Jorge Lorenzo Sebut MotoGP Butuh Rivalitas: Kok Sekarang Semua Pembalap Berteman Sih

Jorge Lorenzo dikenal bukan hanya karena prestasinya di lintasan, tetapi juga rivalitas sengit yang mewarnai perjalanan kariernya di MotoGP.

Bola.com, Jakarta - Jorge Lorenzo dikenal bukan hanya karena prestasinya di lintasan, tetapi juga rivalitas sengit yang mewarnai perjalanan kariernya di MotoGP.

Juara dunia MotoGP tiga kali itu mengakui dirinya terlibat dalam sejumlah konflik panas, baik dengan rekan setim maupun sesama pembalap asal Spanyol.

Salah satu rivalitas paling terkenal terjadi saat Jorge Lorenzo menjadi rekan setim Valentino Rossi di Yamaha. Ketegangan di antara keduanya disebut berada pada level ekstrem.

Bahkan, pada periode pertama mereka bersama, tim Yamaha sampai harus memasang sekat di garasi demi meredam konflik internal.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 4 halaman

Rivalitas Lorenzo dengan Pembalap Lain

Tak hanya dengan Rossi, hubungan Lorenzo dengan rekan senegaranya asal Spanyol Dani Pedrosa juga jauh dari kata harmonis.

Rivalitas keduanya telah berlangsung sejak usia remaja dan mencapai puncaknya pada musim 2008. Saat itu, Pedrosa secara terbuka menolak berjabat tangan dengan Lorenzo di Jerez, sebuah momen yang mempertegas panasnya persaingan di antara mereka.

"Ada titik di mana ketegangan dengan Dani Pedrosa menjadi tak tertahankan," ujar Lorenzo kepada DAZN tahun lalu, dikutip dari Mundo Deportivo.

"Kami saling melempar pernyataan di media, halaman depan penuh dengan kebencian murni. Saat itu, semua orang membicarakan rivalitas kami," tambahnya. 

 

 

 

 

 

3 dari 4 halaman

Lorenzo Prihatin: Kini Semua Pembalap Berteman

Dalam wawancara terpisah dengan Moto.IT, Lorenzo juga menyampaikan keprihatinannya terhadap perubahan yang ia lihat di MotoGP saat ini. Menurutnya, MotoGP membutuhkan rivalitas sengit agar tetap hidup dan menarik.

Belum lama ini, MotoGP merilis sebuah dokumenter yang mengulas kembali drama MotoGP Malaysia 2015, momen meledaknya konflik besar antara Marc Marquez dan Valentino Rossi. Hingga kini, bertahun-tahun setelah Rossi pensiun, keduanya masih belum berdamai.

Namun, situasi tersebut sangat berbeda dengan kondisi paddock MotoGP saat ini, di mana mayoritas pembalap justru terlihat memiliki hubungan yang akrab dan bersahabat.

"Sekarang para pembalap semuanya berteman, saling memuji, saling bilang ‘kamu hebat, kamu nomor satu’," kritik Lorenzo. "Menurut saya, olahraga ini membutuhkan rivalitas. Kalau semuanya berteman, tensinya hilang," lanjutnya. 

4 dari 4 halaman

Soal Sosok Pedro Acosta

Meski begitu, Lorenzo menilai masih ada beberapa pembalap yang mempertahankan mentalitas kompetitif ekstrem. Ia secara khusus menyoroti Pedro Acosta.

"Pedro Acosta adalah pmebalap yang saya sukai karena dia datang bukan untuk mencari teman. Marc juga seperti itu, kalau mau jujur. Tapi yang paling ekstrem adalah Acosta," tegas Lorenzo.

Pandangan Lorenzo ini kembali memicu perdebatan: apakah MotoGP modern memang terlalu “ramah”, atau justru telah menemukan wajah baru yang lebih profesional tanpa kehilangan daya tariknya?

Sumber: Motogpnews 

Video Populer

Foto Populer