas itu cepat dipulihkan oleh Macclesfield FC melalui promosi beruntun, termasuk musim lalu di bawah Savage.

Macclesfield juga bukan Wrexham, klub yang dipilih Hollywood dan dipoles untuk konsumsi global. Konon, kota ini sempat dipertimbangkan untuk proyek Disney sebelum akhirnya tersingkir karena dianggap terlalu "borjuis", berada di Cheshire dan dikelilingi kawasan elite.

Namun, di balik itu, Macclesfield tetap memiliki karakter kelas pekerja yang kuat, terutama di sekitar stadion. Lanskap terbuka menuju Peak District kerap memberi kesan sunyi dan mencekam.

4 dari 4 halaman

Kedekatan dengan Elite Sepak Bola Inggris

Kedekatan geografis dengan komunitas elite sepak bola Inggris membawa keuntungan tersendiri. Wayne Rooney, yang lama tinggal di dekat sana, beberapa kali terlihat menyaksikan pertandingan dari tribune kecil. Sepupunya, Tommy Rooney, bahkan sempat tampil untuk klub.

Pada Sabtu bersejarah itu, Wayne Rooney tak kuasa menahan air mata ketika adiknya, John Rooney, menjadi otak kemenangan atas Crystal Palace.

John, dua kali pernah membela Macclesfield, kini menggantikan Savage sebagai manajer.

Ada pula atmosfer haru yang lebih dalam. Para pemain tampil di tengah duka mendalam atas meninggalnya rekan setim mereka, Ethan McLeod, penyerang 21 tahun yang wafat dalam kecelakaan mobil di M1 pada 16 Desember.

Orang tua Ethan hadir di tribune saat kemenangan itu diraih. John Rooney dan Smethurst memastikan kemenangan bersejarah tersebut dipersembahkan untuk almarhum.

Jika sepak bola masih layak disebut milik rakyat maka kebangkitan Macclesfield, dari abu kehancuran menuju kejayaan bersejarah di bawah matahari Januari, adalah perwujudan paling murni dari makna itu.

 

Sumber: The Guardian

Video Populer

Foto Populer