Veda Ega Pratama Pilih Nikmati Akhir Pekan di Mandalika, Ogah Terbebani Ekspektasi

Jelang Moto3 Indonesia 9–11 Oktober 2026, Veda Ega Pratama menegaskan ingin menikmati tiap sesi di Mandalika tanpa tekanan target, fokus pada start dan ban.

Bola.com, Jakarta - Veda Ega Pratama menyadari ekspektasi publik jelang Moto3 Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika. Pembalap Honda Team Asia itu memahami harapan podium bahkan kemenangan pada balapan kandang.

Gelaran Moto3 Indonesia dijadwalkan 9–11 Oktober. Ajang ini kian dinanti karena Indonesia memiliki dua wakil di Kejuaraan Dunia Balap Motor musim ini: Veda di Moto3 dan Mario Suryo Aji di Moto2.

Dalam situasi tersebut, Veda memilih untuk menikmati setiap sesi dan tidak memasang target yang membebani. "Pastinya masyarakat Indonesia pengennya podium lah, menang lah. Pastinya setiap rider ingin podium. Cuma saya gak mau ngasih pressure, gak mau bebani diri saya sendiri," ujar Veda dalam acara Road to Mandalika di Menteng, Jakarta, Senin (5/10/2026).

Menurutnya, kunci akhir pekan ada pada konsistensi sejak hari pertama, mulai dari latihan hingga race, baru kemudian melihat hasil pada Minggu.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Evaluasi usai Motegi untuk Mandalika

Veda datang ke Mandalika setelah menjalani balapan Moto3 Jepang di Motegi. Pada seri tersebut, pembalap berusia 17 tahun itu finis di posisi ke-11 dan mengamankan lima poin.

Catatan tersebut menjadi modal untuk menghadapi balapan kandang. Ia berharap berbagai hal positif dari Motegi bisa terbawa ke Mandalika dan seri-seri berikutnya.

"Setiap balapannya saya mencari setting-an terbaik di motor dan juga ada perubahan cara balap juga. Kemarin juga pasti ada positifnya dari balapan," kata Veda.

Ia menambahkan, persiapan menuju Mandalika dilakukan seperti seri-seri sebelumnya. Tidak ada strategi khusus hanya karena status sebagai home race.

"Strategi khusus enggak ada, ya seperti balapan-balapan sebelumnya. Seperti biasa di hari Jumat ada latihan dua sesi dan saya harap minggu ini saya bisa mendapatkan setting-an terbaik di hari Jumat," ujar Veda.

Setelah itu, ia ingin memaksimalkan sesi kualifikasi demi posisi start yang bagus. Menurutnya, letak di grid sangat menentukan peluang bersaing di barisan depan saat balapan.

Start dan Grid Jadi Fokus Veda

Veda mengakui beberapa balapan sebelumnya berjalan sulit karena memulai dari posisi yang kurang ideal. Kondisi tersebut memaksanya bekerja ekstra sejak lap-lap awal untuk memperbaiki posisi.

"Karena memang beberapa balapan sebelumnya karena startnya kurang bagus, posisi start, dan di race saya bakal tinggal push sampai finis," ucapnya.

Pengalaman itu membuatnya berharap bisa meraih posisi grid yang lebih baik di Mandalika. Start dari barisan depan diyakini membuka peluang untuk menjalani balapan yang lebih tertata.

"Saya sendiri kemarin di Motegi, Austria, Misano memang kesusahan karena saya harus benar-benar start bagus. Di awal-awal balapan harus agak nge-push, walaupun akan limit, pasti harus benar-benar extra nge-push di awal-awal balapan," tutur Veda.

Karena itu, fokusnya bukan hanya kecepatan saat race. Ia menekankan pentingnya memaksimalkan sesi latihan dan kualifikasi agar tidak kembali menghadapi pekerjaan berat sejak awal lomba.

Manajemen Ban di Mandalika

Selain posisi start, Veda menaruh perhatian pada manajemen ban di Mandalika. Ia belum mengetahui secara pasti seperti apa kondisi lintasan dan temperatur pada akhir pekan nanti.

Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, penggunaan ban diperkirakan menjadi aspek penting di Sirkuit Mandalika.

"Kita juga belum tahu kondisi sirkuit dan suhu di sana seperti apa. Tapi bayangan kami dari tahun-tahun sebelumnya pasti akan sangat menggerus ban-ban," kata Veda.

Menurutnya, tim perlu memahami karakter ban sejak sesi latihan pertama. Pemakaian ban akan dipantau untuk melihat seberapa besar penurunan performanya sepanjang race distance.

"Biasanya dari hari Jumat practice pertama harinya cuma pakai satu set ban agar tahu bagaimana nanti tire distance-nya selama balapan. Jadi kita harus memahami betul-betul feeling atau drop tire selama race distance itu dari mulai practice pertama," ujar Veda.

Ia juga menyebut beberapa bagian Sirkuit Mandalika yang krusial untuk manuver, seperti Tikungan 10 dan Tikungan 16, yang berpotensi menjadi titik pertarungan pada lap-lap terakhir.

Seirama dengan Mario Suryo Aji

Mario Suryo Aji mengusung pendekatan serupa saat menyambut home race. Pembalap Idemitsu Honda Team Asia itu tidak ingin terlalu terbawa ekspektasi untuk meraih hasil tertentu.

Target utamanya adalah menuntaskan sisa musim dengan performa lebih baik. Setiap sesi di Mandalika menjadi kesempatan menambah pengalaman sekaligus memberi masukan kepada tim.

Musim 2026 bukan perjalanan mudah bagi Mario. Cedera sempat mengganggu, sehingga ia ingin memaksimalkan sisa seri untuk kembali menunjukkan potensi terbaiknya.

"Karena ini sudah tahun ketiga, jadi targetnya menyelesaikan sisa musim ini dengan performa yang baik, biar kita bisa dapat feedback dan kasih feedback juga ke tim. Full potensi Mario di atas motor," kata Mario.

Mario juga menilai pendekatan yang lebih halus menjadi kunci menghadapi karakter Sirkuit Mandalika. Ia menyebut filosofi timnya adalah less is more, terutama pada lintasan dengan banyak tikungan mengalir.

"Tim saya selalu bilang less is more. Karena mungkin semakin nge-push motor, semakin ga kekontrol. Lebih ke teknik aja sih, teknik dan memahami cara kayak bawa motor itu," ujar Mario.

"Banyak masyarakat Indonesia yang menaruh ekspektasi untuk kami berdua, tentu itu sangat memotivasi kami. Tapi tujuan utama kami adalah enjoy seperti Veda bilang tadi dan menikmati setiap sesinya."

Video Populer

Foto Populer