Sukses


Menengok Kembali MotoGP 2017, Valentino Rossi Alami Tren Negatif di Yamaha

Bola.com, Jakarta - Valentino Rossi telah tampil selama 24 tahun dalam karier balap motor, termasuk di kelas 125cc dan 250cc. Setelah masuk kelas utama 500cc yang kemudian berganti menjadi kelas MotoGP, Rossi sudah membela tiga tim berbeda, termasuk Yamaha yang kini masih dibelanya.

Dengan total 9 kali menjadi juara dunia sejak tampil di kelas 125cc, predikat The Doctor memang pantas disematkan kepada Valentino Rossi. Penampilannya pun selalu dinantikan oleh penggemar MotoGP di seluruh dunia pada setiap musimnya.

Dari 14 musim bersama Yamaha dalam dua periode, Valentino Rossi berhasil empat kali meraih gelar juara dunia MotoGP. Namun, ada satu momen di mana Rossi kehilangan performa terbaiknya dalam satu musim, yaitu MotoGP 2017.

Pada tiga musim sebelumnya mulai dari 2014 hingga 2016, Valentino Rossi selalu bersaing ketat di papan atas meski selalu menjadi runner-up di akhir musim. Namun, 2017 menjadi kemunduran besar bagi Rossi yang finis di posisi kelima pada akhir musim.

Secara statistik memang Valentino Rossi tidak tampil bagus pada musim itu. Satu kemenangan dari total 18 balapan menjadi bukti Rossi kalah kelas dari Marc Marquez, Andrea Dovizioso, Maverick Vinales, dan Dani Pedrosa.

Padahal, Valentino Rossi mengawali musim dengan sangat baik, di mana ia meraih podium dalam tiga balapan pertamanya. Namun, dalam empat balapan berikutnya Rossi terbuang dari tiga besar, termasuk ketika gagal finis di Prancis.

Satu-satunya kemenangan pada musim 2017 diraih Rossi di TT Assen. Setelah itu, dalam 10 seri berikutnya yang digelar, Rossi hanya meraih dua kali podium dan menyelesaikan musim dengan mengoleksi 208 poin, terpaut 90 poin dari Marquez yang menjadi juara dunia.

Saat itu, Valentino Rossi menyebut setelan motor Yamaha YZR-M1 yang digunakannya benar-benar tidak sesuai harapan. Faktor tersebut menjadi kendala utama The Doctor pada musim 2017.

 

2 dari 4 halaman

Musim yang Mengerikan

Kepala mekanik Valentino Rossi, Silvano Galbusera, mengungkapkan saat itu performa YZR-M1 memang menjadi kendala utama. Bahkan menurutnya, musim 2017 memang musim yang sangat mengerikan.

"Itu musim yang mengerikan. Pada 2016, Valentino merasa senang dengan motornya, tapi kami lemah pada ban belakang di lima atau enam lap akhir," kata Kepala mekanik Rossi, Silvano Galbusera, dilansir Speedweek.

"Untuk 2017, Yamaha memodifikasi motor untuk mengimbangi ban. Ini berjalan dengan baik pada beberapa lintasan, tapi Valentino kehilangan feel hingga tidak masuk ke tikungan dengan cepat. Data tidak menjelaskan hal itu dengan baik, tapi penjelasan itu datang dari sang pembalap," lanjutnya.

Valentino Rossi memang sempat mengeluhkan beberapa hal yang dianggap menjadi penghambat laju motornya pada musim itu. Performa ban Michelin dianggap tidak menyatu dengan mesin yang dimiliki YZR-M1. 

Rossi juga sempat bicara soal sasis dan mesin 2016 yang jauh lebih baik dari 2017. Itu mengapa pembalap Yamaha Tech 3, Johann Zarco, yang menggunakan sasis dan mesin 2016, kerap tampil lebih baik dari Rossi saat itu.

"Mesin 2016 lebih muda dikendarai, ban memberikan feedback yang lebih baik, jadi Anda bisa melaju lebih kencang. Namun, dengan sasis 2016, kami terlalu banyak menderita pada ban belakang. Kembali di awal 2017, kami sadar bahwa motornya tak 100% kompatibel dengan Valentino," ungkap Galbusera.

3 dari 4 halaman

Bukan yang Terburuk dalam Sepanjang Karier

Namun, musim 2017 bukanlah musim terburuk Valentino Rossi dalam karier MotoGP yang telah dilaluinya. Valentino Rossi pernah menjalani musim tanpa satupun kemenangan, yaitu selama dua musim mengendarai Ducati, dan dalam dua musim terakhir bersama Yamaha.

Bisa dibilang keputusan Valentino Rossi membela Ducati pada musim 2011 dan 2012 adalah sebuah perjudian yang tidak berhasil. Rossi membela Ducati yang merupakan pabrikan dari negara asalnya Italia.

Alih-alih menyatu dengan baik, Rossi justru tidak bisa memperlihatkan performa terbaik. Pada musim 2011 Valentino Rossi hanya satu kali meraih podium ketiga dalam sepanjang musim dan finis di posisi ketujuh pada akhir musim.

Sementara pada musim keduanya bersama Ducati, Rossi finis dengan posisi lebih baik, yaitu posisi keenam dengan torehan dua kali meraih podium kedua dalam sepanjang musim. Valentino Rossi pun memutuskan untuk kembali ke Yamaha pada musim selanjutnya.

Namun, setelah kembali ke Yamaha, tak selamanya manis bagi Valentino Rossi. Hingga saat ini, pembalap asal Italia itu belum kembali menjadi juara dunia. Bahkan dalam dua musim terakhir, 2018 dan 2019, The Doctor seakan sudah kehilangan sentuhannya dengan tanpa meraih satu kemenangan pun sepanjang musim.

4 dari 4 halaman

Video

Video Populer

Foto Populer