Arsenal Tak Perlu Disukai untuk Menjuarai Liga Inggris

Gaya permainan Arsenal meraih kemenangan menuju gelar juara Premier League mulai dikritik.

Bola.com, Jakarta - Sorakan paling keras dalam pertandingan yang berjalan membosankan ini justru muncul karena kabar dari tempat lain.

Arsenal baru saja mengamankan kemenangan tipis 1-0 di kandang Brighton & Hove Albion ketika kabar datang beberapa detik kemudian: Manchester City hanya bermain imbang di kandang melawan Nottingham Forest.

Hasil itu membuat Arsenal unggul tujuh poin di puncak klasemen Premier League dan kembali memegang kendali penuh atas perburuan gelar.

Optimisme langsung memuncak di kalangan suporter Arsenal yang datang ke stadion. Saat meninggalkan tribune, mereka bernyanyi penuh keyakinan:

"And now you will believe us, we're gonna win the league." (Dan sekarang kalian akan percaya pada kami, kami akan memenangkan liga)

Apakah keyakinan itu akan menjadi kenyataan, masih harus menunggu waktu. Namun, perubahan situasi seperti ini bisa saja menjadi momen penting dari sebuah laga yang sebenarnya hampir tak meninggalkan kesan.

Gol semata wayang Arsenal dicetak Bukayo Saka pada menit kesembilan. Tembakannya yang relatif lemah sempat mengenai sedikit tubuh gelandang Brighton, Carlos Baleba, sebelum masuk ke gawang.

Meski begitu, kiper Bart Verbruggen juga dianggap kurang maksimal dalam upaya penyelamatannya.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Pendekatan Bikin Lawan Frustrasi

Setelah unggul, Arsenal lebih banyak bermain pasif. Mereka tampak puas memperlambat tempo permainan serta menjaga energi dan penguasaan bola, pendekatan yang sejak awal membuat Brighton frustrasi.

Pelatih Brighton, Fabian Hurzeler, bahkan sudah menyinggung hal itu sebelum laga dimulai. Ia menyoroti lamanya waktu yang dibutuhkan Arsenal untuk memulai kembali permainan, khususnya dari situasi sepak pojok.

Pesan itu tampaknya sampai ke telinga suporter tuan rumah. Setiap kali Arsenal lambat melakukan restart, baik dari tendangan gawang, sepak pojok, maupun bola mati lainnya, sorakan ejekan langsung terdengar dari tribune.

Kiper Arsenal, David Raya, beberapa kali terlihat menjatuhkan diri ke lapangan hingga akhirnya mendapat peringatan dari wasit Chris Kavanagh karena dianggap membuang waktu.

Ketegangan pun memuncak di pinggir lapangan. Hurzeler sempat memprotes ofisial keempat, David Webb, bahkan terlibat adu kata dengan manajer Arsenal, Mikel Arteta, di pertengahan babak pertama.

Bek Arsenal, Piero Hincapie, juga terlihat memberi isyarat "diam" kepada Hurzeler saat hendak melakukan lemparan ke dalam di dekat bangku cadangan Brighton menjelang turun minum.

Suasana panas itu berlanjut di babak kedua, terutama setelah Brighton mendapat energi baru lewat masuknya Yankuba Minteh dari bangku cadangan.

 

Perbaikan Manajemen Permainan

Namun, Arteta sebelumnya memang menyoroti perlunya Arsenal memperbaiki manajemen permainan mereka setelah beberapa penampilan babak kedua yang goyah. Kali ini, setidaknya untuk 20 menit terakhir, mereka mampu mengendalikan situasi dengan cukup baik hingga peluit akhir.

Hasil akhirnya mungkin membenarkan cara yang ditempuh Arsenal. Akan tetapi, ketika ungkapan itu disampaikan kepada Hurzeler, ia justru melontarkan kritik keras terhadap pendekatan permainan tim tamu.

"Ada berbagai cara untuk menang," katanya.

"Jika mereka menjuarai Premier League, tidak akan ada yang bertanya bagaimana mereka memenangkannya."

"Terlihat jelas mereka melakukan apa saja untuk memenangi pertandingan ini. Pada akhirnya, ini soal aturan. Jika Premier League, jika wasit membiarkan semuanya terjadi, maka itu menjadi sulit. Mereka membuat aturan mereka sendiri," cetus pelatih muda asal Jerman itu.

Hurzeler juga menyoroti soal potensi hukuman bagi kiper yang dianggap membuang waktu.

"Apakah Anda ingin mengusir kiper dengan dua kartu kuning karena membuang waktu? Itu tidak akan pernah terjadi. Jadi, apa yang seharusnya dia lakukan? Itulah masalahnya, dan itulah mengapa kita membutuhkan aturan dan batasan," ujarnya.

Menurut Hurzeler, bahkan wasit Kavanagh sempat mengakui hal itu saat jeda pertandingan.

"Itu juga yang dia akui kepada saya saat halftime. Kami berbicara tentang bagaimana dia bisa mengurangi waktu yang terbuang, dan dia bilang sebenarnya tidak sulit baginya. Kami butuh aturan yang jelas agar wasit juga terlindungi. Mereka harus berpegang pada sesuatu dan Premier League harus lebih membantu mereka," ungkap pelatih berusia 33 tahun itu.

 

Kritikan Lawan

Kritik pelatih Brighton itu tidak berhenti di situ. Ia tetap memuji cara timnya bermain dan bahkan menilai hanya ada satu tim yang benar-benar mencoba bermain sepak bola dalam laga tersebut.

"Saya tidak akan pernah menjadi pelatih yang mencoba menang dengan cara seperti itu," katanya.

"Saya ingin mengembangkan pemain. Saya ingin mereka terus berkembang dan bermain sepak bola di lapangan. Pada akhirnya setiap tim akan mengatur tempo dan membuang waktu, tetapi menurut saya harus ada batasnya."

"Saya tidak yakin jika kita bertanya kepada semua orang di ruangan ini, 'Apakah mereka benar-benar menikmati pertandingan sepak bola ini?' Mungkin hanya satu orang yang mengangkat tangan karena dia penggemar berat Arsenal. Selain itu, tidak mungkin," lanjutnya.

Ia juga mempertanyakan arah sepak bola ke depan jika situasi seperti ini terus terjadi.

"Ke mana ini akan mengarah di masa depan? Itu pertanyaan saya. Satu pertandingan kita bermain 60 menit waktu efektif, lalu ketika melawan Arsenal hanya 50 menit. Ada selisih 10 menit, apakah ini yang dibayar oleh para suporter?"

 

Tanggapan Arsenal

Arteta enggan menanggapi panjang lebar kritik tersebut.

"Betapa mengejutkannya," kata Arteta singkat ketika isi keluhan Hurzeler disampaikan kepadanya.

Brighton mungkin gagal menghentikan laju Arsenal dalam perburuan gelar, tetapi pertandingan ini menambah suara bising yang mengiringi perjalanan Meriam London dalam beberapa pekan ke depan.

Selain kritik terhadap ketergantungan mereka pada situasi bola mati, kini muncul pula kecaman terbuka soal kebiasaan membuang waktu, sesuatu yang kemungkinan akan terus disorot oleh lawan maupun suporter tuan rumah.

Arteta menyebut semua itu sebagai "kebisingan dari luar" dalam upaya Arsenal mengejar gelar liga pertama sejak 2004.

Namun, ketika semuanya berakhir, Arsenal tetap bisa melihat malam ini sebagai momen penting: mereka memperlebar jarak di puncak klasemen sekaligus menambah tekanan kepada Manchester City.

Dan jika pilihannya adalah mencari teman atau meraih gelar juara, bagi Arsenal jawabannya jelas, tidak ada yang perlu diperdebatkan.

 

Sumber: ESPN

Video Populer

Foto Populer