Mina Tenun di Sukarara: Pertamina Patra Niaga Dorong Ekonomi Penenun dan Akses Air Bersih

Pertamina Patra Niaga melalui AFT BIL hadirkan Galeri Mina Tenun di Sukarara, menguatkan ekonomi penenun dan memanfaatkan energi terbarukan untuk air bersih.

Bola.com, Jakarta - Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok (BIL) menghadirkan Galeri Mina Tenun di Desa Sukarara, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Inisiatif ini mengintegrasikan penguatan ekonomi perempuan penenun, pengembangan produk tenun, serta pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung akses air bersih.

Program Mina Tenun berangkat dari tantangan sosial dan ekonomi warga Sukarara, termasuk purna Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang sepulangnya ke kampung halaman terbatas akses pekerjaan dan penghasilan. Sektor tenun yang menjadi penopang keluarga juga terkendala nilai jual, modal, dan ketergantungan pada pengepul.

VP Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, menegaskan pemberdayaan harus menjawab kebutuhan nyata sekaligus memperkuat potensi ekonomi lokal.

“Melalui Galeri Mina Tenun, kami berupaya membuka akses ekonomi yang lebih baik bagi perempuan penenun, sekaligus mengembangkan potensi lokal melalui inovasi yang mengintegrasikan budaya dan energi terbarukan. Kami ingin perempuan penenun memiliki peluang untuk meningkatkan penghasilan dan membangun kemandirian ekonomi, sementara masyarakat juga dapat merasakan manfaat program dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui dukungan akses air bersih,” ujar Dian.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Mengatasi Keterbatasan Modal dan Pemasaran

Sebelum program berjalan, para penenun di Desa Sukarara menghadapi keterbatasan modal dan posisi tawar saat menjual hasil produksi. Sebagian penenun hanya menerima upah sekitar Rp 25.000 per lembar kain, sementara penjualan melalui pengepul membuat pembayaran bergantung pada kapan produk terjual sehingga perputaran modal untuk membeli bahan baku berikutnya terhambat.

Lewat Galeri Mina Tenun, para penenun memperoleh akses bahan baku, motif, dan alat tenun gedogan untuk mendukung proses produksi. Galeri ini juga membantu pemasaran, mempercepat penjualan, serta memberikan kepastian pembayaran segera setelah kain selesai diproduksi tanpa menunggu produk laku di konsumen akhir.

Dengan skema tersebut, penghasilan yang diterima penenun kini dapat mencapai minimal sekitar Rp750.000 per lembar setelah memperhitungkan modal kain. Perubahan ini diharapkan memperkuat pendapatan keluarga, meningkatkan kemandirian ekonomi perempuan, dan membuka peluang usaha bagi warga yang membutuhkan alternatif mata pencaharian.

Tidak berhenti pada pemberdayaan ekonomi, Pertamina Patra Niaga AFT BIL juga mengembangkan inovasi yang menghubungkan aktivitas menenun dengan kebutuhan dasar masyarakat, yaitu akses air bersih.

Kondisi kekeringan di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Barat turut memengaruhi kehidupan masyarakat Desa Sukarara. Keterbatasan pasokan air membuat sebagian rumah tangga harus mencari sumber air alternatif atau membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Inovasi Energi untuk Air Bersih

Untuk menjawab tantangan tersebut, program Mina Tenun mengembangkan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang dimodifikasi agar gerakan mekanis selama proses menenun dapat menghasilkan energi listrik. Daya ini dimanfaatkan untuk mengoperasikan pompa air dan sistem filtrasi, serta diperkuat pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) melalui bantuan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga.

“Bagi kami, inovasi sosial bukan hanya tentang menghadirkan teknologi baru, tetapi memastikan inovasi tersebut menjawab kebutuhan masyarakat. Melalui Mina Tenun, aktivitas menenun yang menjadi bagian dari budaya lokal dikembangkan untuk mendukung penghidupan perempuan sekaligus menghadirkan solusi bagi kebutuhan air bersih. Kami berharap program ini dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan,” tambah Dian.

Melalui Mina Tenun, Pertamina Patra Niaga mendorong pendekatan pemberdayaan yang mengintegrasikan pelestarian budaya, peningkatan nilai ekonomi produk lokal, dan pemanfaatan energi bersih. Program ini diharapkan menjadi model inovasi sosial berbasis potensi lokal yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Desa Sukarara.

Upaya tersebut sejalan dengan komitmen Pertamina Patra Niaga dalam menjalankan program TJSL yang berorientasi pada pemberdayaan ekonomi masyarakat, penguatan kelompok rentan, serta dukungan terhadap keberlanjutan lingkungan.

Video Populer

Foto Populer