Sukses


5 Superstar Terdahsyat Brasil di Piala Dunia: Dear Neymar, Kerja Keras Lagi Ya!

Bola.com, Jakarta - Ketika Timnas Brasil memenangkan Piala Dunia terakhirnya pada 2002, sebagian besar pemain yang ada saat itu masih anak-anak. Neymar berusia 10 tahun, Gabriel Jesus lima tahun, dan Fred sembilan tahun.

Neymar dan kawan-kawan tak hanya ditargetkan menjadi yang terbaik di Piala Dunia 2022 Qatar, tapi juga menjadi legenda seperti para pendahulu mereka.

Di Brasil, saat sepak bola menjadi agama kedua, Piala Dunia adalah harga mati. Artinya, seorang pemain baru sah dikatakan bintang sesungguhnya jika sudah pernah naik podium kehormatan pesta bola terakbar empat tahunan.

Neymar boleh-boleh saja panen gelar di level klub, tapi rakyat Brasil juga sangat mengharapkan tombak Paris Saint Germain (PSG) itu menorehkan catatan spesial di pentas tertinggi.

Sejak Piala Dunia digulirkan pada 1930 di Uruguay, Timnas Brasil sudah mengemas lima gelar juara dunia yakni edisi 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002. Dari rentetan kusuksesan itu, beberapa di antaranya dikenang sebagai immortal.

 

2 dari 6 halaman

Pele

Namanya panjang untuk diingat: Edson Arantes do Nascimento. Sejak kecil dia dipanggil O Rei (Raja).

Tak sedikit yang ketawa, bagaimana mungkin bocah asal Tres Coracoes yang hidup pas-pasan itu kelak menjadi raja?

Waktu berpacu, membentuk zaman. Dia benar menjadi raja, raja sepak bola. Pele adalah legenda abadi Tim Samba. Bersama Pele, Selecao menjadi yang terbaik di Piala Dunia 1958, 1962, dan 1970. Siapa yang menyamai Pele? Tidak ada. Setidaknya sampai saat ini.

 

3 dari 6 halaman

Rivellino

Pada suatu waktu, legenda Argentina, Diego Maradona, mengaku Rivellino adalah idolanya sejak kecil. El Pibe del Oro menjadikan gelandang kelahiran 1 Januari 1946 sebagai inpirasi.

Rivellino memang tak seagung Pele. Namun, sukses Brasil di Piala Dunia 1970 Meksiko tak lepas dari kontribusi besar Rivellino. Dia masuk daftar pencetak gol terbanyak dengan tiga lesakan.

Putra imigran Italia itu tak hanya dikenal kumisnya yang tebal, melainkan juga permainanya yang indah. Dia memainkan Jogo Bonito dengan sempurna. Seorang seniman lapangan yang punya visi, dribling, serta tembakan jarak jauh yang jitu.

 

4 dari 6 halaman

3. Romario

Kegagalan di Piala Dunia 1990 tak membuat Romario nelangsa. Empat tahun kemudian, dia membawa Brasil ke singgasana Piala Dunia 1994.

Nyaris tak tergantikan, Romario adalah nyawa Selecao. Mantan pilar Barcelona itu mengepak lima gol, termasuk sebiji lesakan saat mengalahkan Italia 3-2 dalam adu penalti. Saat itu dia berduet dengan juniornya, Ronaldo, yang kemudian dijuluki duo Ro-Ro.

 

5 dari 6 halaman

Rivaldo

Seperti halnya Romario, Rivaldo juga merupakan produk gagal di Piala Dunia 1998. Di final, Rivaldo cs diremukkan tuan rumah Prancis tiga gol tanpa balas.

Meski begitu, gelandang pengangkut air itu masih masuk starting XI empat tahun berselang di Korea Selatan-Jepang. Rivaldo mencetak gol dalam setiap pertandingan hingga perempat final.

Belajar dari kegagalan, Brasil kembali ke jalur juara setelah melibas Jerman 2-0 di partai puncak yang berlangsung ketat.

 

6 dari 6 halaman

Ronaldo

Di masa jayanya, dia benar-benar tak terbendung. Ronaldo menjadi salah satu striker paling mematikan di dunia, mampu mengalahkan pemain bertahan dan kiper dengan gerakan serta kecepatan kilat.

Tanda-tanda kebintangannya sudah terlihat saat berusia 17 tahun. Dia lalu masuk skuad Piala Dunia 1994. Meski tak pernah diturunkan, Ronaldo suskes mencolong perhatian via pemberitaan.

Pada 1998 dia meledak. Sayang, Brasil gagal di partai pamungkas. Ronaldo and kolega ditekuk Prancis 0-3.

Ronaldo baru benar-benar mengamuk di Piala Dunia 2002. Melaju ke final, Sang Fenomenal tampil sebagai pahlawan sekaligus penentu kemenangan Brasil atas Jerman. Berakhir 2-0, sepasang gol armada Luiz Felipe Scolari dilesakkan Ronaldo.

Sumber: Bleacherreport 

Video Populer

Foto Populer