Menyusuri Jejak Sport Tourism dari Women’s Soccer Trilogy: Ketika Sepak Bola Putri Menggerakkan Masyarakat Kudus

Tiga bulan secara berturut-turut, dari Juni hingga Agustus 2026, Kudus menjadi panggung tiga turnamen sepak bola putri yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation dalam rangkaian Women’s Soccer Trilogy.

Bola.com, Kudus - Ada yang berbeda di Kabupaten Kudus sepanjang pertengahan 2026. Bukan hanya pertandingan sepak bola putri yang hadir di lapangan, tetapi juga rombongan atlet, pelatih, orang tua, ofisial, hingga wisatawan yang ikut memenuhi jalanan, hotel, tempat makan, dan pusat-pusat ekonomi masyarakat.

Tiga bulan secara berturut-turut, dari Juni hingga Agustus 2026, Kudus menjadi panggung tiga turnamen sepak bola putri yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation dalam rangkaian Women’s Soccer Trilogy.

Trilogi tersebut dimulai dari MilkLife Soccer Challenge All-Stars pada 23-28 Juni 2026, dilanjutkan HYDROPLUS Soccer League All-Stars pada 5-12 Juli 2026, dan kemudian mencapai puncaknya melalui Srikandi Merdeka Cup persembahan Caffino pada 14-23 Agustus 2026.

Tiga turnamen itu membuat Kudus bukan sekadar menjadi venue pertandingan. Kota ini perlahan menunjukkan wajah baru sebagai destinasi sport tourism, tempat olahraga, hiburan, budaya, dan aktivitas ekonomi masyarakat bertemu dalam satu rangkaian.

Fenomena tersebut bukan hanya membuat bangga pemerintah Kabupaten Kudus sebagai tuan rumah. Ada roda ekonomi yang ikut berputar.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Dari Lapangan Sepak Bola, Ekonomi Kudus Ikut Bergerak

Ketika para pemain datang ke Kudus, kebutuhan mereka tidak berhenti di lapangan sepak bola.

Mereka membutuhkan tempat menginap, transportasi, makanan, hingga berbagai kebutuhan selama berada di kota tersebut.

Di sisi lain, keluarga pemain dan suporter yang ikut datang juga menambah geliat aktivitas ekonomi di berbagai sektor.

Bupati Kudus, Sam'Ani Intakoris, melihat langsung dampak tersebut selama berlangsungnya rangkaian Women’s Soccer Trilogy.

"Sport tourism ini dampaknya sangat luar biasa. Keramaian ini disambut masyarakat. Dampaknya tidak hanya di hotel, tapi juga di homestay, kemudian catering, sewa kendaraan laku, termasuk UMKM," ujar Sam'ani.

Menurutnya, para tamu yang datang ke Kudus juga memiliki kesempatan untuk mengenal kuliner khas.

"Mereka yang datang pasti mencoba makanan khas di Kabupaten Kudus dan tentu ini turut meningkatkan pendapatan kita," lanjutnya.

Program Director Srikandi Merdeka Cup, Teddy Tjahjono (kedua dari kiri), bersama Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin (paling kiri), mendampingi Bupati dan Wakil Bupati Kudus, Sam'ani Intakoris dan Bellinda Putri Sabrina Birton, saat hadir di Srikandi Fair yang berlangsung di Lapangan Rendeng, Kudus, Senin (17/8/2026). (Bola.com/Benediktus Gerendo Pradigdo)

Dampak tersebut terasa semakin besar ketika Srikandi Merdeka Cup digelar pada 14-23 Agustus, bertepatan dengan momentum perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kehadiran tim dari enam negara sahabat, yakni Arab Saudi, Yordania, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Hong Kong, membuat Kudus mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan diri lebih jauh.

"Ini jadi sebuah keberkahan dan rahmat untuk Kabupaten Kudus, di mana Kabupaten Kudus sebagai sport tourism city terangkat ekonominya, terangkat prestasinya, ketika merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia," kata Sam'ani saat membuka Srikandi Fair, 17 Agustus 2026.

Ia menyebut hotel penuh, kendaraan sewaan ramai, makanan laris, dan UMKM mendapatkan kesempatan untuk beraktivitas. Harapan yang kemudian muncul sederhana: kegiatan semacam ini tidak berhenti pada satu turnamen.

Tiga Turnamen, Satu Perjalanan Menuju Sport Tourism

Women’s Soccer Trilogy memberikan pola yang menarik bagi Kudus.

MilkLife Soccer Challenge All-Stars menjadi pembuka pada Juni. Turnamen tersebut mempertemukan talenta-talenta muda hasil kompetisi pembinaan sepak bola putri KU10 dan KU12 yang berlangsung di 12 kota penyelenggara.

Kemudian, pada Juli, HYDROPLUS Soccer League All-Stars hadir. Kompetisi ini menampilkan pemain pada jenjang yang lebih tinggi dan mempertemukan talenta-talenta yang telah mendapatkan pengalaman bermain secara lebih intensif bersama klub atau SSB masing-masing.

Puncaknya hadir melalui Srikandi Merdeka Cup persembahan Caffino pada Agustus. Turnamen ini membawa sepak bola putri ke level internasional dengan mempertemukan dua tim Indonesia dengan enam tim dari negara Asia serta Timur Tengah.

Akademi Persib Bandung (jersey putih biru) meredam perlawanan Putri JP Jakarta (jersey merah) dengan skor tipis 2-1 di laga semifinal U-18 HYDROPLUS Soccer League All-Stars 2025/2026 yang berlangsung di Supersoccer Arena Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (11/7/2026). Hasil tersebut membawa Akademi Persib Bandung melaju ke babak final yang akan tersaji Minggu (12/7/2026). (Bola.com/Nirmatuloh Efendi)

Bagi Teddy Tjahjono, Program Director MilkLife Soccer Challenge, HYDROPLUS Soccer Challenge, dan Srikandi Merdeka Cup, sekaligus perwakilan Bakti Olahraga Djarum Foundation, rangkaian itu bukan sekadar tiga turnamen yang kebetulan digelar di kota yang sama.

Ada kesinambungan di dalamnya.

"Tadi di jalan melihat teman-teman dari SMP 3 Kudus membawa poster dua pemain yang berasal dari SMP 3 Kudus, yaitu Asyifa dan Della. Tentu sangat membanggakan bagi warga Kudus, bagi sekolahnya, bagi teman-teman, bahwa ada produk dari MilkLife Soccer Challenge main di HYDROPLUS Soccer League dan kini sudah bermain dengan seragam timnas Indonesia," ujar Teddy saat ditemui ketika Srikandi Merdeka Cup berlangsung.

Duel Garuda Pertiwi vs Thailand di final Srikandi Merdeka Cup persembahan Caffino, Minggu (23/8/2026) malam WIB. Thailand menjadi juara setelah menang 1-0 atas Garuda Pertiwi. (Bola.com/Nirmatuloh Efendi)

Hampir seluruh pemain tim Indonesia yang tampil dalam rangkaian Srikandi Merdeka Cup merupakan produk dari HYDROPLUS Soccer League.

Artinya, ada jalur yang mulai terbentuk: pemain dibina sejak usia muda, mendapatkan kesempatan bertanding, naik ke jenjang berikutnya, kemudian memiliki peluang mengenakan seragam Timnas Indonesia.

Kudus tidak hanya menjadi lokasi pertandingan. Kota ini menjadi bagian dari perjalanan para pemain menuju level yang lebih tinggi.

Ketika Stadion Penuh, Kota Ikut Menjadi Panggung

Salah satu pemandangan yang menarik selama Srikandi Merdeka Cup persembahan Caffino adalah antusiasme masyarakat.

Pertandingan sepak bola putri tidak lagi hanya menjadi konsumsi komunitas olahraga. Masyarakat Kudus ikut datang dan menyaksikan langsung pertandingan.

Bahkan ketika Srikandi Fair digelar, animo masyarakat terlihat dari banyaknya warga yang hadir.

Pemerintah Kabupaten Kudus mencoba menjadikan momentum tersebut sebagai bagian dari promosi sport tourism.

Pada 17 Agustus, misalnya, jajaran pemerintah daerah bersama masyarakat mengikuti pawai dari kawasan kota menuju Supersoccer Arena sekaligus membuka Srikandi Fair yang digelar di Lapangan Rendeng yang tepat berada di depan Supersoccer Arena.

Suasana Srikandi Fair di Lapangan Rendeng, Kudus, Jawa Tengah, ketika Garuda Pertiwi bertanding melawan Hong Kong pada laga ketiga Grup A Srikandi Merdeka Cup persembahan Caffino di Supersoccer Arena, Selasa (18/8/2026). (Bola.com/Benediktus Gerendo Pradigdo)

Srikandi Fair menjadi ruang pertemuan antara pertandingan, UMKM, kuliner, dan hiburan. Masyarakat tidak hanya datang untuk menonton sepak bola, tetapi juga menikmati suasana yang tercipta di sekitar turnamen.

Sam'Ani menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya mengampanyekan sport tourism sekaligus menunjukkan bahwa sepak bola putri juga memiliki tempat di masyarakat.

"Kami tadi jalan kaki saat pawai, mengampanyekan sport tourism dari Women's Soccer Trilogy agar masyarakat juga mulai melihat bahwa perempuan juga punya hak untuk bermain sepak bola," tuturnya.

Bagi Teddy, dukungan pemerintah daerah menjadi bagian penting dari keberhasilan penyelenggaraan.

Ia mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Kudus yang ikut mendukung rangkaian kegiatan, termasuk ketika pawai membuat sejumlah ruas jalan harus ditutup sementara.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati dan jajarannya yang sangat mendukung kegiatan kita ini, sehingga kegiatan ini bisa berjalan lancar sampai hari ini," kata Teddy.

Dalam suasana seperti itu, olahraga kemudian bertemu dengan hiburan dan aktivitas masyarakat.

Dari Mata Pemain Asing, Kudus Punya Cerita Sendiri

Dampak sebuah turnamen internasional tidak selalu bisa diukur dengan jumlah penonton atau tingkat hunian hotel. Ada pula pengalaman yang dibawa pulang oleh para pemain yang datang dari negara lain.

Bagi mereka, Srikandi Merdeka Cup bukan hanya tentang pertandingan selama berada di lapangan. Mereka juga mendapatkan kesempatan mengenal Kudus dari dekat.

Salah satunya adalah Keisha Adeliena binti Muhammad Khalid, pemain asal Malaysia. Keisha merasa Kudus memiliki suasana yang cukup familiar baginya karena kemiripan dengan Malaysia, terutama dari sisi cuaca dan keramahan masyarakat.

"Menurut saya, sini cukup mirip dengan Malaysia. Cuacanya mirip dengan Malaysia, dan saya juga menikmati makanannya. Di sini luar biasa dan orang-orangnya sangat bersahabat dan saya suka di sini," ujar Keisha kepada Bola.com.

Penyerang Timnas Putri U-16 Thailand, Miricah Shealagh Murdoch, ketika beraksi di Srikandi Merdeka Cup persembahan Caffino. (Bola.com/Nirmatuloh Efendi)

Pengalaman serupa dirasakan Miricah Shealagh Murdoch, pemain asal Thailand. Bagi Miricah, ketika berbincang dengan Bola.com, kesempatan datang ke Kudus memberikan pengalaman yang tidak hanya berharga dari sisi sepak bola.

"Saya pikir berada di sini, di Kudus, seperti luar biasa. Tempat ini bagus dan saya merasa beruntung bisa ada di sini," kata Miricah.

Ia juga memberikan apresiasi terhadap berbagai fasilitas yang tersedia selama turnamen.

"Fasilitas di sini luar biasa, turnamennya secara umum juga membuat setiap pemain merasakan pengalaman yang berharga di sini. Kemudian bus yang kami gunakan, hotel tempat kami menginap, dan makanannya. Saya suka makanan di sini."

Cerita Keisha dan Miricah memperlihatkan sisi lain dari sport tourism. Ketika seorang atlet datang ke sebuah kota untuk bertanding, pengalaman mereka tidak berhenti setelah pertandingan berakhir.

Mereka melihat fasilitas, mencoba makanan, menggunakan transportasi, berinteraksi dengan masyarakat, dan merasakan atmosfer kota.

Dan ketika mereka kembali ke negaranya, pengalaman itulah yang menjadi cerita tentang Kudus.

Kudus Bersiap Menjadi Rumah Baru Sepak Bola Putri

Wakil Bupati Kudus Bellinda Birton melihat rangkaian Women's Soccer Trilogy sebagai kesempatan bagi Kudus untuk semakin memantapkan posisinya sebagai kota olahraga.

Kudus selama ini telah dikenal luas sebagai salah satu daerah yang melahirkan atlet-atlet bulutangkis berprestasi.

Kehadiran rangkaian turnamen sepak bola putri memberikan peluang untuk memperluas identitas tersebut.

"Terima kasih untuk Djarum Foundation yang menyelenggarakan tiga event besar berskala nasional dan internasional dengan Supersoccer Arena Kudus yang jadi tuan rumah. Tentu hal ini menjadi pemantik bagi Kudus untuk terus berbenah dan siap menerima kehadiran atlet-atlet berbakat dari kota serta negara-negara lain," ujar Bellinda saat kick-off Women's Soccer Trilogy pada 21 Juni 2026.

Ia berharap Kudus tidak hanya dikenal sebagai kota bulutangkis, tetapi juga sebagai salah satu pusat pengembangan sepak bola putri Indonesia.

"Penyelenggaraan Women's Soccer Trilogy ini tentu memiliki dampak positif dalam menggerakkan perekonomian masyarakat, khususnya melalui UMKM. Selamat bertanding, kami akan menyambut dengan hangatnya keramahan dan indahnya budaya Kabupaten Kudus," imbuhnya.

Harapan tersebut sebenarnya sudah mulai terlihat.

Ketika atlet dan ofisial datang, kamar-kamar penginapan terisi. Ketika pertandingan berlangsung, kendaraan bergerak lebih ramai. Ketika masyarakat dan peserta mencari makanan, warung, restoran, katering, hingga UMKM mendapatkan pelanggan tambahan.

Dan ketika para tamu pulang, mereka membawa cerita tentang Kudus, seperti halnya yang dikatakan Keisha dan Miricah.

Lebih dari Sekadar Menjadi Tuan Rumah

Bagi Kudus, Women's Soccer Trilogy memberikan sebuah pelajaran penting, bahwa sport tourism bukan hanya tentang mendatangkan sebuah pertandingan, tetapi tentang bagaimana pertandingan itu meninggalkan dampak bagi kota yang menjadi tuan rumah.

MilkLife Soccer Challenge All-Stars, HYDROPLUS Soccer League All-Stars, dan Srikandi Merdeka Cup secara berurutan membawa kelompok masyarakat yang berbeda ke Kudus.

Anak-anak dan orang tua, pemain muda, pelatih, ofisial, hingga tim-tim internasional datang dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Pada akhirnya, yang tumbuh bukan hanya sepak bola putri.

Ada UMKM yang mendapatkan pelanggan baru. Ada pengusaha penginapan yang mendapatkan tamu. Ada pengemudi kendaraan yang memperoleh penumpang.

Ada pedagang makanan yang dagangannya semakin laris. Ada pula anak-anak Kudus yang melihat langsung pemain sepak bola putri dan mungkin mulai bermimpi menjadi seperti mereka.

Dan ada Keisha serta Miricah yang pulang dengan cerita tentang sebuah kota di Jawa Tengah yang mereka kenal melalui sepak bola.

Itulah nilai yang ingin dibangun melalui Women's Soccer Trilogy.

Bagi Teddy, sepak bola putri dan sport tourism bisa berjalan beriringan. Bagi Pemerintah Kabupaten Kudus, rangkaian turnamen itu menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kota sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.

Dan bagi para pemain yang datang dari luar negeri, Kudus bukan sekadar nama di daftar lokasi pertandingan.

Kudus menjadi tempat mereka bertanding, makan, menginap, berinteraksi, merasakan keramahan masyarakat, dan membawa pulang sebuah pengalaman.

Pada akhirnya, mungkin itulah makna sport tourism yang sesungguhnya: ketika pertandingan selesai, tetapi cerita dan dampaknya masih terus hidup jauh setelah para pemain meninggalkan lapangan.

Video Populer

Foto Populer